Mengapa Tan Malaka Masih Perlu Ada?

oleh | Agu 31, 2026 | Opini

Sebuah balasan atas kegugupan Pak Ferry Hidayat terhadap Tan Malaka dalam tulisan ”Menjilat Jilat Madilog dengan Kesumat”

Membaca tanggapan Pak Ferry Hidayat yang sarat dengan gejolak afektif membuat saya menyadari satu hal: betapa beratnya beban emosional seseorang ketika konstruksi akademisnya diuji di ruang publik.

Pak Ferry mengaku tersentak, tersiksa, hingga merasa berada di dalam panggung “drama Korea”. Saya sampaikan permohonan maaf apabila metafora dalam tulisan saya terdengar mengguncang. Namun, izinkan saya menegaskan sejak awal: rasa tersentak itu adalah prasangka dan gejolak emosi Pak Ferry sendiri, bukan niat di sengaja dari saya.

Dalam tradisi intelektual yang matang, kritik terhadap metode dan cara membaca sebuah teks adalah hal yang lumrah. Jika setiap koreksi metodologis diartikan sebagai ejekan personal, maka mimbar ilmiah kita akan dengan gampang merosot menjadi arena sentimental.

Mari kita kembalikan ruang diskusi ini pada kejernihan nalar. Kejernihan itu hanya bisa dicapai jika kita bersedia menanggalkan kacamata prasangka dan mulai membedah pokok persoalan secara utuh.

Sejak tulisan pertama saya, poin utama yang luput atau mungkin sengaja dihindari oleh Pak Ferry adalah situasi sejarah (historis-sosiologis) konkret ketika Tan Malaka melahirkan karya-karyanya. Pak Ferry sibuk mencabut kutipan-kutipan Tan Malaka dari rahim zamannya, membawanya ke laboratorium steril abad ke-21, lalu menghakiminya dengan kacamata teologi normatif yang serba kaku.

Tradisi keilmuan Islam mengajarkan bahwa para ulama tidak pernah membaca sebuah teks secara serampangan tanpa memahami asbabun nuzul konteks historis, kondisi sosiologis, dan peristiwa konkret yang melatarbelakangi lahirnya teks tersebut. Tanpa kepekaan atas asbabun nuzul, sebuah pesan pembebasan dengan gampang disalahartikan menjadi alat legitimasi kemandekan.

Prinsip paling mendasar ini mendadak dilupakan oleh Pak Ferry ketika berhadapan dengan Madilog. Pak Ferry memperlakukan karya Tan Malaka seolah-olah ia turun begitu saja dari langit tanpa konteks zaman.

Asbabun nuzul lahirnya Madilog tercetak sangat terang dalam sejarah. Tan Malaka menulisnya di tengah kecamuk Perang Dunia II, di bawah cengkeraman fasisme Jepang dan sisa-sisa trauma kolonialisme Hindia Belanda. Saat itu, rakyat Hindia tidak sekadar dijajah secara fisik dan ekonomi, tetapi juga dilumpuhkan secara kognitif. Bangsa ini disungkupi oleh fatalisme, kepasrahan nasib, dan apa yang disebut Tan Malaka sebagai “Logika Mistik” sebuah pola pikir di mana kekalahan sosial dianggap sebagai takdir yang tak terelakkan, dan perlawanan digantikan oleh jimat, mantera, serta penantian pasif akan Ratu Adil atau kenikmatan ukhrawi semata.

Ketika Tan Malaka mengkritik bentuk-bentuk kepercayaan mistik dan pasivitas spiritual saat itu, ia tidak sedang berdiri di atas mimbar teologi untuk menguji keabsahan akidah seorang Muslim. Ia sedang berdiri di tengah medan pertempuran sejarah! Tan Malaka ingin menegaskan kenyataan telanjang: jika bangsa ini ingin membangun kereta api, memproduksi senjata, merancang taktik perang gerilya, dan mendirikan sebuah Republik, kita membutuhkan ilmu fisika, kimia, dan rekayasa material bukan doa tanpa usaha atau kepasrahan fatalistik.

Luputnya Pak Ferry dalam membaca konteks zaman inilah yang membuat seluruh bangunan analisisnya roboh sejak dari fondasi. Membaca Madilog tanpa memahami situasi kolonialisme adalah seperti membaca buku resep obat tanpa tahu penyakit apa yang sedang diidap oleh si pasien. Tanpa pemahaman sejarah, kritik kognitif Tan Malaka atas kemandekan berpikir dengan mudah disalahartikan oleh Pak Ferry sebagai “kebencian terhadap agama.”

