Mengeja Saluak sebagai kuitansi, mengeja Gelar sebagai komoditas yang kelam.
Di mana pusaka bukan lagi beban, hanya label harga untuk membeli kursi. Kita berjalan di atas tanah yang sengketa, menyusun dusta di balik tumpukan kata-kata.
Di puncak Marapalam, sumpah telah menjadi abu, terkunci sejarah dalam gema yang terpaku.
Satu demi satu, lihatlah barisan Saluak yang berjajar, seperti pusara tanpa nama di tanah yang datar. Kita berdiri di atas patahan identitas yang retak, di mana Kaba lama menjadi irama yang pekak.
Gelar adat kini disemat dalam meja transaksi, dijual murah demi akses jalur birokrasi. Mewariskan hampa pada generasi yang cemas, menukar Gunung Marapi dengan kertas ampas.
Lihatlah para pemangku yang mabuk oleh kuasa, menggadaikan soko demi kenikmatan fana. Gelar kini punya label harga yang pasti, bagi siapa saja yang sanggup menyogok.
Aksara petatah-petitih telah kehilangan lisan, tenggelam di bawah deru mesin penindasan. Malin Kundang tak perlu lagi dikutuk jadi batu, sebab gelar leluhurnya sudah ia jual ke masa lalu.
Mengeja Saluak sebagai jerat yang membelit, mengeja Gelar sebagai pelicin yang sengit.
Di bawah meja, soko dan pusoko habis dipasarkan, demi akses proyek yang penuh dengan kemunafikan. Tak ada lagi Cindua Mato yang memegang amanah, hanya broker adat yang haus akan tanah.
Di barisan nisan kain ini, martabat mulai mati, ditelan keserakahan babi. Dengarkan desis angin di antara tenunan yang usang, membisikkan kabar tentang fajar yang terbuang.
Sabai Nan Aluih kini memegang senapan yang dingin, melihat gelarnya digadai untuk angin yang dingin. Sebab Rajo Nan Panjang kini menjelma birokrasi, membeli gelar adat untuk memuluskan investasi. Rima ini adalah otopsi atas bangkai tradisi, yang dipaksa berdansa di bawah estetika tirani.
Bujang Sembilan tak lagi jadi ikan di telaga, mereka adalah broker tanah di danau yang terjaga. Alam tak lagi bicara melalui tanda dan kiasan, saat gelar adat ditukar dengan izin pembukaan lahan. Kita bicara “Limpapeh Rumah nan Gadang” yang megah, dijarah, goyah, dan haus upah.
Mengeja Saluak sebagai topeng yang retak,
Mengeja Gelar sebagai pedang yang mendesak.
Dipakai untuk menindas sanak dan kemenakan, menjual ulayat demi puncak kemewahan. Kita bicara “Adat Basandi Syarak” dengan bibir gemetar, padahal iman dan martabat sudah lama terlempar. Setiap lilitan kain kini mengkhianati.
Nan Kuriak Kundi kini luntur warnanya,
Ditelan keserakahan yang tak tahu batasnya.
Nan Merah Sago kini hanyalah noda darah,
Di atas tanah ulayat yang dirampas dengan amarah.
Gelar adat dipakai untuk menipu sanak saudara, menyusun dusta di balik tumpukan kata-kata. Saluak yang melingkar tak lagi menjaga otak, hanya topeng bagi jiwa yang isinya sudah retak.
Lihatlah Rantau yang kini kian jauh dan asing, di mana anak nagari menjual darah untuk bising. Mereka lupa jalan pulang ke surau yang sunyi, sebab gelar dibeli hanya untuk gengsi. Tak ada lagi musyawarah di bawah pohon beringin, hanya lelang gelar di tengah badai yang dingin. Keadilan diletakkan di dalam peti yang terkunci,
Meninggalkan jelata yang gelarnya hanya caci maki.
Mengeja Saluak sebagai nisan yang melingkar, mengeja Gelar sebagai api yang membakar.
Hutan larangan kini rata menjadi industri,
Disetujui oleh mereka yang menghamba pada materi. Kita bicara “Limpapeh Rumah nan Gadang” yang gagah, padahal pilar nuraninya sudah runtuh parah. Setiap jengkal tanah kini memiliki kuitansi, menghapus kedaulatan dengan ujung pena para birokrasi.
Mari kita hitung sisa napas di ujung cakrawala, sebelum seluruh ingatan ini habis terbakar bala. Jangan tanya kapan badai ini akan mereda, sebab kita yang menggadaikan api di dada.
Api leluhur yang padam oleh kilau rupiah,
Menyisakan abu bagi jiwa yang telah pasrah.
Di barisan kain ini, kita menunggu giliran,
Menjadi saksi terakhir dari keruntuhan kehormatan.
Mengeja Saluak sebagai titik yang terakhir,
Mengeja Gelar sebagai kutukan yang mengalir.
Sebab pada akhirnya, semua bara mengudara, dan gelar yang digadai akan berakhir di dalam goa. Di antara nisan-nisan kain yang kian memanjang, di atas Marapalam, martabat berakhir telanjang. Satu lilitan terakhir, menutup mata dan telinga, menunggu tanah melumat seluruh sisa bunga.
Mengeja Saluak sebagai kuitansi

Penulis:
H. Fajirul Aflah, M.M.
(Mahasiswa Program Doktoral Studi Islam di UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Fokus risetnya berada pada bidang Islamic Humanism, Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM), serta transformasi teknologi dalam konteks politik modern.)