MADILOG, Buku Beracun Komunis

oleh | Agu 10, 2026 | Kaji, Opini

Untuk menilai konsistensi pemikiran seseorang, salah satu caranya ialah membaca semua karyanya secara kronologis. Dengan begitu, kita jadi tahu bahwa si Fulan, dari tahun ke tahun hidupnya, konsisten dengan pemikirannya. Jika pun pemikirannya berubah, maka perubahan pemikirannya gampang sekali teridentifikasi, karena terlihat dari tahun kapan ia menulis karyanya. Saya memakai cara kronologis ini untuk menilai konsistensi sikap kritis Tan Malaka terhadap agama-agama, yang tercermin dalam karya-karyanya, terutama MADILOG. Saya akan menelusuri isi karya-karya Tan Malaka yang ditulisnya sebelum ia menulis MADILOG dan setelah ia menulis MADILOG. Dari situ, akan nampak konsistensi kritisismenya terhadap agama-agama.  

Mari kita mulai penelusuran kronologis atas konsistensi kritisisme Tan Malaka atas agama-agama dalam karya-karyanya antara tahun 1922 dan tahun 1926 sebelum ia menulis MADILOG. Di tahun 1922, dalam teks pidatonya yang disampaikan di Kongres Komunis Internasional Ke-4 para tanggal 12 November 1922 berjudul “Komunisme dan Pan-Islamisme”, Tan Malaka menulis: “…ketika saya berdiri di depan Tuhan saya adalah seorang Muslim, tapi ketika saya berdiri di depan banyak orang saya bukan seorang Muslim, karena Tuhan mengatakan bahwa banyak iblis di antara manusia.” (hal. 3). Saat anggota Sarekat Islam meminta bantuannya menggerakkan buruh perusahaan kereta api Belanda untuk melakukan aksi mogok, dengan sinisnya Tan Malaka komentar: “Ya, Tuhan Anda maha kuasa, tapi Dia telah mengatakan bahwa di dunia ini pekerja kereta api adalah lebih berkuasa! Pekerja kereta api adalah komite eksekutif Tuhan di dunia ini.” (hh.3-4). 

Di tahun 1926, dalam karyanya berjudul Semangat Muda, Tan Malaka mengritik agama lagi: “Kaum agama menggambarkan surga persis seperti kehendak nafsunya sendiri. Begitu juga Kaum Utopis, seperti Thomas More, Saint Simon, Fourier dan Robert Owen menggambarkan masyarakat yang sempurna di dunia ini persis seperti nafsunya masing-masing. Kita Kaum komunis tidak mengambil gambaran Komunisme itu dari nafsu seorang tukang mimpi atau ahli nujum saja.” (hal. 9). 

Dalam karyanya yang terbit di tahun yang sama, berjudul Massa Actie, Tan Malaka juga mengritik agama; bahwa agama selalu dimanfaatkan organisasi feodalistik untuk menarik massa religius: “Sarekat Islam pada tahun 1913 tampil ke muka disertai suaranya yang gemuruh. Perhimpunan ini adalah penyambung aksi massa Timur setengah feodal yang sudah berabad-abad mengalami penindasan. Tetapi, ia bukanlah suatu aksi massa yang teratur, tetapi manifestasi dari  perasaan massa yang kurang senang di bawahpimpinan saudagar-saudagar kecil.Dengan melibat-libatkan agama, dikumpulkannya si Kromo ke dalam satu organisasi yang sangat picik. Dan pada permulaannya ditujukan untuk menentang saudagar-saudagar Tionghoa.” (hal. 101).

