Lusueh kulindan suto kusuik,
Lusueh dipetak tali tigo,
Tonunan anak rang Malako;
Sunggueh kok bolun tolan tuntuik,
Dari jauah dagang lah tibo,
Niat sangajo iko juo aiii…
Syair di atas merupakan imbauan atau pantun pembuka untuk pertunjukan Sijobang. Kesenian lisan dari daerah Luhak Limopuluah Koto yang telah hampir punah. Saat ini seniman Sijobang terakhir yang dikenal masyarakat adalah Dt. Kodo dari Sungai Talang. Namun, pada tahun 1974 hingga 1975 seorang peneliti dari Inggris pernah datang ke Limapuluh Kota untuk mempelajari kesenian ini. Namanya Nigel Godfrey Phillips. Seorang pria Inggris berambut gelap. Nigel bukan orang Eropa sembarangan. Dia adalah seorang akademisi yang cerdas.
Selain itu, dia memiliki ketertarikan yang berbeda dari orang Eropa pada umumnya. Nigel tertarik pada budaya Asia , khususnya pada kebudayaan dari tanah Melayu dan Indonesia. Ketertarikan Nigel ini mungkin disebabkan karena dia sendiri lahir dan tumbuh di daerah Timur. Nigel lahir di Jinan, Provinsi Shandong, Tiongkok pada tanggal 15 Maret 1934. Tinggal di sana hingga berusia 12 tahun hingga akhirnya dia dan keluarga kembali ke Inggris.
Nigel mengisi masa pendidikannya dengan mempelajari studi klasik, serta mengikuti kursus bahasa Rusia saat menjalankan wajib militer di Angkatan Laut Kerajaan Inggris. Saat dewasa, Nigel memulai kariernya dengan bekerja di Bank of England selama empat tahun sebelum akhirnya pindah ke Central Office of Information. Sejenis dengan Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik di negara kita.
Namun, panggilan jiwa membuatnya meninggalkan pekerjaan itu dan memilih putar haluan menjadi dosen peneliti di School of Oriental and African Studies (SOAS), sebuah perguruan tinggi riset terkemuka di Inggris yang mengkhususkan diri dalam mempelajari bahasa dan budaya masyarakat Asia-Afrika. Di sini Nigel belajar bahasa Melayu. Kecerdasannya membuat pihak kampus memberinya kesempatan mengunjungi Malaysia untuk lebih mendalami bahasa Melayu. Kesempatan itu digunakan juga oleh Nigel untuk berkunjung ke Indonesia yakni ke Pulau Jawa, Bali, dan Sumatra selama satu bulan.
Sepulangnya dari sana, Nigel dipercaya untuk mengajar bahasa dan sastra Melayu serta Indonesia di kampusnya. Pada tahun 1973, takdir mempertemukan Nigel dengan seorang akademisi asal ranah Minang. Khaidir Anwar, yang datang ke London bersama istrinya, Wahidar, untuk mengajar bahasa Indonesia di SOAS langsung akrab dengan Nigel. Mereka tinggal di daerah yang sama dan keluarga mereka kerap saling mengunjungi. Tak jarang istri dan putri Khaidir menjamu keluarga Nigel dengan masakan khas Sumatra Barat buatan mereka sendiri. Dari Khaidir, Nigel dapat lebih mendalami sastra Indonesia serta mengasah kemampuannya dalam berbahasa Minangkabau.
Hingga akhirnya pada tahun 1974, Nigel memutuskan untuk melakukan penelitian doktoralnya di ranah Minang. Didampingi oleh sahabatnya tersebut, Nigel berangkat untuk mempelajari seni bertutur yang saat itu masih populer di seantero Sumatra Barat. Dari kota London yang serba modern ke kota kecil Payakumbuh di Sumatra Barat, Nigel mengikuti panggilan jiwanya. Dia tinggal di sebuah kamar sempit yang merupakan bagian dari sebuah ruko di Jalan Gambir, Payakumbuh.

