Si Bujang Jauh: Gejolak Rindu Sang Anak pada Ayahnya

oleh | Okt 23, 2026 | Kaji, Sejarah, Sosok

“Tetapi entah bagaimana sebabnya, dari umur sepuluh tahun, telah nampak jiwa saya melawan beliau. Jiwa beliau adalah jiwa diktator. Kalau sekiranya cara beliau mendidik itu sajalah, maulah saya terbuang, menjadi anak yang tidak berguna. Saya tidak mau pulang ke rumah, saya tidak mau mengaji, saya bosan mendengar kitab Fiqih yang diajarkan di Thawalib”1

Nampaknya, tidak semua anak mendapatkan perlakuan yang sama dari ayahnya. Seperti penulis sendiri, yang harus berkelana ‘mengintip’ teladan dan setumpuk kebaikan yang ada pada ayah. Sisanya, masa kecil hanya dihiasi dengan ketakutan, rasa kecewa, bahkan amarah. Seperti itu pula sosok yang akan kita perbincangkan di buku ini. Ayahnya menjulukinya “Si Bujang Jauh“. 

Dari masa mudanya, Hamka dikenal sebagai seorang pengelana. Di usianya yang ke-16 tahun, pada 1942, ia pergi ke Jawa untuk menuntut ilmu tentang gerakan Islam modern pada H Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo, RM Soerjopranoto, dan KH Fakhruddin di Pangkualaman, Yogyakarta.

Beberapa waktu tinggal di Yogyakarta, Hamka berangkat ke Pekalongan untuk menemui kakak iparnya, AR Sutan Mansur, Ketua Muhammadiyah cabang Pekalongan waktu itu. Di Yogyakarta ia berkenalan dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah setempat. Setelahnya ia kembali ke Padang Panjang dan ikut serta mendirikan Tablig Muhammadiyah di rumah ayahnya di Gatangan, Padang Panjang. Itulah langkah pertama Hamka aktif di Muhammadiyah.

Menurut Hamka, sang ayah tidak dapat menyelami jiwanya. Ayahnya hanya ingin dia membaca kitab-kitab agama seperti Nahwu dan Sharaf (tata bahasa Arab). Dia marah melihatnya membaca buku cerita, roman, dan buku-buku tentang Minangkabau dari penyewaan Zainaro. Di rumah kawannya, Ayun Sabiran yang punya banyak surat kabar, Hamka asyik membaca Cahaya Sumatera, Sinar Sumatera, dan Hindia Baru. Dengan membaca, pemikiran Hamka semakin terbuka. “Sang Bujang Jauh” bertekad ingin mengembara ke tanah Jawa.

Saat merantau kesana, sang ayah tidak memberinya uang. Kekesalannya bertambah-tambah. Untungnya, kawan-kawannya di asrama Sumatra Thawalib yang mengumpulkan uang untuk bekalnya ke Jawa. Berangkat dari Batavia, Hamka menumpang pada seorang saudagar kain batik untuk pergi ke Yogyakarta. Setibanya di sana, dia tinggal di rumah seorang saudagar sekampung, Marah Intan di Ngampilan, tidak jauh dari Kauman. Dia kemudian bertemu adik ayahnya, Ja’far Amrullah yang sedang belajar di Yogyakarta. 

Sesaat setelah kembali ‘berkelana’ di Jawa, Hamka jemawa akan diberi tempat oleh ayahnya, disanjung-sanjung karena telah menjadi orator ulung, pandai berkhotbah. Ayahnya belum juga luluh. Malah sebaliknya, memandangnya dengan sebelah mata. Alasannya sederhana, belum terlalu mahir ilmu alat di dalam berbicara dan membaca buku-buku berbahasa Arab. 

“Pidato-pidato, lazing-lezing saja percuma. Isi dada dahulu dengan pengetahuan, baru ada artinya pidato itu”, tutur ayahnya. Hamka tersinggung.

Ia kabur dari kampung halamannya dan berangkat naik haji. Tekadnya bulat. Ia akan belajar ke Mekkah, menuntut ilmu di sana kepada para ulama-ulamanya. Di usia yang sangat belia, ia nekat berangkat ke negeri nan jauh itu dan melaksanakan ibadah haji. Dengan segala keterbatasan bekal, Hamka muda bekerja di salah percetakan di kota suci itu untuk menyambung hidup. 

Tapi, api, bagaimana pun maraknya, akan padam. Lambat atau cepat. Perjalanan waktu membawa Hamka untuk tunduk dan mengaku bahwa ia merindu ayahnya dan mengakui semua hal yang diberikan olehnya; langsung atau melalui hal-hal yang tak langsung. Hamka luluh.

