Ternyata pada Kurun Tahun 1878-1879 di Koto Gadang Pernah Terjadi Kebakaran Hebat, Bagaimana Penduduk Mengatasinya?

oleh | Okt 2, 2026 | Kaji, Sejarah

Dalam buku yang berjudul ”Twee Jaren op Sumatra’s Westkust” yang ditulis oleh Marius Buys terdapat sebuah kisah pilu yang merekam momen bersejarah di Koto Gadang, Luhak Agam.

Berikut penjelasannya..

Pada jarak tertentu pada jalan menuju Matur ada beberapa jalan curam lainnya menuju negeri Koto Gadang yang begitu sibuk dan makmur. Kampung ini satu jam jauhnya dari pusat Fort de Kock dan terletak di seberang ngarai. Semua orang Eropa yang tinggal di Fort de Kock pasti pernah mengunjunginya minimal sekali sehingga kami perlu juga melihat tempat ini.

Jadi, sebelum melanjutkan perjalanan ke Matur, kami berbelok ke jalan lain. Di tengah pemandangan alam yang ramah sekaligus gagah, kita dapat saksikan beragam bentuk rumah famili yang indah dan panjang-panjang dengan atap-atap seperti tanduk.

Rumah-rumah tersebut penuh ukiran yang rapi, hiasan-hiasan bersepuh dan berwarna perak yang menjadi kebanggaan kampung-kampung pribumi Padang Darat.

Beberapa bangunan mesjid yang besar dan baru dibangun menjadi saksi pengorbanan besar yang diberikan oleh penduduk kawasan ini, dan khususnya para kepala pribumi, terhadap ajaran agama mereka. Sebagian besar warga Koto Gadang berprofesi membuat kerajinan perak Padang Darat yang masyhur, menenun sarung-sarung mahal serta menghasilkan karya sulam indah dari benang emas dan perak pada kain beludru, untuk kain penutup atau keperluan lainnya.

Banyak juga penduduknya menjadi pedagang keliling dengan penghasilan amat lumayan. Hal yang sangat menarik untuk ditemui, bahwa di seluruh Padang Darat dan bahkan di luar daerah ini begitu banyak orang Koto Gadang yang menjadi amtenar pribumi pemerintah, seperti djaksa, mantri kopi dan guru sekolah.

Hal ini sebagian disebabkan oleh pengaruh yang dimanfaatkan oleh para anggota famili yang terpandang dan berada demi kepentingan mereka sendiri. Tapi, fenomena demikian juga dapat dialamatkan kepada semangat kuat yang mereka miliki untuk meraih berbagai kompetensi yang disyaratkan memperoleh profesi-profesi sedemikian.

Beberapa bulan sebelum perjalanan saya ke utara, satu musibah besar melanda daerah ini. Malam tanggal 30 hingga dini hari 31 Desember terjadi kebakaran hebat di kampung ini yang begitu cepat membesar, sehingga dalam beberapa jam saja 36 buah rumah ukuran besar dan kecil berikut lumbung-lumbung padi hangus jadi abu. Ada yang mengatakan kebakaran ini ditaksir mendatangkan kerugian 250.000 gulden.

Karena seluruh rumah terbuat dari kayu atau bambu, bencana kebakaran di tengah perkampungan pribumi yang padat akan sangat mudah menyebar. Sulit membayangkan upaya pemadaman, sebab biasanya kuantitas air tidak memadai dan alat pemadaman yang layak pun tidak tersedia. Batang batang bambu yang terbakar berjatuhan bahkan bisa segera menyalakan api ke rumah-rumah yang agak berjauhan.

Yang dapat kita lihat mereka lakukan untuk meredakan amarah unsur alam yang destruktif tersebut hanyalah dengan merobohkan rumah-rumah yang sedang terbakar atau memukul-mukulkan serat-serat batang pisang. Ketika kebakaran sedang berlangsung hebat, beberapa penduduk kampung sibuk mengarahkan cermin-cermin ke arah nyala api, katanya untuk membalikkan kekuatan serta mencegahnya agar tidak semakin menyebar. Sementara itu, sejumlah penduduk lainnya tampak sibuk mengayun ayunkan klewang atau senjata jenis lainnya ke udara, tampaknya bermaksud menghalau roh-roh jahat yang telah menyebabkan kejadian itu!

