Rabithah di Pangkal Dendang: Misi Sunyi Andrianto untuk Menjaga Sijobang

oleh | Jul 30, 2026 | Kaji, Opini, Sosok

Motor tua ku meluncur pelan menembus kegelapan malam di jalanan beton. Malam gelap tanpa bintang. Rumpun bambu dan beberapa pusara tua menambah nuansa seram. “Lah sampai di batang manggih?” suara pria dari HP memastikan posisiku. Aku mengiyakan setelah melalui dua pohon manggis tegak menjulang mengapit jalan, seperti dua gerbang gelap yang membawaku kepada pria tersebut.

Namanya Andrianto, orang-orang memanggilnya Andi atau Anto. Saat aku sampai, dia telah berdiri menungguku di simpang rumahnya. Pria kurus berkulit cokelat itu memakai baju hijau dan celana dasar hitam. Sebuah peci bertengger di kepala, memberikan kesan alim pada sosoknya yang murah senyum.

Dalam kehidupan sehari-hari, Andi berprofesi sebagai guru PPPK di salah satu SMP di Koto Salak. Sebuah kecamatan di kabupaten Darmasraya yang berbatasan langsung dengan provinsi Jambi. Beliau mengambil cuti tiga hari untuk pulang ke rumah keluarganya di Jorong Parumpuang, Nagari Koto Baru Simalanggang, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Limapuluh Kota. Aku merasa tersanjung, karena dalam tiga hari yang telah dipenuhi dengan jadwal kegiatan bersama keluarga, mengunjungi handai tolan dan lain sebagainya. Guru Pendidikan Agama Islam ini masih bersedia meluangkan waktu untuk kami bertukar cerita.

Pertama kali aku mendengar tentang Andi adalah saat wawancara dengan Dt. Kodo di Sungai Talang awal tahun 2026. Di sela perbincangan dengan beliau, sang maestro seni sijobang tersebut menyebutkan perihal putranya yang telah belajar dendang Anggun nan Tongga itu kepadanya.

Andi Fokus melakukan rabithah sebelum melantunkan dendang sijobang. praktik yang umum diamalkan praktisi tarekat ini juga dipraktikkan oleh tukang sijobang (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Informasi ini cukup menggelitik rasa ingin tahuku. Hampir semua literatur tentang sijobang yang bisa kita temukan dewasa ini mengerucut pada satu sosok tunggal; Asrul Dt. Kodo. Aku, seperti halnya kebanyakan orang yang pernah menulis tentang sijobang mengira bahwa beliau adalah orang terakhir yang masih memegang tradisi lama ini.

Tentu kita masih bisa menemukan berbagai karya kreatif yang mengambil inspirasi dari sijobang. Bahkan di kampus seni terkemuka—seperti ISI Padang Panjang—sijobang tetap dipelajari. Namun orang yang masih membawakan bentuk tradisional dari kesenian ini—dendang kaba Anggun nan tongga dengan iringan kotak korek api—bisa dipastikan sudah tidak banyak lagi.

Berbekal informasi tersebut, aku memulai pencarian di media sosial, hingga akhirnya bisa berkenalan dengan pria ini. kami sempat berkomunikasi melalui video call dan chat WA sampai akhirnya berkesempatan untuk bertemu muka pada malam 27 Juni 2026 lalu.

Andi menyanyikan sijobang dengan iringan ketukan kotak korek api (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Darah Seni yang Tidak Bisa Dibohongi

Andi mempelajari sijobang langsung dari sang ayah. Meskipun menyandang status sebagai putra seorang tukang sijobang, tidak serta merta memuluskan jalannya untuk mempelajari kesenian ini.

Menurut pengakuan Andi, sang ayah tidak pernah membimbingnya untuk milih jalan hidup sebagai seniman. Dt. Kodo yang terkenal gigih dalam melestarikan sijobang dan selalu berharap memiliki pewaris, justru terkesan menghalangi sang putra untuk mengikuti jejaknya.

“Setiap diminta belajar. Beliau akan mengalihkan pembicaraan ke hal lain” ujarnya sambil tersenyum geli. Bahkan pernah Dt. Kodo secara terang-terangan menolak permintaan Andi. “Tidak usah ikut-ikutan menjadi orang dunia” begitu jawaban beliau.

Dalam kenangan Andi, Dt. Kodo selalu mengarahkan anak-anaknya untuk mendalami agama. Ia sendiri bahkan didaftarkan sekolah di MTI Koto Panjang. Sebuah pesantren di kecamatan Lampasi Tigo Nagari yang telah berdiri sejak tahun 1935. Di sanalah Andi belajar kitab, ilmu dakwah, bahkan tasawuf.