Saat menafsirkan surat al-Ahqaf ayat 15, Hamka menulis,

Alhamdulillah, Tuhan memberikan agak cepat keinsafan kasih ibu-bapak itu kepadaku. Aku di waktu kecil terhitung anak nakal, bengal, kurang patuh kepada ayahku, sehingga aku dikatakan orang anak yang sukar dibentuk. Perjalanan mengerjakan haji yang pertama adalah kekerasan hatiku sendiri, yang maksud semula hendak menunjukkan kepada ayahku bahwa aku ini tidaklah seburuk yang beliau sangka. 
Setelah aku pulang (1928), aku beliau carikan tunangan. Bapak kecilku Haji Yusuf Amrullah (meninggal 1l Ramadhan 1393 dalam usia 85 tahun) berkata kepadaku: “Terimalah jika engkau dipertunangkan oleh ayahmu, untuk mengobat hati beliau. Sebab perginya engkau ke Makkah dengan kehendakmu sendiri, tidak dengan perbelanjaannya sangat melukai hati beliau!” Lalu aku jawab: “Baiklah!” .
Dan setahun di belakang itu (5 April 1929) dalam usiaku baru 21 tahun Syamsiyah, aku telah kawin. Maka dalam usia 23 tahun, dua tahun setelah kawin aku diberi karunia anak pertama, dan aku beri nama Hisyam. Dilahirkan di kampung halamanku di Sungaibatang Maninjau, dalam diri masih miskin dan masih banyak bantuan orang tua. 
Di akhir tahun itu juga aku berangkat ke Makassar jadi Muballigh Islam atas prakarsa Perserikatan Muhammadiyah. Maka sejak waktu itulah berangsur Allah menumbuhkan dalam hatiku rasa khidmat kepada orang tua. Mulailah aku memberikan hadiah ala kadarnya kepada ibuku. Setelah ibuku mulai merasakan kasih-sayang anaknya ini, maka pada tahun 1934 beliau pun berpulang ke rahmatullah. Usiaku ketika itu baru 26 tahun. 
Maka pada tahun 1936 dalam usiaku 28 tahun barulah aku memulai pula menunjukkan hormat dan rasa cinta kepada ayahku. Dari mana pun aku kembali dari perjalanan. Selalulah teringat membawakan beliau hadiah ala kadarnya. Kadang-kadang sarung. Kadang-kadang songkok, kadang-kadang tongkat! Semuanya beliau sambut dengan gembira.
Dan berangsur pula tumbuh dalam hatinya rasa bangga, bahkan titik air matanya lantaran terharu melihat perkembanganku dalam masyarakat. Tetapi dalam mulai tumbuhnya kasih mesra kami, kebanggaan beliau mempunyai anak yang beliau sebutkan “Si Malik”, atau menurut orang lain dengan di tambah “Si”, yaitu “Si Hamka”. 
Di bulan Januari 1941 dia ditangkap Belanda dan diasingkan ke Sukabumi. Barulah aku sempat menemui beliau setelah aku datang melihatnya di Jakarta di zaman Jepang pada tahun 1943. Usiaku ketika itu telah 34 tahun! Waktu telah bertemu dengan beliau itu. 
Lebih mendalamlah pengaruh ayat 15 daripada Surat al-Ahqaf ini ke dalam jiwaku sendiri bilamana selesai sembahyang lima waktu. Beliau sendiri pun membaca doa memakai ayat ini seketika kami akan berpisah. Setelah datang waktunya (April 1943) saya akan kembali ke Medan. Setelah itu kami tidak bertemu lagi. Pada bulan Juni tahun 1945 dua bulan sebelum Indonesia merdeka. beliau pun telah menghembuskan nafas yang penghabisan. Baru pada 19 Desember 1949 saya dapat ziarah ke kuburan beliau di Karet Tanah Abang.2

Hamka menggambarkan ciri fisik ayahnya dengan “Kumisnja lentik keatas, bertarbusj, katja-mata hitam, baltu ala Pakistan dan tongkat.”3 Ia menyifati ayahnya sebagai seorang Alim besar yang sangat ternama dikala hidupnya. Akhir hayatnya ialah di Jakarta, karena dibuang Belanda. Ia, menurut Hamka bukan hanya seorang ahli Fiqih yang amat mahir, beliau pun seorang sufi dan hidupnya benar-benar menurut jalan ulama-ulama ikutan umat. 