Kegagalan memahami konteks sejarah ini berlanjut pada kecenderungan untuk menuntut “pameran kutipan” sebagai tolok ukur keilmiahan. Saya tentu tidak berminat melayani ritual potong-tempel teks sekadar untuk memuaskan obsesi positivistik yang naif. Mengumpulkan belasan potongan kalimat tanpa kepekaan terhadap situasi sejarah tulisan itu dibuat, tidak serta-merta membuat sebuah tulisan menjadi ilmiah; itu hanya menunjukkan ketangkasan seorang juru ketik yang kehilangan kepekaan sejarah.

Jika setiap kritik sosiologis atas takhayul dan pasivitas sosial meluncur menjadi tuduhan kebencian terhadap agama, maka dengan cara baca harafiah yang sama, para ulama pembaharu di Minangkabau pun harus dituduh sebagai “pembenci Islam” hanya karena mereka gigih memberantas bid’ah dan jimat! Membaca teks tanpa kepekaan sosiologis-historis adalah bentuk fetisisme teks yang amat ringkih. Jika metode “potong-tempel” kutipan seperti ini yang terus dibanggakan, maka publik berhak mempertanyakan bobot hermeneutikanya.

Niat untuk memagari teks dari pembacaan kontekstual ini rupanya lahir dari ketidakmampuan membedakan mana wilayah doktrin keimanan dan mana instrumen analisis realitas. Pak Ferry melontarkan klaim bahwa ajakan untuk bergerak, rasional, dan melawan penindasan adalah “isu basi” karena doktrin Islam (melalui konsep kasb ahlussunnah, Mm’tazilah, dsb.) sudah lengkap. Menurut bapak, kita tidak membutuhkan Madilog untuk menjadi Muslim yang aktif secara sosial.

Namun, di sinilah pertanyaan krusial yang menagih jawaban jujur: jika teologi itu sudah lengkap di ranah doktrin, mengapa dalam realitas sejarah kolonialisme,masyarakat justru terjebak dalam pasivitas, fatalisme, dan kekalahan yang panjang?

Di sinilah letak alasan mendasar mengapa Tan Malaka masih perlu ada. Doktrin keagamaan yang berada di awan-awan normatif sering kali menjelma menjadi “candu” ketika dipahami secara dogmatis-formalistik. Tan Malaka hadir bukan untuk mendirikan aliran teologi baru atau menggantikan posisi ulama. Ia hadir membawa instrumen analisis materialis-dialektis sebuah pisau bedah sosial-ekonomi agar rakyat paham bagaimana struktur penjajahan bekerja dan bagaimana cara membongkarnya secara ilmiah.

Mengkritik Tan Malaka karena ia tidak menulis teologi liberatif ala Hamid Dabashi adalah sebuah kesalahan kategorial (category mistake) yang kekanak-kanakan. Tan Malaka tidak pernah berambisi menjadi mufasir Al-Qur’an; ia adalah seorang strategist revolusi.

Menilai pisau analisis sosiologis-historis seperti Madilog semata-mata dengan timbangan doktrin teologi murni sama konyolnya dengan menolak teori gravitasi Newton hanya karena Newton tidak mengutip ayat tentang penciptaan langit dalam rumus fisikasinya.

Bila keberadaan instrumen analisis tersebut gagal dipahami, tidak heran jika bentuk dan cara penyampaiannya pun ikut dicurigai. Pak Ferry menuntut agar retorika dienyahkan karena “ilmu hanya butuh data dan data,” disusul dengan tantangan agar saya menulis buku tebal untuk membalas bukunya.

Pernyataan bahwa sains hanya butuh “data murni tanpa retorika” adalah bentuk positivisme naif yang sudah ditinggalkan sejak abad lalu. Sepanjang sejarah pemikiran, dari dialektika Socrates, polemik tajam Al-Ghazali dalam Tahafut, hingga tulisan-tulisan Tan Malaka sendiri, metafora dan analogi adalah instrumen epistemologis untuk menerangkan ide, bukan untuk menggantikan data. Menuduh tulisan yang kaya metafora sebagai “drama Korea” hanyalah benteng pertahanan psikologis untuk menghindari pemicu utama perdebatan: ketidakmampuan membela kerangka berpikir sendiri.

