Perdebatan mengenai Islam dan Marxisme memang sering kali berhenti pada kesimpulan yang terlalu sempit, Islam adalah agama, sedangkan Marxisme adalah materialisme, maka keduanya pasti bertentangan. Dari logika sederhana ini lahir juga tuduhan bahwa seorang Marxis atau mungkin juga komunis dengan sendirinya adalah anti-agama. Jika kita lihat dalam sejarah, penjelasannya tidak sesederhana itu.
Dalam pengantar buku Bolshevik dan Islam justru memperlihatkan bahwa persoalan Islam dan Marxisme dapat jauh lebih rumit. Keduanya memang dapat bertemu karena memiliki perhatian terhadap keadilan, solidaritas, dan pembelaan terhadap kelompok tertindas. Namun, kesamaan nilai tersebut tidak juga berarti keduanya memiliki dasar pemikiran yang sama. Marxisme memahami nilai-nilai tersebut melalui dinamika material rakyat, relasi produksi, dan pertentangan kelas. Sedangkan Islam menempatkan keadilan dan solidaritas dalam kerangka fitrah manusia serta hubungan dengan Tuhan. Artinya bahwa sesuatu yang tampak sama secara politik belum tentu berangkat dari fondasi epistimologi yang sama.
Perbedaan tersebut menjadi penting, karena sering kali pertemuan antara Islam dan Marxisme hanya dibangun secara taktis. Ketika keduanya menghadapi musuh yang sama, terutama kolonialisme dan imperialisme keduanya dapat berdiri dalam barisan yang sama. Tetapi ketika situasi politik berubah, perbedaan ideologis yang sebelumnya tertutupi oleh kepentingan bersama dapat muncul kembali. Karena itu, sejarah perjumpaan Islam dan Marxisme tidak dapat dibaca hanya sebagai kisah persahabatan, tetapi juga tidak tepat jika kita reduksi menjadi sejarah permusuhan.
Selain itu, dalam pengantar buku Bolshevik dan Islam juga mengajukan kritik terhadap cara sebagian Marxis memahami agama. Materialisme Marxis memiliki kecenderungan melihat perkembangan sejarah menuju masyarakat yang semakin sekuler. Dalam kerangka ini, keberadaan agama dapat dipandang sebagai konsekuensi dari kondisi material yang belum terbebaskan. Ketika relasi produksi menjadi lebih egaliter, agama diasumsikan akan kehilangan relevansinya.
Namun, apakah keberagamaan memang harus dipahami sebagai sesuatu yang pasti lenyap? Dalam penjelasannya buku ini menawarkan pembacaan lain. Islam menurutnya, tidak cukup sebagai seperangkat hukum dan doktrin yang kaku. Islam juga merupakan pengalaman sosial-historis manusia. Menurut Shahab Ahmed yang dikutip dalam buku ini, praktik Islam terbentuk melalui perjumpaan teks Islam, kebudayaan yang telah ada, dan konteks sosial tempat Islam dijalankan. Karena itu, Islam sepanjang sejarah hadir dalam bentuk yang beragam, luas, atau bahkan kontradiktif. Kontradiksi tersebut bukan semata-mata penyimpangan, melainkan bagaimana manusia menjalankan dan memberi makna terhadap Islam.
Konsekuensinya cukup serius bagi Marxisme. Jika agama terutama Islam merupakan bagian dari pengalaman sosial manusia, maka keberadaannya tidak dapat diperlakukan sekedar sebagai kesalahan kesadaran yang menunggu dikoreksi. Buku ini bahkan menyarankan agar kaum Marxis mengevaluasi kembali anggapan bahwa masyarakat maju harus bergerak secara linier menuju kesadaran nir-Tuhan, keberadaan masyarakat yang tetap beragama harus diterima sebagai kenyataan material yang harus dipahami, bukan otomatis dianggap sebagai bukti keterbelakangan.