(Arsip Pribadi keluarga Nigel Phillips)
Dengan dukungan dari Pemerintah Daerah, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia/LIPI (sekarang Badan Riset dan Inovasi Nasional/BRIN), Akademi Seni Karawitan Indonesia/ASKI Padang Panjang (sekarang Institut Seni Indonesia/ISI Padang Panjang), serta Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Nigel mulai mendatangi beberapa daerah di Sumatra Barat. Beberapa kesenian lokal disambanginya, khususnya kesenian yang membawakan tradisi lisan seperti saluang, rabab, randai, hingga akhirnya pilihan Nigel jatuh pada Sijobang.
Ditemani oleh Syamsyuhir Burhan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Payakumbuh, Nigel menemui dan mewawancarai lima belas orang tukang Sijobang yang saat itu terkenal di seantero Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota. Namun, untuk lebih mendalami kesenian ini, dia memilih untuk berfokus pada satu orang saja yakni Munin dari Jorong Kuranji, Nagari Guguak VIII Koto, Kecamatan Guguak, Kabupaten Limapuluh Kota.
Munin yang saat itu aktif menampilkan Sijobang ke berbagai daerah menyambut baik kedatangan Nigel. Ditemani muridnya, Asrul, yang belakangan dikenal sebagai Asrul Dt. Kodo, Munin mendendangkan pantun Sijobang untuk direkam oleh sang akademisi. Setelah beberapa kali proses perekaman, Nigel merasa Munin memberikan beberapa perubahan pada pantun yang didendangkannya. Saat dia mengklarifikasi hal tersebut, Munin membenarkan. Beberapa bagian pantun seperti kata “urang putieh” untuk menggambarkan pelaut Eropa yang dikalahkan Anggun Nan Tongga diganti menjadi “urang kunieng” untuk menghargai Nigel.
Selain itu, Munin juga tidak membawakan beberapa bagian pantun karena dinilai terlalu romantis dan dia merasa malu untuk menampilkan di hadapan keluarganya. Nigel merasa kurang puas dengan hal tersebut. Untuk penelitiannya, Nigel ingin merekam secara utuh syair Sijobang dalam bentuk aslinya. Demi mendapatkan hal tersebut, Nigel meminta kepada Munin agar dia diangkat menjadi murid.
Munin menyanggupi dan menyuruh Nigel untuk membawa “syaraik baguru” sebagaimana tradisi di Minangkabau. Syarat tersebut berupa seekor ayam birieng, sebilah pisau, segantang beras, uang satu rupiah, dan sekabung kain putih. Dengan seperangkat persyaratan yang telah dipenuhi disertai kepulan asap kemenyan dan alunan doa-doa, resmilah Nigel sebagai murid Sijobang dari Munin.

(Arsip Pribadi keluarga Nigel Phillips)
Selama sembilan bulan Nigel tinggal di Payakumbuh dan mempelajari Sijobang. Selama itu pula dia melakukan perekaman pertunjukan Sijobang dari Munin dan muridnya, Asrul. Perekaman dilakukan di rumah Munin, di kedai kopi, di pesta yang mengundang tukang Sijobang, bahkan di pondok ladang Munin di mana hanya ada mereka bertiga. Hampir semua perekaman dilakukan pada malam hari, karena seperti halnya pertunjukan kesenial lainnya di ranah minang, pertunjukan sijobang selalau digelar pada malam hingga menjelang subuh.
Tidak kurang dari 40.000 frasa kaba Anggun nan Tongga berhasil dia kumpulkan dalam puluhan kaset dengan total durasi rekaman sepanjang 23 jam. Rekaman tersebut disalin dalam bentuk tulisan kemudian dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggris. Untuk memahami dialek Limapuluh Kota yang dipakai dalam Sijobang, Nigel dibantu oleh Syamsuir Burhan yang selalu menemaninya. Hasil penelitian tersebut disusun Nigel dalam disertasinya. Di kemudian hari, tulisan tentang Sijobang diterbitkan oleh Universitas Cambridge menjadi sebuah buku yang berjudul “Sijobang: Sung Narrative Poetry of West Sumatra”.