Hamka memahami betul bahwa kerasnya didikan orangtua akan merampas kemerdekaan dan kebebasan anak-anaknya. Betapa banyak anak-anak yang menjadi ‘murung’ lantaran hidup dalam tekanan orangtuanya. Semuanya hendak diaturnya dengan mau dan kehendaknya; dengan cara dan karakternya. Tak banyak juga akhirnya adalah frustrasi dan juga hal-hal negatif yang membahayakannya. Dalam hal ini, Hamka berpendapat bahwa,

“Kerasnya didikan orang tua – merampas kemerdekaan anaknya –; kurangnya tanggungjawab seorang guru saat mengajar; masyarakat yang masih kolot, bodoh dan belum pandai menghargai pertumbuhan seseorang, serta penjajahan bangsa atas bangsa. Semuanya itu dan beberapa sebab yang lain menghalangi tumbuhnya pribadi.”4

Namun pun begitu, tidaklah juga bijaksana jika seorang ayah memanjakan anaknya dan memberikan setiap apa yang dimau olehnya. Pendidikan yang tegas dan tetap mengayomi adalah yang terbaik. Apatah lagi jika seorang ayah mendidik anak-anak laki-laki. Jangan terlalu banyak dibelai, khawatirnya akan tumbuh gemulai. Dididik anak laki-laki dalam tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, keluarga dan masyarakat.

Jarak yang tercipta di antara Hamka bukan tanpa sebab. Sejak kecil ia sering ‘ditinggal’ ayah dan ibunya. Sebagai seorang ulama yang kesohor, Haji Rasul, ayahnya lebih sering berkeliling mengajarkan ilmunya dan bertablig. Bahkan, dalam memori kecilnya, Hamka mengingat saat ayah dan ibunya pulang dari Padang Panjang sesaat sebelum memutuskan akan tinggal di Kota Padang atas permintaan murid-murid ayahnya.

Buya bercerita, meskipun ibunya telah pulang, dia lebih kasih dengan andungnya (neneknya). Hatinya lebih dekat kepada neneknya yang laki-laki daripada ayahnya. Perasaan kepada Ayahnya tutur Hamka, lebih banyak bercampur dengan takut daripada sayang. Sebab didengarnya setiap hari orang menyebut nama ayahnya dengan penuh kemuliaan dan penghormatan.5 

Penulis sendiri merasakan pendidikan yang bisa dibilang sangat ‘keras’ dari ayahanda. Namun, beranjak usia hingga hari ini, pahamlah diri bahwa pendidikannya sangat baik. Di balik diamnya yang banyak, ayah adalah pengayom yang ‘manis’. Banyak para ayah tidak ‘pandai’ seperti ibu dalam menunjukkan rasa kasih sayangnya. Ia punya caranya sendiri. Di balik matanya yang sayup, ia adalah satu mata air yang jernih dan menenangkan. Ayah mengungkapkan cintanya dengan caranya, tanpa meniru yang lain. Orisinal. 

Kembali semuanya pada proses waktu yang dilalui sang anak untuk melihat ribuan kebaikan yang ada pada ayahnya. Seperti Hamka yang akhirnya mengubur semua kekesalan, kejengkelan dan kemarahan itu dan menggantinya dengan mencicil cinta, doa dan bakti. Rasa rindu Si Bujang Jauh akhirnya tersampaikan dalam banyak karyanya.6

Dibuatkannya satu karya besar berjudul, “Ayahku” untuk membesarkan nama ayahnya dan mengingatkannya peran besar dan jiwa besar ayahnya yang diturunkannya kepadanya. Jejak itu kelak diikuti oleh anak keturunannya. Di antaranya karya Irfan Hamka yang berjudul, “Ayah”, Rusydi Hamka “Pribadi dan Martabat Hamka. Dan yang terbaru, memori kehidupan seorang cucu Hamka, Abdul Hadi dalam “Nambo Hamka”. 

Berikut surat rindu Si Bujang Jauh yang ditulisnya sebagai pengantar bukunya Lembaga Hidup. Perlu kita baca dengan hati yang terbuka. Betul-betul sebuah kerinduan yang mendalam seorang anak kepada ayahnya.