Andi dan Asrul Dt. Kodo, ayah dan anak yang memegang tradisi sijobang (Sumber: Dokumentasi Pribadi Andrianto)

Meskipun di arahkan ke jalan agama, darah seni dalam diri Andi tidak dapat dibohongi. Sejak kecil dia telah tertarik pada berbagai kesenian seperti randai dan dendang tradisional. Ketika remaja beberapa kali dia ikut menemani sang ayah memenuhi undangan untuk bersijobang. Di balik kesibukannya dalam menimba ilmu agama, Andi selalu mencuri-curi waktu untuk menyalurkan kecintaannya pada dunia seni.

Memadukan dua hal yang bertentangan tentu bukan hal yang mudah. Orang-orang di sekeliling kerap membangun dikotomi antara keduanya. Saat masih anak-anak, Andi yang mulai menunjukkan ketertarikan pada dunia seni pernah disindir oleh guru mengajinya tentang “Angku Mudo nan Rancang”. Suatu ungkapan untuk orang yang menekuni banyak bidang sekaligus. Seakan tanpa prinsip untuk berfokus pada salah satunya saja. 

“Orang khutbah, dia ikut berkhotbah. Giliran orang berdendang dia ikut pula” ujarnya menirukan komentar sang guru mengaji. Lalu bagaimana Andi kecil menanggapinya? “Santai saja, saya jawab ‘mau bagaimana lagi angku! Ada darah seni yang mengalir dalam badanku ini!’ begitu” jelasnya sambil tertawa geli.

Barulah ketika Andi menginjak usia belaasan tahun, Dt. Kodo bersedia mengajarkan sijobang kepadanya. Setelah sekian kali menolak. Beliau akhirnya mau menjadikan sang putra sebagai murid. 

“Walaupun ambo anak kanduang beliau, waktu itu tetap diminta ma isi syarat” kisahnya. 

Alhasil, Andi harus menyerahkan semua persyaratan untuk menjadi murid sijobang seperti tradisi lama. Beras, pisau, uang serupiah dan seekor ayam biriang pun diserahkan kepada sang ayah.

Cara Andi belajar sijobang sama seperti cara Dt. Kodo belajar kepada guru beliau dahulu. Duduk, simak dan ingat. Hanya saja Andi membantu proses belajarnya dengan mencatat dendang yang dilantunkan sang ayah, bahkan banyak mendiskusikan makna filosofi dari syair-syair yang dia dapat. Dari proses tersebut dia mendapat banyak pelajaran tentang isyarat maknawi yang ada dalam dendang sijobang.

Rabithah: Jalinan Batin dalam Dendang 

Sebagai seorang santri di Madrasah Tarbiyah Islamiah, dirinya dekat dengan kajian tarekat, khususnya aliran naqsabandiyah yang banyak berkembang di daerah Limapuluh Kota. Fakta ini tidak serta merta menjauhkan Andi dari aktifitasnya dalam belajar sijobang. Justru sebaliknya, ada bagian dari tarekat yang mengikatnya semakin erat dengan sijobang.

Saat mengaji tarekat di pesantren, Andi belajar tentang rabithah; suatu ritual di mana seorang murid membayangkan wajah sang mursyid atau guru sebagai pendahuluan setiap dzikirnya. 

Dengan ber-rabithah, sang murid dipercaya dapat membangun ikatan batin dan spiritual kepada gurunya. Ikatan tersebut akan membantunya meraih tingkat kekhusyukan yang lebih tinggi dan menjaga hatinya dari godaan-godaan yang dapat mengganggu prosesi dzikir yang dijalani.

Praktik rabithah ini juga dia temukan dalam kesenian sijobang. Andi mempelajari bahwa setiap tukang sijobang selalu mengamalkan rabithah sebelum membawakan dendang. “Dengan membayangkan sosok guru, dendang sijobang yang dilantunkan akan lebih lancar dan baraso (berasa)”, ujarnya.

Itulah mengapa Andi selalu membawakan sijobang dengan mata terpejam. “Harus memejamkan mata dan membayangkan guru, kalau tidak begitu, gurindamnya jadi hilang” jelasnya. 

Kebiasaan ini juga bagian dari ajaran yang didapatnya di pesantren dahulu. Andi menerapkan prinsip ‘carilah rasa dalam kegelapan’ yang biasa dipakai para praktisi tarekat saat berdzikir. 

Di hadapanku, Andi mengubah posisi bersilanya. Kaki kanan ditegakan memberikan kesan santai sekaligus fokus. Tangan kirinnya bergerak menutup wajah dengan mata yang terpejam. Sementara jemari tangan kanan memegang kotak korek api setengah kosong di lantai. Pria ini terdiam sejenak. Dia sedang melakukan rabithah, memunculkan sosok ayah sekaligus gurunya dalam ingatan. Sesaat kemudian alunan syair dan pantun mengalir lancar dari mulutnya. Diiringin ketukan kotak korek api yang menghentak berirama.

