Disungkuik Qur’an Tigo Puluah

oleh | Agu 10, 2026 | Kaji

Beberapa tahun lalu saya membaca sebuah buku baru tentang Minangkabau oleh sarjana Amerika Karl G. Heider. Judul bukunya: The Cultural Context of Emotion: Folk Psychology in West Sumatra (New York: Palgrave Macmillan, 2011). Buku ini adalah salah satu seri korpus publikasi tentang culture, mind, and society (budaya, pikiran, dan masyarakat).

Heider memperlihatkan bahwa emosi orang Minangkabau cukup rumit, yang secara kultural berkait kelindan dengan sistem Matrilineal yang mereka anut. Dalam bahasa Minangkabau ditemukan banyak metafora untuk mengekspresikan emosi atau perasaan. Pantun, sebagaimana dapat kita nikmati lagi di nomor ini (93), adalah salah satu inang tekstual literer untuk mengilatkan emosi itu.

726.

Lah masak buah kayu tulang,
Makanan anak barau-barau,
Kok untuang kumbali pulang,
Kok tak untuang mati di rantau.

727.

Rimbo ini rawangan punai,
Tampaik barabah banyak lalu,
Ambo sapantun bungo inai,
Randah sakali dari kayu.

728.

Barapo bintang di langik tinggi,
Saratuih sembilan puluh,
Barang siapo mungkia janji,
Disungkuik Quran tigo puluah.

729.

Banyak nyamuak di dalam padi,
Banto di dalam pasamaian,
Siki baramuak dalam hati,
Di muko jangan kalihatan.

730.

Gadang aia Batang Batahan,
Anyuiklah bamban dari hulu,
Auih lapa buliah ditahan,
Sanang badan buliah batamu.

731.

Urang Padang lalu barampek,
Cabiak-cabiak tapi kainnyo,
Nan ilang indak ka dapek,
Cari nan lain kagantinyo.

732.

Batang anau saganyo rapek,
Palapah jangan di latakkan,
Sayo ini kurang pandapek,
Salah nan jangan digalakkan.

733.

Dicabiak kain dibaliak,
Dielo tangah tiga elo,
Mintak maaf sarato tabiak,
Jangan disabuik kurang baso.

734.

Jariang rambutan buah bonai,
Tampaik buruang baradu makan,
Dindianglah alam jo marunggai,
Gunuanglah sudah kalihatan.

Rantau adalah medan perjuangan yang berat. Kans untuk sukses dan gagal sama besarnya. Sudah banyak dagang Minang yang ‘ditelan’ oleh rantau (mati tak tentu rikbanya), dan tak sedikit yang pulang membawa marwah dan rupiah bakabek–kabek, mendapat sanjuang baadokpan sesampai di kampung. Itulah refleksi bait 726.

Bait 727 mengekspresikan ungkapan Minangkabau ‘mandi di ilia–ilia, bakato di bawah–bawah’. Orang sekarang mungkin menganggap ini refleksi keminderan diri. Tapi dulu begitulah cara orang bersikap untuk tidak jadi sombong. Dalam bait 728 ada nada hiperbol. Tapi ini mungkin baik untuk mengingatkan orang agar tidak mudah mungkir janji, termasuk mengingkari janji setia yang sudah diucapkan kepada si dia di pinggir dermaga Teluk Bayur sesaat sebelum peluit kapal memperdengarkan raungan selamat tinggal.

Bait 729 memberikan pelajaran penting bagi kita (dan sangat cocok dengan suasana bulan Ramadan sekarang): semarah apapun hati, jangan berkesan di wajah. Petuah ini yang sering dilupakan oleh orang sekarang: sering hanya karena hal-hal kecil, sampai terjadi adu mulut atau jual beli buku tangan. Bait 730 sangat rancak ungakapan literernya, dan pas untuk mengekspresikan perasaan hati nan rindu dendam kepada si dia.

Mungkin kawan yang sedang patah hati karena putus cinta harus diberi semangat. Katakan kepadanya bahwa kumbang tidak seekor, bunga tidak setangkai. Bait 731 cocok untuk dipantunkan dalam bilik kesedihannya.

Orang Minangkabau sering ‘menikam’ lawan dengan bicara merendah. Ini gaya luambek kata yang khas Minangkabau: tenang tapi dapat menghanyutkan. Itulah refleksi bait 732 dan 733. Awas! Jangan sampai Anda mati disimpai kata. Kalau itu terjadi di dalam medan, bisa merah muka para penghulu Anda se-nagari, sebab tak kama malu disurukkan. Kedua bait ini sering kita dengar diucapkan di awal suatu perundingan (bersilat lidah).

Bait terakhir (734) menghadirkan ungkapan literer yang manis sekali: tak guna Anda mendinding alam dengan merunggai (daun kelor) hanya untuk bermaksud menutup gunung. Arti yang tersirat (tasirek): cara berkelitnya, cara sembunyinya, kentara banget, nggak rapi, nggampang diketahui. Nah, ini yang sering kita lihat pada penampilan para koruptor sekarang. Nggak bakal percaya orang, walau berani sumpah digantung di Monas segala. Tentu saja bait ini dapat dikontekstualisasikan ke dalam dunia percintaan: si dia dengan gampang bisa mengetahui bahwa pasangannya sudah berpindah ke lain hati. Ini pelajaran penting bagi yang tidak pintar berdusta. Oleh karena itu sebaiknya hindari dusta di antara kita. Jangan kau gunakan Black Berry-mu untuk mengkhianati cintaku.

Tulisan ini sebelumnya terbit di Padang Ekspres, Minggu, 12 Agustus 2012. Sehari setelahnya terbit di nadilova.wordpress.com, tepatnya pada Senin, 13 Agustus 2012.

Penulis:
Surya Suryadi
Lahir 15 Februari 1965 di Nagari Sunur, Nan Sabaris, Padang Pariaman, Sumatra Barat, meraih gelar sarjana dari Fakultas Sastra Unand (1991) dan mengajar sebagai asisten dosen di Unand serta UI, ia melanjutkan pendidikan ke Universitas Leiden. Di sana, ia mengantongi gelar master pada 2002 dan menyelesaikan gelar doktornya pada 2014 dengan fokus riset berjudul: “The Recording Industry and Regional Culture in Indonesia: The Case of Minangkabau”. Suryadi dikenal sebagai pakar filologi dan ahli pernaskahan Nusantara. Ia banyak meneliti naskah-naskah klasik Nusantara dan hasil penelitiannya telah dimuat di berbagai jurnal internasional. Saat ini menjadi pengajar di Universitas Leiden, Belanda.