Membakar Masa Depan Demi Keuntungan: Ketika Karhutla Bukan Bencana Alam Melainkan Bisnis Haram

oleh | Okt 22, 2026 | Opini

Kalau kita mau menyelesaikan dan membongkar siapa dalang di balik kabut asap yang menyelimuti negara kita ini, kita tidak cukup hanya berhenti pada sebuah pertanyaan siapa yang membakar hutan ini. Kita juga harus bertanya: Siapa yang diuntungkan dari lahan yang terbakar ini?

Di sinilah rente ekonomi kebakaran lahan menjadi penting kita bahas dan pertanyakan. Ternyata ada sebuah penelitian yang benar benar menghitung nilai ekonomi tanah dari sebelum dan sesudah di bakar. Center for International Forestry Research (CIFOR) melakukan penelitian ini di Riau dengan pengamatan di beberapa titik dari 2013, 2014 dan 2015. Memang, kalau di lihat sekarang kebakaran hutan dan lahan (KARHUTLA) yang paling banyak di Kalimantan, tapi bukan itu yang penting. Yang penting sekarang adalah mekanismenya.

Herry mengatakan bahwa membuka lahan dengan cara membakar menjadi sebuah pilihan favorit, karena mudah, murah dan cepat. Sedangkan, jika menggunakan cara-cara pengolahan lahan yang seharusnya, akan mengeluarkan modal yang mahal, terlebih lagi di lahan yang gambut seperti di Kalimantan dan pastinya juga akan lebih sulit.

Selain itu Herry juga menyampaikan penyebab dorongan kuat pembakaran lahan terjadi. “Adanya Rente Ekonomi Kebakaran Lahan”.Dari temuan lapangan, harga lahan satu hektar, kalau belum dibakar Rp 1,5 juta. Harga lahan tebas dan tebang Rp 8,650 juta. Harga tanah makin tinggi ketika lahan sudah dibakar, menjadi Rp 11 juta lebih per hektar. Tak heran, jika kebakaran hampir setiap tahun terjadi di Kalimantan dan Sumatera.

Jadi ketika lahan di bakar, kabut asap kemana-mana, ruang untuk bernapas terganggu, masyarakat banyak yang mengalami ISPA dan ekonomi masyarakat juga terganggu, harga makin naik. Yang jadi pertanyaan kita sekarang adalah siapa yang di untungkan dalam hal ini?……. Demn Brooo!!!!

Lebih parahnya lagi dalam penelitian tersebut di jelaskan ketika lahan sudah hangus kemudian hujan turun, bibit sawit ditanam, 3 tahun kemudian harga jualnya bisa melejit tinggi menjadi 40 jutaan/hektar.

Lebih mengejutkan lagi, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada tahun 2019, menyebutkan bahwa 99 persen kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di Tanah Air disebabkan oleh manusia dan 1 persen disebabkan saja yang disebabkan oleh faktor alam.

Dari hasil temuan tersebut, coba kita bedah menggunakan logika ekonomi yang paling telanjang. Kamu ingin membuka lahan komersial untuk sawit, alih-alih membuka lahan dengan cara menyewa alat berat atau membayar upah buruh tebas manual, kamu cukup menunggu musim kemarau, lalu menyalakan api bermodal sebuah korek. Dalam sekejap, lahan bersih dari semak. Tanpa perlu menggunakan modal yang besar untuk menanam ribuan bibit sawit lalu kamu hanya butuh menunggu selama 3 tahun dan kamu dapat meraup keuntungan dari hal tersebut hingga 40 jutaan/hektar.

Kesimpulannya, pembakaran hutan dan lahan bukan sekedar cara tradisional, melainkan trik jalan pintas mencari keuntungan sebesar-besarnya. Api digunakan sebagai alat termurah untuk membersihkan lahan dan menggelembungkan harga jual tanah dalam waktu yang singkat.

Penulis:
Zikri Hidayatullah
Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan yang saat ini menduduki posisi sebagai Kepala Divisi Politik Kajian Strategi dan Advokasi, Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang.
Instagram: @mas_kumis15