Ayahku,
Jika seorang anak bersyukur kepada ayahnya, karena dengan titisan ayah itu Allah memberi jasmaninya hidup, dan jika seorang murid berterima kasih kepada gurunya, lantaran dengan pimpinan guru itu rohaninya sanggup menempuh lapangan hidup tadi, maka adalah syukurku dan terima kasihku kepada ayah, terkumpul di antara syukur jasmani dan syukur rohani.
Adik-adikku berbangga lantaran tuan ayahnya, beratus-ratus orang lain berbangga lantaran tuan gurunya, saya bersyukur lantaran tuan ayahku dan guruku. 
Di dalam Thabaqat Syafiiyatul Kubro, hamba lihat bagaimana Subki kecil menuliskan riwayat ayahnya Subki besar dengan panjang lebar, tetapi di sana diselipkannya juga bahwa pekerjaan itu sukar baginya. Kecintaan dua perkara, sebagaimana cintaku yang sekarang ini, yang menyebabkan kesukaran itu. 
Hamba karangkan buku ini, hamba namai ‘Lembaga Hidup’, adalah sebagai sambungan dari buku-buku yang telah dahulu hamba susun, yaitu ‘Tasawuf Modren’ dan ‘Falsafah Hidup’. Di dalam buku ini ada hamba terangkan kewajiban seorang anak kepada ayahnya. Moga-moga sebelum orang lain mengamalkan, dapatlah hamba lakukan kepada diri hamba sendiri lebih dahulu.
Hamba susun buku ini sebagai penghormatan kepada ayah, penghormatan yang tiada sepertinya, atau satu ranting kecil dari pada dahan-dahan kayu besar ilmu yang ada pada ayah. 
“Ampunilah ya Allah akan dosaku, dan dosa kedua orangtuaku, dan kasihilah keduanya, sebagaimana mereka telah mengasuh membelaiku di waktu kecilku!”

Medan, pertengahan 1941
Ananda, H. Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah7

Membaca surat rindu itu, tampaklah kepada kita bahwa rasa asing yang didapatkan seorang anak dari ayahnya, biasanya lahir dari ketidaktahuannya tentang sang ayah dan dunianya. 

Pada perkembangannya, sosok ayahnya adalah di antara faktor utama pembentukan jiwa besar Hamka, menurut Fachry Ali dalam Hamka dan Masyarakat Islam Indonesia (Prisma, Februari 1983). Menurutnya ada tiga variabel yang mempengaruhi pembentukan Hamka. Pertama adalah peran sosial dan harapan-harapan ayahnya terhadapnya. Kedua, kampung tempat ia dilahirkan. Ketiga, asimilasi adat-Islam. Ketiga variabel ini merupakan lingkungan sosialisasi nilai Hamka di masa kecil yang kelak sangat besar pengaruhnya dalam kehidupan Hamka.8

Seorang anak, jika kemudian sudah masuk ke dalam penyelidikan itu, dapatlah dia memberi maklum dan maafnya. Dan mulailah tampak baginya setiap belaian kasih sayang sang ayah dan perhatiannya, yang kebanyakan mungkin tidak bisa dilihat oleh mata lahir. Jika pun kita sanggup seperti Si Buang Jauh yang menuliskan surat rindunya, rindu itu jangan sampai hilang dan padam. Dalam doa dan bakti, kita sampaikan rindu itu pada ayahanda. 

  1. Hamka, Falsafah Hidup (Jakarta: Djajamurni, 1970). ↩︎
  2. Buya Hamka, Tafsir al-Azhar (Singapura: Pustaka Nasional Singapura), Jilid 9 hal 6655-6656 ↩︎
  3. Hamka, Ajahku (Riwayat Hidup Dr. Abd. Karim Amrullah Dan Perjuangan Kaum Agama) (Jakarta: Penerbit Widjaya, 1950), p. 62. ↩︎
  4. Hamka, Pribadi Hebat (Jakarta: Gema Insani, 2014), p. 6. ↩︎
  5. Hamka, Kenang-Kenangan Hidup (I), IV (Jakarta: Penerbit Bulan Bintang, 1979), p. 19. ↩︎
  6. Muhammad ibn Abdillah aala al-Rasyid menulis sebuah buku berjudul “al-Isyadah wa at-Ta’rif bii man barra abahu bi at-Ta’lif” yang menghimpun kisah bakti seorang anak yang ingin menunjukkan baktinya melalui karya tentang ayahnya atau karya yang dihadiahkan atas nama ayahnya. (Lihat, “al-Isyadah wa at-Ta’rif bii man barra abahu bi at-Ta’lif”, cet. Dar al-Fath) ↩︎
  7. Hamka, Lembaga Hidup (Jakarta: Republika, 2015), pp. iii–iv.  ↩︎
  8. Ali Fachry, ‘Prisma’, LP3ES (Jakarta, February 1983), p. 48. ↩︎

Penulis:
Yusuf Habibi Harahap
Lahir di Bagan Batu, Riau pada 20 Desember 1995. Setelah melewati pendidikan dasar di kampung halamannya, ia merantau jauh ke Medan untuk menuntut ilmu di pesantren Ar-Raudlatul Hasanah Medan selama 6 tahun. Di pesantren ini lah ia banyak belajar menulis kepada guru-gurunya yang juga banyak melahirkan karya-karya hebat. Setelahnya, takdir Allah membawanya menikmati pendidikan sarjana di Universitas Islam Madinah. Saat ini ia menjalani kehidupan menjadi guru di pesantren setelah menyelesaikan pendidikan pascasarjana Ilmu Al-Quran & Tafsir di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.