Riuh rendah perdebatan mengenai potongan video Ustadz Hadi Nur Ramadhan yang mempersoalkan anak muda Minang yang mengagumi Tan Malaka sebenarnya sudah cukup lama berseliweran di lini masa. Saya tahu, saya terhitung terlambat untuk ikut larut dalam gelombang balas-berbalas tulisan ini. Alasan keterlambatan ini sederhana dan sangat domestik: belakangan ini hari-hari saya habis di dapur, sibuk membantu orang tua mengaduk adonan dan mencetak kerupuk. Namun, di sela-sela aroma minyak panas dan deru usaha rumahan itu pula, waktu saya juga tersita oleh tanggung jawab moral yang tak kalah penting, yakni sibuk merawat tradisi lisan pasambahan Adat Minangkabau di kampung halaman saya.
Lebih dari sekadar urusan merawat tradisi dan membantu usaha keluarga, catatan ini pada akhirnya harus tetap ditulis karena saya tidak ingin keduluan lagi oleh Ustadz Hadi Nur Ramadhan dalam merespon dinamika intelektual di sekeliling kita. Jika Ustadz Hadi begitu cekatan memproduksi narasi dari satu panggung ke panggung lain, maka izinkanlah saya yang baru sempat mencuci tangan dari sisa tepung kerupuk ini untuk mendudukkan perkara dengan kepala dingin, sebelum ingatan kolektif kita telanjur dijinakkan oleh potongan video berdurasi pendek.
Dalam potongan video pendek yang berseliweran tersebut yang sampai saat ini pun kita kesulitan menemukan video versi utuhnya agar bisa melihat konteksnya secara jernih Ustadz Hadi berujar dengan nada sangsi:
“Sekarang banyak anak-anak Minang yang mengagumi Tan Malaka. Dikit-dikit menganalisa satu bangsa satu negara dengan kaji pemikiran Tan Malaka. Tan Malaka ini kalau kita kaji pemikirannya belum selesai. Yang kedua belum bisa kita uji, kenapa? Karena Tan Malaka tidak pernah masuk di dalam dunia pemerintahan. Dia pernah aktif di dalam PKI, iya. Kemudian dia keluar. Dia pernah aktif di dalam Partai Murba, tapi itu partai kecil. Tapi kalau kita lihat seperti kaliber Natsir; dia politisi, dia negarawan, dia diplomat. Dia masuk ke jantung pemerintahan. Dia menjadi Menteri Penerangan. Dia pernah menjadi Perdana Menteri. Ya. Sehingga kata Bung Hatta ya, Sukarno tidak akan membaca surat jikalau surat itu dibaca oleh Natsir. Sukarno tidak akan men-draft surat, ya dalam pidato-pidato taklimatnya, kalau itu tidak dibaca atau dikoreksi oleh Natsir.”
Melalui narasi tersebut, kita seolah-olah dihadapkan pada sebuah altar penghakiman yang kaku, di mana anak muda hari ini dipaksa untuk memilih iman politiknya secara mutlak: jika Anda menghormati Mohammad Natsir, Anda diwajibkan mengecilkan Tan Malaka. Dan jika Anda kedapatan membaca Madilog, Anda otomatis dianggap sedang berpaling dari keteladan moral sang pendekar mosi integral.
Dikotomi hitam-putih ini tidak hanya keliru secara logika, tetapi juga menyempitkan cakrawala berpikir anak muda. Mengapa ruang kepala generasi hari ini harus disekat oleh ego masa lalu yang bahkan sudah selesai dengan takdirnya masing-masing?
Bagi anak muda hari ini, membaca Tan Malaka sama sekali bukan berarti tidak membaca Natsir. Keduanya bukanlah sepasang musuh yang harus saling meniadakan dalam ingatan kolektif kita, melainkan dua guru bangsa yang menawarkan jalan berbeda dalam membaca Indonesia. Ketika anak muda membaca Tan Malaka, mereka sedang belajar tentang ketajaman nalar kritis, tentang sebuah asketisme yang ekstrem, dan bagaimana sebuah kedaulatan penuh (Merdeka 100%) dirumuskan dari balik jeruji besi tanpa pernah mengemis air mata dari sejarah. Mengatakan pemikiran Tan Malaka “belum selesai” atau “belum bisa diuji” hanya karena ia memilih jalur gerilya di luar birokrasi pemerintahan adalah sebuah penyempitan arti dari kata perjuangan itu sendiri. Apakah sebuah pemikiran hanya sah diuji jika sang pemikir duduk di kursi empuk kementerian?
