Setelah menonton serial tv Wiro Sableng di kedai yang kira-kira berjarak 1,5 km dari rumah, 23 tahun yang lalu, saya menyepak-nyepak batang tebu dan berciat-ciat ala pendekar sepanjang jalan pulang. Malamnya saya bicara serius dengan Bapak, di depan petromak Stormking saya utarakan tekad saya.
“Pak, saya ingin berjalan di atas air seperti Wiro Sableng. Apa yang harus saya pelajari untuk bisa melakukannya, kalau bisa dalam sepekan ini saya sudah mampu mempraktekkannya?” tanya saya pada Bapak antusias.
“Untuk bisa berjalan di atas air kamu mesti menghafal dan merapalkan kalimat ini baik-baik; rabbish rahli sadri, wayassirli amri, wahlul uqdatam millisani, yafqahu qauli,” jawab Bapak khusuk dan meyakinkan.
Beberapa hari kemudian saya pegi ke sungai yang tak jauh dari rumah. Saya sengaja pergi seorang diri agar jurus rahasia ini tidak diketahui teman-teman. Setiba di sungai saya rapalkan kalimat aneh yang diajarkan bapak tempo hari, lalu saya meloncat ke arus sungai sambil mencoba melangkahkan kaki cepat-cepat seperti Wiro Sableng berjalan di atas air. Namun yang terjadi saya malah tercebur, tenggelam dibawa arus sungai.
Dengan basah kuyup dan hati pitam saya pulang. Setiba di rumah saya langsung menemui Bapak.
“Kalimat apaan yang Bapak ajarkan itu. Jangankan untuk bisa berjalan di atas air, justru malah air yang berjalan di atas saya. Lihatlah, saya kuyup dan hampir mati tenggelam di sungai. Bapak ingin membunuh anak sendiri?” bentak saya memprotes Bapak.
“O, mungkin air di sungai itu lebih pandai memaknai kalimat yang Bapak ajarkan padamu daripada dirimu sendiri,” kata Bapak santai.
Ketika itu saya tinggalkan Bapak dengan hati mendongkol, kemudian saya kabur dari rumah dan tidur di loteng surau tempat biasa Bapak mengajar suluk.
“Awas saja kau, Pak. Nanti akan ku balas lelucon tak lucumu ini,” gumam saya penuh amarah.
Beberapa tahun berselang setelah kejadian itu Bapak meninggal. Hari itu sebenarnya adalah waktu yang tepat untuk membalas dendam pada Bapak. Dulu gara-gara Bapak, saya basah kuyup dan air berjalan di badan saya lantaran tenggelam di sungai. Hari ini waktunya saya yang membuat Bapak basah kuyup dan menjalankan air di jasadnya. Tapi saya masih bocah dungu yang baru bisa mengucap rabbish rahli sadri, belum bisa melafadzkan nawaitul ghusla hadzal mayyiti.
Ketika Bapak terbujur kaku di tengah rumah, saya tak sedih, bahkan saya main ayunan dengan riang di halaman. Orang-orang menatap saya dengan aneh. Setelah Bapak dikuburkan dan orang-orang banyak melayat, hujan sederas-derasnya, ketika itulah perasaan ganjil mulai mengganjal di dada saya; perasaan tak menyenangkan seperti pergi sekolah dengan sepatu basah.
Sekarang sudah lewat seperempat abad umur saya dan saya masih ingin ke sungai itu membacakan rabbish rahli sadri, mencoba berjalan di atas air sambil membayangkan Bapak terkekeh-kekeh di kamarnya.
Leluconmu abadi.
Tak banyak yang saya ingat dari Bapak, satu di antara yang tak banyak itu adalah Bapak mempunyai kebiasaan unik menyampul kitab-kitabnya dengan kertas bekas pembungkus kue atau plastik roti. Bahkan saya pernah kegirangan melihat banyak makanan di bandul rumah; ada roti marie, roti gabin, dan roti kacang. Saya bertengkar dengan saudara-saudara saya untuk memperebutkan roti itu. Setelah kami ambil roti masing-masing, serentak kami kecewa membukanya. Ternyata bungkusan roti itu isinya adalah iqra’, shalawat dan kitab-kitab kuning.
Keterangan Ilustrasi:
- Kapur ajaib yang digunakan Bapak selain untuk mengusir semut juga digunakan Bapak untuk mengajari saya fa fiil, ain fiil, lam fiil di dinding kamar ketika saya masih SD.
- Kertas di tangan Bapak adalah petunjuk menggunakan kapur ajaib yang beberapa saat setelah itu ditulisi kalimat rabbish rahli sadri.
- Bocah di samping Bapak adalah saya, sedangkan petromak Stormking adalah saksi penyerahan jurus rahasia berjalan di atas air dari bapak ke anaknya.
- Coretan ini adalah warna kekalahan saya melawan waktu.

Penulis:
Zikri Almarhum
(Lahir di Canduang, Kabupaten Agam, dan masih hidup. Menyukai puisi dan gajeboh. Buku pertamanya “wifi di atas kuburan” terbitan JBS hanya tinggal berapa eksemplar lagi, buruan diorder sebelum habis tandas. (emot ketawa licik).)