Kaji

Mengenang Drukkerij al-Islamiyah Fort de Kock, Percetakan Lumbung Keilmuan Ulama Minangkabau pada Era Kolonial

Mengenang Drukkerij al-Islamiyah Fort de Kock, Percetakan Lumbung Keilmuan Ulama Minangkabau pada Era Kolonial

Rujukan tulisan ini bertumpu pada sejumlah literatur klasik yang otoritatif, antara lain Riwayat Hidup Ulama Syafi’iyyah karya Syekh Yunus Yahya Magek (1976), Ayah Kita karya Abuya Baharuddin ar-Rasuli (1978), serta Sejarah dan Keagungan Mazhab Syafi’i karya Abuya Sirajuddin Abbas (1973). Ketiga karya ini bukan sekadar sumber historis, tetapi juga merepresentasikan intellectual genealogy ulama Minangkabau dalam merawat tradisi keilmuan Islam dari masa ke masa.

Berikut Daftar Episentrum Intelektual Islam di Minangkabau: Jejak Kejayaan Surau dan Ulama Besar

Berikut Daftar Episentrum Intelektual Islam di Minangkabau: Jejak Kejayaan Surau dan Ulama Besar

Dalam lanskap sejarah intelektual Islam di Minangkabau, telah lama diakui bahwa wilayah ini merupakan salah satu epicentrum transmisi keilmuan. Tradisi thalab al-‘ilm tumbuh melalui jaringan surau yang berfungsi sebagai institusi non-formal education, tempat berlangsungnya proses ta‘līm, tarbiyah, dan internalisasi nilai-nilai keislaman. Namun, dalam dialektika sejarah, terjadi apa yang dapat disebut sebagai decline of intellectual tradition, di mana perhatian terhadap keilmuan Islam kian meredup, berbanding terbalik dengan menguatnya religiositas instan yang kurang berakar pada turāth (warisan keilmuan klasik).

Rega Maulana Keliru: Nasi Padang Bukan Istilah yang Lahir Akibat PRRI

Rega Maulana Keliru: Nasi Padang Bukan Istilah yang Lahir Akibat PRRI

Rega memiliki hipotesa bahwa penggunaan kata “Padang” ialah akibat “kekalahan” pihak PRRI (Minangkabau) terhadap pemerintah pusat dan ketakutan akan labeling “pemberontak” membuat orang Minang yang eksodus besar-besaran ke luar Minangkabau lebih memilih kata “Padang” sebagai rujukan etnis. Hal ini dikarenakan, penggunaan kata “Minang” membuat mereka gamang. Dan pasca PRRI tersebut, kebiasaan ini berlanjut hingga sekarang. Namun, Rega tidak memberikan referensi mengenai hal tersebut. Apakah memang sesederhana itu?

Sullam al-Arab ila Lughah al-‘Arab: Kamus Arab “Ammiyah-Minang” Pertama, Karya Syekh Abdul Latif Syakur Ampek Angkek (w. 1963)

Sullam al-Arab ila Lughah al-‘Arab: Kamus Arab “Ammiyah-Minang” Pertama, Karya Syekh Abdul Latif Syakur Ampek Angkek (w. 1963)

Deliar Noer dalam disertasinya yang masyhur itu, “Gerakan Mnoderen Islam”, menyebutkan bahwa madrasah ini merupakan sekolah agama moderen pertama di Minangkabau yang telah berdiri sebelum Madrasah Thawalib dan Madrasah Tarbiyah Islamiyah memaklumkan diri. Letak moderen itu ialah dari segi metode pembelajaran, adanya pelajaran umum, dan kelengkapan seperti papan tulis, bangku-meja, dan ruang kelas. Dari segi isi, tetap sebagaimana di surau-surau kebanyakan. Madrasah ini didirikan oleh tokoh ulama Ampek Angkek, yaitu Syekh Abdul Latif Syakur, seorang ulama besar, pengarang ulung, dan sosok pendidikan yang melampui zamannya.

Pangan Belum Tentu Mandiri, Tapi Sudah Tersinggung: Melihat Duduk Perkara Laporan terhadap Feri Amsari

Pangan Belum Tentu Mandiri, Tapi Sudah Tersinggung: Melihat Duduk Perkara Laporan terhadap Feri Amsari

Laporan terhadap Feri oleh LBH Tani Nusantara memang mengandung dimensi legal standing sebagai warga negara. Tapi, jangan hanya berhenti sampai disitu saja, substansi pernyataan Feri tidak bisa dilepaskan dari perdebatan akademik dan empiris terkait kebijakan pangan. Dalam hal ini, kritiknya justru menemukan relevansi jika dibaca melalui data dalam briefing paper yang disusun oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) dan koalisi masyarakat sipil.

Luhak Limo Puluah dalam Catatan Midden-Sumatra 1877-1879: Keindahan Harau dan Payakumbuh (Hal. 45–46)

Luhak Limo Puluah dalam Catatan Midden-Sumatra 1877-1879: Keindahan Harau dan Payakumbuh (Hal. 45–46)

Dokumen atau risalah ini berjudul ”Midden-Sumatra: Reizen en onderzoekingen der Sumatra-expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap (1877–1879)” merupakan laporan resmi berbahasa Belanda perihal Ekspedisi Sumatra (dikenal juga sebagai Ekspedisi Sumatra Tengah) yang berlangsung pada akhir abad ke-19. Di samping itu, pengawas utama dalam ekspedisi ini adalah Prof. P. J. Veth, atau yang memiliki nama lengkap Pieter Johannes Veth. Ia merupakan seorang profesor ternama asal Belanda yang ahli dalam bidang geografi dan etnografi Hindia Belanda.