Persoalan inilah yang membuat buku Bolshevik dan Islam karya Dave Crouch menjadi penting. Buku tersebut memberikan gambaran historis bahwa hubugan komunisme dengan agama, khususnya Islam tidak sesederhana narasi bahwa kaum komunis sejak awal datang untuk menghapus agama. Crouch menunjukan bahwa program Partai Bolshevik memang secara ideologi ateis, tetapi dilain sisi ateisme bukanlah syarat keanggotaan partai. Lenin bahkan secara tegas menolak gagasan menjadikan ateisme sebagai tuntutan yang harus dipaksakan kepada kaum pekerja. Bagi Bolshevik, agama tidak dapat dihapus hanya melalui propaganda. Lenin justru memahami bahwa akar keberagamaan berkaitan dengan kondisi sosial kaum pekerja yang tertindas dan tidak berdaya menghadapi kekuatan kapitalisme.
Penolakan yang dilakukan Lenin tidak berarti semata-mata Lenin berubah menjadi pembela agama. Bolshevik tetap merupakan gerakan materialis yang mengkritik agama. Tetapi terdapat perbedaan mendasar antara kritik terhadap agama sebagai sistem keyakinan dan memperlakukan orang beragama sebagai musuh politik. Crouch menunjukkan bahwa Lenin bahkan menganggap memaksa buruh meninggalkan agama sebelum bergabung dengan gerakan revolusioner sebagai tindakan politik yang keliru. Perbedaan tersebut semakin terlihat ketika revolusi berhadapan dengan masyarakat Muslim, sekitar 16 juta Muslim hidup di wilayah bekas Kekaisaran Rusia. Pada tahun-tahun awal setelah Revolusi Rusia 1917, Bolshevik justru berusaha melibatkan umat muslim dalam kehidupan politik revolusioner dan membangun front persatuan dengan organisasi-organisasi Islam.
Salah satu contoh penting adalah Mirsaid Sultan Galiev. Ia berasal dari keluarga ulama, lalu bergabung dengan Bolshevik, dan mencoba mempertemukan Marxisme, nasionalisme, dan Islam. Upaya tersebut menunjukkan bahwa identitas Muslim dan keterlibatan dalam gerakan komunis pada masa itu tidak selalu dianggap sebagai dua identitas yang mustahil berada dalam satu tubuh politik. Sultan Galiev memang kemudian mengalami pembersihan politik di bawah Stalin karena dianggap terlalu jauh mendukung nasionalisme dan agama. Pada titik ini, penting untuk membedakan Bolshevisme awal dengan Stalinisme. Crouch dalam bukunya menunjukan bahwa kampanye anti-Islam yang semakin keras, termasuk program Hujum dan pemaksaan pembukaan cadar bagi perempuan Muslim, berkembang sejak akhir 1920-an. Kebijakan tersebut bahkan memunculkan perlawasanan dan dalam sejumlah kasusu justru memperkuat keterikatan masyarakat terhadap Islam. Sejarah tersebut memberikan pelajaran sederhana tetapi penting, bahwa komunisme tidak memiliki satu pengalaman tunggal mengenai agama. Ada ateisme filosofis, ada kritik terhadap institusi keagamaan, tetapi juga ada pengakuan terhadap kebebasan beragama, penerimaan kader yang beragama dan kerja sama politik dengan kelompok-kelompok Islam.
Setalah pengantar panjang ini, mari kita masuk ke Tan Malaka. Tan tidak perlu diputihkan dari identitas politiknya, ia adalah seorang Marxis dan materialis. Ia juga melakukan kritik terhadap agama dan apa yang ia anggap sebagai cara berpikir mistik. Menyangkal kenyataan tersebut hanya untuk membuktikan Tan ‘bukan anti-agama’ justru merupakan sebuah pembacaan yang tidak jujur terhadap pemikiran Tan.