Namun, di meja belajar yang sama, anak muda yang sama juga bisa membuka lembaran-lembaran pemikiran Mohammad Natsir. Dari Natsir, kita belajar tentang integrasi moralitas agama dalam ruang publik, tentang kesantunan berpolitik yang tiada banding, dan bagaimana sebuah mosi konstitusional yang cerdas mampu menyelamatkan keutuhan republik yang nyaris pecah berkeping-keping. Membaca Natsir adalah pelajaran tentang bagaimana merawat bangsa dengan keteguhan prinsip dan kelembutan adab di dalam jantung pemerintahan.
Lalu, di mana letak dosanya jika seorang anak muda mengagumi keliaran berpikir Tan Malaka sekaligus menghormati kedalaman spiritual dan ketatanegaraan Natsir?
Kekeliruan Ustadz Hadi dalam potongan video tersebut terletak pada kegagalannya melihat bahwa sejarah Indonesia tidak dibangun oleh satu warna tunggal. Republik ini adalah sebuah bangunan besar yang fondasinya digali oleh dialektika pemikiran yang multikultural dan multi-ideologi. Mencoba meruntuhkan nama Tan Malaka dengan dalih ia tidak pernah menjadi menteri atau perdana menteri demi meninggikan Natsir adalah sebuah upaya tebang pilih yang mengerdilkan esensi sejarah. Itu adalah cara membaca masa lalu yang malas, yang hanya ingin mencari pembenaran atas sentimen kelompok sendiri, bukan mencari kebenaran sejarah yang utuh.
Generasi muda hari ini sudah lelah dengan warisan konflik masa lalu yang terus dipaksakan untuk mereka rawat. Kami tidak ingin mewarisi abu dari pertengkaran atribut luar yang usang; kami ingin mewarisi api dari gagasan-gagasan besar mereka. Sebagai anak muda yang sehari-hari bergelut dengan keindahan kata dan kedalaman makna dalam tradisi pasambahan adat minangkabau, saya memandang seluruh tokoh bangsa ini sebagai sumur ilmu, bukan sebagai sekat pemisah yang memecah belah.
Maka, teruntuk Ustadz Hadi Nur Ramadhan, berhentilah membuat parameter dan pagar-pagar semu di perpustakaan kami. Biarkan anak-anak muda hari ini membaca Tan Malaka di waktu pagi, dan mendalami Natsir di waktu petang. Sebab pada akhirnya, kematangan sebuah bangsa justru diuji dari seberapa mampunya generasi baru mendudukkan dua raksasa pemikiran ini dalam satu ruang hormat yang sama, tanpa harus menginjak salah satunya di sepanjang jalan.
Sebagai penutup, meski saya tidak memiliki koleksi buku pantun yang tebalnya setinggi dispenser untuk merangkai kata-kata puitis yang megah, izinkanlah anak muda yang jemarinya masih berbau tepung kerupuk ini menitipkan sebait pesan sederhana teruntuk Ustadz Hadi:
Kok mandi dihilia-hilia
Kok bakato dibawah – bawah
Ingek di rantiang nan ka mancucuak
Ingek di dahan nan ka maimpok
Sicerek di tapi banda
Kok rabah tolong tagakkan
Ambo ketek jolong baraja
Kok salah tolong tunjuakkan

Penulis:
Alfikri
Alumnus Program Studi Hukum Tata Negara, UIN Imam Bonjol Padang, di samping itu pernah menduduki posisi sebagai Ketua Umum UKM Surau Konstitusi. Menaruh minat pada konsentrasi persoalan adat dan budaya Minangkabau.