Sya’ir Ziarah ke Batuhampar: Kontinuitas Sanad, Ilmu Qira’at, dan Resonansi Ordo Naqsyabandi

oleh | Okt 2, 2026 | Kaji, Sastra

Terletak di tapal batas selatan Luhak Limo Puluah kini wilayah administratif Kabupaten Lima Puluh Kota, Batuhampar merekah sejak abad ke-19 sebagai episentrum transmisi keilmuan Islam tradisional berbasis surau di ranah Minang. Kompleks ini termasyhur sebagai Surau Dagang, sebuah kantong komunal tempat para urang siak menuntut ilmu dan menjalani laku tafaqquh fiddin.

Reputasi distingtif Surau Batuhampar bertumpu pada dua pilar utama. Pertama, perannya sebagai pusat ilmu Al-Qur’an yang mencetak para qari. Kedua, posisinya sebagai basis transmisi Ilmu Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah tertua di kawasan tersebut, yang dipelopori oleh Syekh Abdurrahman ulama kharismatik sekaligus kakek dari sang proklamator, Mohammad Hatta.

Melalui kurikulum Al-Qur’an, surau ini menggembleng para murid dalam disiplin tajwid, seni nagham atau tarannum, hingga variasi transmisi qira’at. Namun, gaung nama Batuhampar justru kian menonjol seiring pasang naik sufisme di Dataran Tinggi Minangkabau pada kurun abad ke-19; surau ini pun kemudian tercatat sebagai zawiyah penting bagi amalan suluk dan jejaring genealogi kaum sufi Naqsyabandiyah, hingga melahirkan banyak ulama besar Minangkabau.

Berikut penulis coba hadirkan sebuah sya’ir sebagai pengingat, yang penulis beri nama ”Sya’ir Ziarah ke Batuhampar”.

Bismillah pembuka kata
Dengannya hati mula terbuka
Berniat ziarah bersama-sama
Ke Batuhampar tempat ulama

Surau godang dinamai orang
Tempat belajar Qur’an yang terang
Tauhid – Tarekat ilmu gemilang
Memutar tasbih mencari tenang

Dua abad sudah berlalu
Anak Siak siang malam ber-buku
Mendaras kitab, mudzakarah laku
Tiada satupun lidah yang kaku

Batuhampar negeri Naqsyabandi
Syekh Abdurrahman pembawa kaji
Beliau bergelar mursyid sejati
Qur’an -Hadist terpatri dihati

Belajarnya dulu di negeri Mekkah
Jabal Qubaisy khalwatnya berkah
Dalam hening mencari faidhah
Akhirnya ijazah diberi khalifah

Syekh Batuhampar turun temurun
Dari datuak, anak, cucu menurun
Semua ‘alim ber-qur’an
Cucunya, Hatta, proklamator indun

Muassis pertama Syekh Abdurrahman
Kedua Arsyad, ulama al-Qur’an
Ketiga Arifin, syekh-nya zaman
Syekh Ahmad ialah keempat, rekan

Kelima Darwisy Syekh tenama
Keenam Dhamrah ‘alim yang nyata
Keenamnya di gobah bermakamnya
Dihiasi “permata”, indah “berkaca”

Di dalam gobah kita bersama
Membaca riwayat, menyulam kata
Terus tahlil berpati do’a
Titik air, mengalir di mata

Wahai taulan, ingatlah kawan
Negeri Batuhampar nyata rupawan
Karna ulama-nya tumpuan zaman
Di negeri Minangkabau, nyatalah ia intan

Banyak ulama di masa silam
Di Batuhampar bermalam-malam
Belajar syari’at penerang kelam
Thariqat hakikat sampai “tenggelam”

Di antara ulama kita sebutkan
Syekh Kumango orang masyhurkan
Ahli Samman, silat dan obat-obatan
Di Batuhampar bergurunya, teman

Ulama lain diperkatakan orang
Syekh Yahya orang yang tenang
Magek, negerinya terpandang
Di Batuhampar pula ber-tarekat terang

Syekh Sulaiman terkenal sudah
Pendiri PERTI, Canduang kampungnya
Belajar al-Qur’an dengan tilawah
Di Batuhampar , kepada Syekh bertuah

Di Maninjau negeri yang indah
Syekh Salim Bayur ia bernama
Seorang sufi juga ahli tilawah
Batuhampar tempat ‘ilmah

Di Luhak Limo Puluah, ulama permata
Syekh Mudo beliau sufiyya
Di Belubus makamnya berada
Syekh Batuhampar guru tuanya

Demikian ulama termasyhur semua
Sampai ke akhir zaman tetap terbaca
Tengoklah kawan, bagaimana kata
Batuhampar tempat menyauk jauhara

Riwayat sejarah kita sudahi
Kembali kalam kepada safari
Mengenai kesan penyambung tali
Datuak Oyah yang diamanahi

Syekh Sya’rani umana ketujuh
Beliau penyambung waris teruruh
92 tahun usianya sepuh
Bersama kitab semangatnya tumbuh

Beliau duduk di atas kursi
Diatas rumah muka berseri
Memegang kitab hatinya suci
Menyambut tamu ceria sekali

Tangan disambut, cium pun datang
Menghormati guru hati pun terang
Beliau senang sangatlah girang
Menjabat murid, taulan dipandang

Demikian khabar saya sampaikan
Perihal ziarah, safar ke mawan
Do’a dipanjatkan, rabithah kuatkan
Semoga tali rohani kuat dan tahan

Ditutup kalam, qalam disimpan
Dii negeri Mungka tempat pengarang
Apria Putra orang panggilkan
Khilaf dan salah, maafkan tuan

Berikut merupakan sya’ir yang merangkum tapak tilas Surau Batuhampar begitu dengan khazanah keilmuan di Surau Batuhampar. Untaian bait ini hadir bukan sekadar menembangkan nostalgia masa lampau, tapi mencoba merajut kembali memori kolektif tentang keagungan sanad dan imu, keteguhan suluk para sufi, serta kemuliaan para penjaga Al-Qur’an. Semoga rekaman ziarah ini mampu menyalakan kembali ghirah keilmuan kita seraya mengokohkan rabithah batin dengan para aulia di ranah Minangkabau.

Penulis:
Apria Putra
Merupakan seorang filolog sekaligus dosen di UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi yang memiliki kompetensi dalam kajian naskah dan tradisi intelektual Islam Minangkabau. Pendidikan strata satu (S1) ditempuh di IAIN Imam Bonjol Padang pada jurusan Sastra Arab. Untuk studi strata dua (S2) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan konsentrasi Filologi Islam atau Pengkajian Islam, yang memperkuat kapasitas metodologisnya dalam analisis teks klasik. Pendidikan doktoral (S3) ia selesaikan di institusi tempatnya mengabdi, dengan jurusan Pendidikan Agama Islam. Apria, juga dikenal dengan koleksi manuskripnya yang signifikan, dengan kepemilikan sekitar 80 manuskrip kuno yang menjadi sumber primer dalam studi filologi. Selain itu, ia juga menghimpun lebih dari 350 kitab ulama Minangkabau yang terbit pada periode kolonial.