JAM TANGAN
bagi seorang prajurit
detik adalah
peluru yang lepas
dari moncong senapan
tapi tak membunuh siapa pun
kecuali hari-harinya sendiri
bagi seorang ibu
detik adalah
langkah anak
yang menjauh dari pintu
tapi tak menuju mana pun
kecuali doa-doanya sendiri
MEJA
di atas meja
gelas teh yang masih hangat
meninggalkan bekas lingkaran
di atas taplak putih
di bawah meja
darah yang tumpah
menuliskan nama
yang tak bisa dihapus
oleh ledakan apa pun
PERANG
sepatu prajurit berlumpur
berdiri di atas sajadah
di sudut ruangan
sebuah granat
tidur dengan tenang
di dalam keranjang bayi
HARAPAN
jangkar yang berkarat
tenggelam
di dasar laut
rantainya
sudah
putus
tapi tetap memegang
lumpur gelap
sebagai dermaga
KEMERDEKAAN
pintu sangkar terbuka
burung di dalamnya lepas
terbang
bebas
ke langit biru
lalu ia hinggap di ranting pohon randu
di bawahnya seorang pemburu
sedang mengisi peluru
KEADILAN
crayon
mewarnai
dirinya sendiri
di luar buku mewarnai
PERJAMUAN
kita makan
dari piring yang sama
untuk merayakan persahabatan
tapi kita bicara
dengan lidah yang berbeda
untuk merencanakan pengkhianatan
di atas meja
roti dibelah
di bawah meja
pisau diasah
SILSILAH
lelaki tua itu
menanam pohon
untuk meneduhkan
cucunya yang sedang belajar
menebang pohon
SORBAN
di atas meja kayu
sorban hitam itu diam
tak lagi melilit kepala
di luar jendela
angin membawa debu
dari tanah yang retak
sorban itu memanjang
menantang warna darah
yang tumpah di peta
INTEGRITAS
di sebuah toilet umum yang remang
seorang pembunuh bayaran
membasuh wajahnya berkali-kali
ia menatap cermin yang retak
memperbaiki kerah baju
lalu membayar bayangannya sendiri
sebelum menekan pelatuk
yang mengarah ke kepalanya sendiri

Penulis:
Zikri Almarhum
(Lahir di Canduang, Kabupaten Agam, dan masih hidup. Menyukai puisi dan gajeboh. Buku pertamanya “wifi di atas kuburan” terbitan JBS hanya tinggal berapa eksemplar lagi, buruan diorder sebelum habis tandas. (emot ketawa licik).)