Tetapi kemudian, apakah seorang Marxis yang mengkritik agama otomatis merupakan pembenci agama? Tan Malaka sendiri dalam Komunisme dan Pan-Islamisme menjelaskan bahwa ia tidak memperlakukan Islam hanya sebagai persoalan metafisik yang harus disingkirkan dari ruang politik. Tan melihat Pan-Islamisme sebagai kekuatan sosial yang dapat beririsan dengan perjuangan melawan kolonialisme, sikap tersebut sejalan dengan konteks yang lebih luas dalam sejarah gerakan kiri Indonesia, ketika hubungan Islam dan komunisme pernah muncul dalam berbagai bentuk. Kita juga perlu mengingat bahwa perkembangan awal komunisme Indonesia tidak dapat dilepaskan dari dinamika Sarekat Islam, sementara Haji Misbach bahkan memperlihatkan bagaimana identitas Islam dan komunisme dapat dipertemukan dalam perjuangan melawan kolonialisme.
Di sisi lain, Tan juga tidak dapat digunakan sebagai bukti bahwa Islam dan Marxisme sebenarnya identik. Justru, kita tetap perlu mempertahankan perbedaan ini. Islam dan Marxisme dapat bekerja sama tanpa harus menjadi satu ideologi, seorang Muslim dapat berjuang bersama seorang Marxis tanpa harus menerima seluruh materialisme Marxis. Sebaliknya, seorang Marxis dapat membangun front politik dengan umat Islam tanpa harus mengadopsi keyakinan teologis Islam. Maka persoalan terkait Tan Malaka, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan ‘Apakah Tan anti-agama?’ pertanyaan ini terlalu dangkal dan sempit. Seharusnya, yang lebih penting adalah bagaimana seorang Tan, sebagai seorang revolusioner Marxis memahami agama sebagai bagian dari masyarakat kolonial yang hendak ia ubah.
Jika ‘anti-agama’ berarti Tan memiliki kritik terhadap agama dan menolak fondasi idealisme keagamaan, maka kritik tersebut memang memiliki dasar. Tetapi jika istilah itu digunakan untuk menyatakan bahwa Tan sekedar membenci umat Islam, menolak seluruh orang beragama, atau bahwa menjadi komunis otomatis berarti memusuhi agama, maka kesimpulan tersebut tidak cukup ditopang oleh sejarah bahkan hampir tidak berdasar. Justru sejarah Bolshevik menunjukkan bahwa kritik filosofis terhadap agama tidak selalu identik dengan kebijakan politik untuk menghapus agama. Dan pengalaman Islam-Marxisme menunjukkan bahwa perbedaan ideologis tidak selalu menghalangi kerja sama politik. Karena itu, Tan Malaka tidak perlu dijadikan seorang Muslim saleh untuk membuktikan bahwa ia bukan musuh agama. Ia juga tidak perlu diberishkan dari materialismenya agar dapat diterima oleh orang beragama. Tan harus dibaca sebagai seorang Marxis, materialis, revolusioner, sekaligus seorang pemikir yang hidup dalam masyarakat yang pengalaman sosialnya sangat dipengaruhi Islam.
Kesimpulannya, persoalan terbesar bukankah apakah Tan harus dibela atau diserang karena identitas komunis dan materialisnya. Persoalan sessbenarnya adalah cara kita membaca sejarah, menyamakan komunisme dengan anti-agama berarti menghapus keragaman pengalaman sejarah komunisme itu sendiri. Sebaliknya, mengatakan Islam dan Marxisme sepenuhnya harmonis juga sama kelirunya karena mengabaikan perbedaan epistemologis di antara keduanya. Lebih masuk akal adalah mengakui keduanya sekaligus, Islam dan Marxisme memiliki perbedaan mendasar, tetapi keduanya pernah dan dapat kembali berjumpa dalam kondisi sosial tertentu.
Dalam ruang perjumpaan itulah Tan Malaka bukan sebagai orang suci yang harus dibela, dan bukan pula sebagai entitas anti-agama yang harus dikutuk, melainkan sebagai bagian dari sejarah panjang usaha manusia mempertemukan keyakinan, materialisme, dan perjuangan melawan penindasan.
Sebab sejarah tidak pernah sesederhana slogan ‘menjadi komunitas berarti anti-agama’. Membacanya demikian bukan hanya menyederhanakan Tan Malaka, tetapi juga menyederhanakan Islam, Marxisme, dan sejarah itu sendiri.

Penulis:
Wahyu Purnama
Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Pedesaan IPB/Alumnus Ilmu Politik Universitas Andalas