Buku tersebut memuat latar belakang budaya dan sastra Sijobang, ringkasan cerita Anggun Nan Tongga, transkrip naskah syair Sijobang dalam bahasa Minangkabau dan bahasa Inggris , serta analisis Nigel terhadap ciri khas bahasa dan gaya sastranya. Tidak hanya sampai di situ, pria yang fasih berbahasa Minangkabau tersebut juga menuliskan tentang gambaran kehidupan para tukang Sijobang yang ditemuinya. Tentang bagaimana mereka mempelajari tradisi ini, besaran upah yang mereka peroleh dari profesi sebagai tukang Sijobang , dampak Sijobang terhadap kehidupan berkeluarga mereka, hingga mitos-mitos yang mereka yakini terkait dengan tradisi Sijobang. Inilah literatur pertama yang mengkaji secara mendalam sebuah cerita tradisional Minangkabau yang dibawakan dalam pertunjukan lisan.
Setelah petualangannya untuk meneliti sijobang, Nigel kembali mengunjungi Sumatera Barat pada tahun 1988 untuk meneliti tentang rebab dan beberapa kesenian lisan lainnya. Pada kesempatan tersebut tidak lupa dia mengunjungi Munin dan Asrul Dt. Kodo.
Nigel Phillips wafat pada 17 Juli 2021 akibat penyakit Parkinson yang dideritanya. Bahkan di tahun-tahun terakhirnya, kecintaan Nigel terhadap budaya Minangkabau tidaklah pudar. Menurut pengakuan putrinya, Sheena, yang saat ini berdiam di Amerika Serikat , di tengah sakit yang dideritanya, Nigel masih gemar melewati waktu senggang dengan membaca buku-buku tentang petatah-petitih Minangkabau atau membalik-balik kamus bahasa Minang yang dulu menemani perjalanannya ke Sumatra Barat.
Sijobang telah membawa dirinya mendapatkan gelar doktor yang berujung pada pengakuan akademik tertinggi sebagai seorang profesor. Namun, di luar semua itu, Nigel pernah menjadi murid dari Munin, tukang Sijobang dari Kuranji, serta saudara seperguruan dari Asrul Dt. Kodo sang maestro terakhir tradisi ini.
Kisah Nigel Phillips bukan sekadar tentang riset akademik, melainkan tentang ketulusan seorang ‘putieh’ yang datang dari jauh untuk mencintai budaya kita dengan sepenuh hati. beliau telah menjadi bagian dari silsilah guru dan murid Sijobang yang mungkin alpa untuk kita kenang. Kendatipun demikian, takdir telah menutup kisah Nigel Phillips dengan penuh kehormatan, seperti halnya seorang tukang sijobang yang menutup pertunjukan saat fajar menyingsing.
Kok lai ka bulieh kami baporak
Racik nan sudah tongah ari
Tambakau urang ampai pulo;
Kok lai ka bulieh kami bakondak
Babaliak sonjo ko lah ari
Bia nak lamo jo rang di siko aiiii…
Sumber:
- Phillips, Nigel. 1981. Sijobang: Sung Narrative Poetry of West Sumatra. Cambridge: Cambridge University Press.
- Jones, Russell. 2007. “Nigel Phillips and ‘Indonesia and the Malay World'”. Indonesia and the Malay World, 35(101), hal. 1–3. Diakses dari https://doi.org/10.1080/13639810601130069.
- Phillips, Sheena. 2026. Hasil Wawancara Pribadi. Dilakukan pada November 2025 – Januari 2026.

Penulis:
Diwan Fadli
Lahir di Kuranji, Nagari Guguak VIII Koto, Kecamatan Guguak, Kabupaten Limapuluh Kota. Saat ini berdomisili di Kabupaten Agam dan berprofesi sebagai seorang guru di MTsN 6 Agam. Ia merupakan seorang pecinta budaya yang senang menggali dan mendokumentasikan budaya lokal seperti kesenian, beladiri, kuliner tradisional, dan ritual adat.