Begitu pula dengan tantangan kuantitas jilid buku (fallacy of quantity). Validitas sebuah argumen ilmiah ditentukan oleh ketepatan logika dan kesahihan metodologinya, bukan oleh ketebalan jilid kertasnya. Sebuah esai pendek yang presisi sanggup membongkar cacat logika yang bersembunyi di balik ratusan halaman buku. Jika setiap kritik di ruang publik harus menunggu penerbitan buku tebal terlebih dahulu, maka dinamika intelektual akan mati dibeli oleh beban logistik dan birokrasi penerbitan.

Ketika seluruh benteng metodologis dan klaim kuantitas itu runtuh, yang tersisa hanyalah luapan emosi personal yang dibungkus tuduhan moral. Saya mengurut dada membaca bagian penutup tulisan Pak Ferry. Dengan nada dramatis, bapak mempertanyakan dari mana saya menyimpulkan bahwa “kesalehan beliau hanya sebatas rutinitas dogma, simbolik, dan taat pada tiran,” lalu melontarkan pertanyaan retoris bertubi-tubi: “Sejak kapan tuan bisa menilai kesalehan saya? Atas dasar bukti apa? Atas dasar evidens apa?”

Sungguh, ini adalah puncak dari segala prasangka dan kegugupan tafsir Pak Ferry sendiri.

Dalam esai saya sebelumnya, saya membedah fenomena sosial dan kecenderungan tipologi beragama yang kerap memisahkan antara kesalehan ritual-formalistik dengan kesalehan sosial-kritis dalam sejarah. Saya sedang membicarakan gejala kognitif dalam masyarakat, bukan sedang memata-matai atau mengadili isi dada Pak Ferry Hidayat! Saya tidak pernah memegang meteran kesalehan personal bapak, tidak pula bertindak sebagai malaikat pencatat amal yang menginspeksi sholat dan hafalan Al-Qur’an Pak.

Ketika Pak Ferry merasa bahwa analisis sosiologis mengenai kesalehan simbolik itu diarahkan khusus untuk menelanjangi pribadi Ustadz, di situlah nampak betapa personalnya Ustadz menerima setiap kritik pemikiran. Pak Ferry sendiri yang merakit tuduhan itu, memasangnya ke badan sendiri, lalu berteriak tersentak di depan publik seolah-olah sedang dizalimi. Ini adalah bentuk strawman fallacy yang dibungkus dengan luapan kepedihan moral.

Mengenai pertanyaan penutup Pak Ferry tentang bagaimana seorang anak surau Minang seperti Tan Malaka bisa “berakidah Madilog”: Tan Malaka tidak pernah menukar tauhidnya dengan penyembahan terhadap benda material. Materialisme Dialektika Logika dalam Madilog adalah cara pandang untuk memahami dunia material yang konkret hukum alam, produksi ekonomi, dan relasi kuasa sosiologis. Bagi Tan Malaka, mengagungkan Tuhan tanpa memahami hukum-hukum alam ciptaan-Nya adalah bentuk kebodohan yang berbahaya.

Saya menyambut baik ajakan Pak Ferry untuk terus berpolemik. Namun, mari kita lanjutkan diskusi ini dengan ketenangan akademis tanpa perlu meratap atau merasa sedang diadili kesalehan pribadinya. Semoga silaturahmi intelektual ini tetap terjaga dengan ketenangan, kelapangan dada, dan kedewasaan bernalar.

Pak Ferry dan siapa pun boleh saja berusaha memagari, memotong, atau berharap pemikiran Tan Malaka melenyap dari mimbar sejarah. Namun, sejarah selalu punya cara untuk memenangkan nalar kritis atas dogmatisme yang panik. Gagasan yang lahir dari pertempuran realitas tidak akan pernah mati hanya karena dihakimi dari atas menara gading. Bahkan ketika panggung perdebatan ini usai, gagasannya akan terus hadir mengetuk pintu kesadaran kita persis seperti peringatan yang pernah diucapkan Tan Malaka sendiri:

“Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi.”

Tabik dan salam hormat,

Penulis:
Alfikri
Alumnus Program Studi Hukum Tata Negara, UIN Imam Bonjol Padang, di samping itu pernah menduduki posisi sebagai Ketua Umum UKM Surau Konstitusi. Menaruh minat pada konsentrasi persoalan adat dan budaya Minangkabau.