Saya menyaksikan bekas bencana itu pagi harinya dan amat merasa heran dengan kepasrahan yang ditunjukkan oleh para korban kebakaran. Tidak ada wajah yang terlihat penuh duka; tak terlihat perempuan-perempuan meremas-remaskan tangan atau bocah-bocah dengan tangis ratapan; tiada ungkapan kesedihan apa pun.

Dengan wajah tegang yang sudah biasa diperlihatkan orang Melayu, mereka yang kehilangan rumah dan harta berdiri berdampingan seolah menjadi para penonton bencana yang tak terdampak apa-apa.

Hanya beberapa lelaki yang tampak bersuara lebih kuat dan mendayu-dayu kala memanjatkan doa. Tapi, meluahkan rasa seperti ini ketika beribadah sudah biasa juga mereka lakukan. Sejumlah wanita dan kanak-kanak duduk-duduk di dekat barang-barang yang berhasil diselamatkan di antara pepohonan serta melihat-lihat para pengunjung dengan wajah penasaran.

Di antara mereka ada saya lihat bocah-bocah dan remaja-remaja wanita berwajah anggun dan putih, hal yang amat jarang saya temui ketika berada di jalan atau di tengah pasar. Iklim moderat membuat bencana seperti ini tak semengerikan dibanding jika menimpa para penduduk belahan bumi utara yan dingin.

Kediaman indah dari tokoh Koto Gadang paling kaya, Radja Mangkoeto yang sohor seantero Padang Darat dan dihuni oleh kepala laras saat ini yang merupakan kemenakan dan pewarisnya tidak ikut terdampak kebakaran. Waktu memasuki rumahnya, kami terkesima melihat ornamen-ornamen mahal asal Eropa yang berkesan glamor dan berkelas.

Pemilik rumah mewah ini adalah seorang Melayu yang di kala muda justru amat papa. Dia dulu bekerja sebagai jongos pengurus kuda milik salah seorang Gubernur Sumatra’s Westkust. Berkat suka berhemat, cerdik melihat peluang dan ambisi yang kuat dia berhasil naik status lalu meraih kekayaan besar dengan menghandel transportasi kopi.

Dengan kekayaan itu, dia juga menjadi seorang yang sangat berpengaruh. Dia salah satu dari sehitungan jari orang Melayu yang telah melakukan pelancongan ke Eropa.

Selesai…

Informasi sumber:

Monograf perjalanan berjudul ”Twee Jaren op Sumatra’s Westkust” yang terbit pada (1886) ini adalah karya teolog Protestan Marius Buys (1837–1906) merepresentasikan salah satu korpus etnografis-historis paling otoritatif mengenai lanskap Sumatra Barat era kolonial Hindia Belanda. Secara taksonomi tekstual, dari 22 bab yang tersusun, 2 bab mengulas Residentie Padangsche Benedenlanden (Padang Pesisir), 10 bab mencakup Residentie Tapanoeli, serta 12 bab sisanya mendokumentasikan Padangsche Bovenlanden (Padang Darat).

Konfigurasi spasial ini menunjukkan bahwa sekitar 65% diskursus terfokus pada wilayah administratif Sumatra Barat kontemporer, sementara sisanya melintasi domain Mandailing, Angkola, hingga Barus dan Singkil.

Dalam cakupan batas administratif Sumatra Barat modern, penulis hanya mengeksklusikan Kepulauan Mentawai, Pesisir Selatan, Dharmasraya, Solok Selatan, Pasaman Barat, dan Kota Sawahlunto.

Dokumentasi komprehensif atas wilayah Bukittinggi, Kab. Agam, Payakumbuh, Padang Panjang, Batusangkar, Padang Sidempuan, Sipirok, Sibolga, Barus, dan Singkil merekam realitas sosio-historis kurun 1878–1879 secara presisi.

Buys tidak hanya mengartikulasikan topografi geografis, pranata adat, dan komoditas agraria, tetapi juga membedah eksploitasi kerja rodi (heerendiensten), penetrasi misionaris di Tapanuli, serta dinamika ekstraktif pada perkebunan kopi dan pertambangan emas.

Sebagai historiografi primer, karya ini menjadi rujukan primer yang signifikan untuk merekonstruksi dinamika sosio-ekologis pantai barat Sumatra pada paruh kedua abad ke-19.