Apakah ritual ini membuat sijobang yang dibawakannya menjadi lebih indah?. Entahlah, yang pasti Andi terlihat sangat menghayati bait demi bait yang dibawakannya. 

Identitas di Balik Syair

Setiap kali membawakan sijobang di daerah lain, Dt. Kodo selalu mengawali dengan imbauan/syair pembuka gubahannya sendiri, yang menggambarkan alam Sungai Talang. Syair tersebut seakan menjadi deskribsi dirinya saat menghabiskan masa kanak-kanak sebagai pengembala di lereng perbukitan.

Andi punya caranya sendiri untuk menggambarkan identitasnya. Dia menyusun syair pembuka dengan pujian pada Yang Maha Kuasa dan Shalawat kepada Baginda Rasulullah. Dengan mata terpejam dan tangan kiri menutup telinga dia melantunkan;

Bissmillah di awal kato

Alhamdulilah kato mamuji

Salam shalawat ka Muhammad

Salam sanjuangan kapado nabi

Syafaat bagindo Rasululloh, 

Salam kapado kito basamo, Oiii…

Imbauan yang syarat dengan kesan agama itu seakan mengisahkan dirinya sebagai seorang guru agama dan santri. Seorang yang mencintai seni tanpa meninggalkan jalan agama yang suci. Begitulah Andrianto menegaskan statusnya.

 Sijobang Menurut Andi 

Andi menyanyikan sijobang dengan iringan ketukan kotak korek api (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Kepadaku Andi menjelaskan tentang hakikat sijobang. Dalam pandangan pria berusia 49 tahun ini, inti dari sijobang adalah ‘cerita’ atau dalam istilah minang lama disebut dengan kaba. Kaba yang dibawakan adalah epos Anggun nan Tongga. Cerita ini dinyanyikan dalam bentuk pantun dan gurindam dengan irama mirip dendang tigo sapilin dan cancang kambiang yang terkenal dalam pertunjukan saluang klasik. 

Oleh karena itu, syarat pertama yang harus dimiliki jika ingin menguasai sijobang adalah memahami kisah Anggun nan Tongga. Setelah itu barulah dipelajari tentang penyajian kisah tersebut dalam bentuk pantun dan gurindam dengan irama khas serta iringan ketukan kotak korek api.

Pada titik ini, kreatifitas tukang sijobang berperan penting. Cerita tidak bisa disampaikan seperti membacakan sebuah novel. Tukang sijobang harus piawai dalam membuat perumpamaan, menyelipkan petatah-petitih, dan menyusun gurindam sembari tetap membiarkan dirinya dan pendengar terhanyut dalam alur. Itulah kenapa pertunjukan sijobang bisa memakan waktu yang lama. 

Andi memberikan contoh dengan menyanyikan adegan “Bujang Salamat berjalan menuju Anggun nan Tongga”. Kalimat yang terdiri dari tujuh kata tersebut dia dendangkan secara berbunga-bunga selama hampir sepuluh menit. Itupun dengan tempo yang telah dipercepat.

Sekarang aku paham, semakin kreatif seorang tukang sijobang, semakin panjang pula pertunjukan yang dibawakan. Pantas saja, Nigel Phillips pernah menulis bahwa gurunya—Munin—butuh waktu tujuh malam penampilan dari lepas isya hingga fajar untuk menyelesaikan kisah Anggun nan Tongga.

Sijobang: Nasibmu Kini dan Nanti

Kepadaku Andi secara tegas menyatakan ketidak setujuannya pada ungkapan “sijobang adalah kesenian yang akan punah”. Dia yakin akan selalu ada yang mempelajari kesenian ini dan meneruskannya pada generasi berikutnya. Silsilah sijobang yang dipegangnya sekarang sudah jawek-bajawek (sambut menyambut) setidaknya empat generasi; sejak Rasyid dari Sungai Talang, Munin dari Kuranji, Asrul Dt. Kodo dan dirinya. Andi optimis akan ada tokoh di generasi berikutnya yang manjawek tradisi ini.

Bukan sekedar optimisme buta. Andi menyimpan hasrat untuk mengabadikan sijobang dalam bentuk buku. Dia ingin menulis suatu naskah utuh kaba Anggun nan Tongga dalam sijobang. Bahkan Andi telah menyalin beberapa bagian kaba yang dia simak dari Dt. Kodo. 

