Tulisan Saudara Muhammad Nurazmi Harza mengenai pelaksanaan Haul Datuk Ibrahim Tan Malaka di Pandam Gadang adalah bagian dari dinamika intelektual yang patut dihargai. Kritik tidak pernah menjadi musuh bagi gagasan. Justru dalam tradisi berpikir seorang Tan Malaka, perdebatan adalah napas yang menghidupkan akal.
Namun sebagai Ketua Panitia, saya merasa perlu meluruskan beberapa hal agar publik mendapatkan gambaran yang utuh.
Haul sebagai Kesadaran, Bukan Mistifikasi
Haul bukanlah praktik “logika mistika” sebagaimana dituduhkan. Ia adalah bentuk penghormatan sosial dan kultural terhadap tokoh yang telah memberi sumbangsih besar bagi republik ini dan bagi Minangkabau.
Menghormati bukan berarti mengkultuskan. Menabur bunga bukan berarti menyembah tanah. Seremoni bukan berarti mematikan akal.
Bangsa yang matang tidak alergi pada simbol. Simbol adalah bahasa kolektif untuk menyatakan bahwa sejarah tidak boleh dilupakan. Tan Malaka pernah dihapus dari narasi resmi republik. Hari ini, negara dan pemerintah daerah hadir bukan untuk menjinakkan gagasannya, tetapi sebagai bentuk pengakuan bahwa sejarah pernah keliru memperlakukannya.
Itu bukan kemunduran. Itu koreksi.
Seremoni dan Substansi Tidak Bertentangan
Benar bahwa Tan Malaka melahirkan Madilog untuk membebaskan bangsa dari cara berpikir irasional. Namun, apakah setiap kegiatan penghormatan otomatis bertentangan dengan Madilog? Tentu tidak.
Madilog mengajarkan berpikir kritis, bukan membenci tradisi. Ia menolak takhayul, bukan menolak penghormatan sejarah.
Haul ini tidak berdiri dalam ruang hampa. Ia adalah momentum untuk mengingat, membaca ulang, dan membuka kembali diskusi tentang pemikiran Tan Malaka. Jika masih ada kekurangan dalam memperluas ruang dialektika, itu menjadi catatan evaluasi bagi kami ke depan.
Tetapi menyederhanakan seluruh kegiatan sebagai “teater elite” atau “jimat politik” adalah penilaian yang tergesa-gesa.
Keterlibatan Pemerintah Bukan Feodalisme
Kehadiran pejabat daerah tidak otomatis berarti feodalisme. Pemerintah adalah representasi negara di daerah. Menghadirkan mereka dalam haul adalah bentuk pengakuan institusional atas jasa seorang tokoh bangsa.
Sebagai seorang Datuk dalam tradisi Minangkabau, Tan Malaka tentu memahami bahwa kepemimpinan selalu berada dalam ruang sosial dan struktur masyarakat. Menghadirkan unsur pemerintah bukan untuk menciptakan sekat, melainkan untuk memperluas legitimasi sejarahnya.
Jika ada kekurangan dalam teknis pelaksanaan, kami terbuka untuk evaluasi. Tetapi menafsirkan setiap protokol sebagai bentuk pengkhianatan terhadap adat adalah simplifikasi yang kurang adil.
Pemuda dan Masa Depan
Saya sepakat bahwa pemuda harus menjadi motor penggerak. Haul ini bukan panggung untuk membungkam generasi muda, melainkan pintu masuk agar mereka kembali membaca Tan Malaka secara serius.
Jika ada kegelisahan bahwa ruang dialektika kurang luas, mari kita buka ruang itu bersama. Kritik seharusnya menjadi jembatan dialog, bukan tembok kecurigaan.
Karena pada akhirnya, tujuan kita sama: memastikan bahwa Tan Malaka tidak hanya dikenang sebagai nama, tetapi dipahami sebagai gagasan.
Penutup
Haul bukanlah akhir perjuangan. Ia adalah momentum refleksi.
Sebagai Ketua Panitia, saya menerima kritik sebagai bagian dari tanggung jawab moral. Namun saya juga berkewajiban meluruskan bahwa kegiatan ini dilandasi niat baik: menjaga memori sejarah, merawat marwah nagari, dan membuka jalan bagi generasi muda untuk mengenal tokoh besar kelahirannya.
Jika ada yang ingin memperdalam diskursus Madilog, mari kita duduk bersama. Karena Tan Malaka tidak akan hidup dalam polemik, tetapi dalam keberanian berpikir dan bekerja nyata.
Mengambil ungkapan Mr Syafrudin Parawira Negara , kita mestinya Jangan Kehilangan objektifitas sekalipun terhadap orang yang tidak kita sukai.

Penulis:
Desmar Ayudi
(Ketua Panitia Haul Tan Malaka)