Ide ini sudah lama ingin  ia diwujudkan, namun terhalang oleh keterbatasan waktu di sela kesibukannya sebagai seorang guru. Dia berharap ada dukungan dari pihak terkait untuk membantunya mewujudkan misi tersebut.

Hal lain yang ingin dilakukan Andi adalah mengembangkan sijobang dalam bentuk yang baru. Pria ini bahkan punya ide inovatif untuk membawakan sijobang dengan kisah berbeda. Salah satu yang tercetus di pikirannya adalah membawakan kisah Mbah Macan, sebuah tokoh dalam cerita rakyat yang terkenal di Dharmasraya, tempat Andi dan keluarga berdomisili saat ini.

Aku bertanya apakah gagasan tersebut tidak akan menimbulkan kontroversi di kemudian hari!?. Bisa jadi orang-orang yang berpegang teguh pada otentifikasi budaya akan langsung tampil dan menentang. Bukan tidak mungkin dia akan dituduh mengubah seni sijobang yang aslinya merupakan kaba Anggun nan Tongga menjadi kesenian lain.

Andi dengan santai membantahnya. Menurutnya, sijobang sejatinya akan tetap Anggun nan Tongga. Karena dari nama alias tokoh itulah nama kesenian ini berasal. Namun mengembangkan sijobang bukanlah suatu tindakan pencemaran akan tradisi. Sebagaimana karya kreatif dendang sijobang yang dibawakan para seniman muda seperti Rendi Kurnia Illahi, Anyqu, Agung Hero Hendra dan Uria Novita. Sama sekali tidak menyinggung tentang kisah Anggun nan Tongga, namun tetap tampil mempesona.

Lebih lanjut Andi menyatakan bahwa suatu kesenian seperti sijobang bisa dibawakan dalam bentuk apa saja. Bahkan untuk dakwah sekalipun. Di depanku dia mengalunkan kisah terusirnya Nabi adam AS. dan ibunda Siti Hawa dari syurga persis seperti rujukan dari kitab siroh. Semuanya dengan irama dendang khas sijobang lengkap dengan ketukan kotak korek api yang khas. Harus aku akui, sepertinya akupun tertarik dengan ide kreatifnya.

Saat ini Andi aktif membagikan video dirinya saat membawakan sijobang di dunia maya. Penampilannya dapat dilihat di channel youtube “Andrianto,S.Pdi” atau di akun facebook pribadinya “Andrianto spdi”. Inilah langkah yang diambilnya untuk memperkenalkan kembali sijobang pada dunia yang mungkin sempat hampir lupa. 

***

Sudah hampir tengah malam ketika aku mohon diri untuk pulang kembali ke rumah orang tuaku di Kuranji. sepanjang perjalanan, pikiranku melayang kepada percakapan dengan Dt. Kodo saat beliau menceritakan Andi kepadaku dulu. Di antara pohon-pohon karet yang ditanam di sekeliling pondoknya, aku bertanya pada sang maestro, apakah putra beliau juga sering diundang bersijobang?. “Ndak!” jawabnya cepat, “Belum pernah dia saya lepas ‘bermain’. Lagipula, sekarang gelanggang untuknya sudah tidak ada” ujar beliau waktu itu. Bahkan sampai hari inipun aku masih bisa merasakan nada sedih dalam kata-katanya. 

Fakta yang disampaikan Dt. Kodo tidak serta merta membunuh kesetiaan Andi pada tradisi yang ia warisi. Meskipun ‘gelanggang’ tradisional seperti di malam pernikahan atau acara adat sudah tidak lagi menampilkan sijobang. Dia terus berjuang dengan gelanggang baru; media sosial dan lembaran kertas yang ingin dia susun agar tradisi ini tetap bisa dinikmati. 

Obrolan kami malam itu memercikkan optimisme dalam hatiku.  Dengan adanya orang seperti Andi, yang begitu mencintai sijobang. Bukan tidak mungkin kesenian ini akan bangkit lagi. Dan anak cucu kita dari luhak Limopuluah Kota akan kembali bisa menyimak kaba Anggun nan Tongga di masa depan. Tidak mustahil sama sekali!, karena Andi masih melantunkan dendangnya dalam kesunyian, masih setia menunggu pendengar di gelanggang yang dia siapkan sendiri (Df).

Penulis:
Diwan Fadli
Lahir di Kuranji, Nagari Guguak VIII Koto, Kecamatan Guguak, Kabupaten Limapuluh Kota. Saat ini berdomisili di Kabupaten Agam dan berprofesi sebagai seorang guru di MTsN 6 Agam. Ia merupakan seorang pecinta budaya yang senang menggali dan mendokumentasikan budaya lokal seperti kesenian, beladiri, kuliner tradisional, dan ritual adat.