Sekarang saatnya kita meneliti isi MADILOG. Kritik Tan Malaka terhadap agama sungguh nampak amat konsisten saat kita meneliti isi MADILOG. Di halaman 25-26, Tan Malaka mengritik orang yang percaya Akhirat sebagai orang yang berpikiran dengan ‘Logika Mistika’—logika yang harus dijauhi kaum proletar komunis: “Janganlah dihampiri mereka, pekerja ini dengan “logika mistika’’. Atau kalau tuan begitu gemar akan logika mistika atau dialektika mistika tuan berlaku jujur. Jalankanlah akibatnya yang sebenarnya dari logika atau dialektika mistika tadi. Bilanglah saja terus terang, bahwa benda itu tak berarti apa-apa, kalau dibanding akhirat. Propagandakanlah bahwa benda dan nikmat di akhirat lebih banyak, lebih lezat dan lebih kekal… cocokilah dan ikutilah sikap dan tindakannya beberapa sekte atau mashap mistika, yang mencari cara yang baik buat membatalkan dunia ini, cara yang baik buat… mati, yang buat mereka berarti matihidup. Bilanglah terus-terang mati lebih baik dari pada hidup. Berlakulah begitu, supaya teori cocok dengan praktek, kata dengan laku. Dengan terus terang dan konsekwen bercakap begitu, kaum pekerja bisa memilih mana yang baik di antara Madilog atau Logika Mistika.” 

Di halaman 27-33, Tan Malaka mengritik orang beragama yang percaya bahwa Firman Tuhan bisa mencipta benda-benda (dalam Islam, ini disebut dalam ayat Quran: “faidza aroda syay’an an yaquula lahu Kun!’, fayakun.”). Tulis Tan Malaka: “Demikianlah Firmannya Maha Dewa Rah: Ptah : maka timbullah bumi dan langit. Ptah : maka timbullah bintang dan udara. Ptah : maka timbullah sungai Nil dan daratan. Ptah : maka timbullah tanah-subur dan gurun… Rah adalah Dewa Matahari, ialah Rohani, yang lebih dahulu adanya dari pada dunia, bumi, dan bintang dan langit. Maha Dewa Rah tentulah sempurna, yakni Maha Terkuasa, asal dari pada semua benda yang ada di dunia ini. Dengan Firman yang berbunyi Ptah saja Bumi, Langit, Bintang, beribu juta, sungai nil dan gurun Pasir bisa timbul. Timbulnya itu adalah pada satu saat saja, sesudah perkataan Ptah tadi difirmankan. Jadi rohanilah yang pertama, zatlah yang kedua. Zat ini berasal dari Rohani. Bukan sebaliknya, yakni rohani yang berasal dari zat. Firman RAH itulah yang menggambarkan jawab yang paling jitu dan konsekwen, jujur-dasar, atas pertanyaan yang maha penting dalam Filsafat: manakah yang pertama, dan mana yang kedua, mana yang asal dan mana yang akibat, di antara Zat dan Rohani?… Firman Maha Dewa Rah sudah tentu banyak juga kawannya di dunia sekarang. Firman Maha Dewa Rah sudah cukup, memberi gambarannya LOGIKA MISTIKA atau logika yang berdasarkan rohani…Pertama disini kita lihat kejadian yang berlawanan dengan common sense, pikiran sehat. Baik dalam kamarnya ahli pisah ataupun di luarnya tak pernah kita menyaksikan satu kata bisa menimbulkan benda. Dalam dongeng atau cerita memang kita cukup menjumpai kegaiban itu. Tetapi dalam 40 tahun belakangan ini saja, di antara 2.000.000.000 manusia itu belum pernah saya dengar satu makhluk yang bisa dengan kata saja menimbulkan seekor macan, jangankan lagi Bumi atau Bintang. Rohani, kata kosong, menurut pikiran sehat tak bisa menimbulkan benda. Tak ada itu tak bisa menimbulkan ada…”   

Di halaman 137, Tan Malaka mengritik agama: “Kalau tuan seorang Islam, bukanlah surga tuan juga bayangan dari masyarakat dan bumi Arab? Bukankah air zamzam dalam surga itu, barang yang luar biasa di gurun pasir Benua Arab? Bukankah bidadari yang matanya seperti mata merpati itu idaman Arab, dan Badui yang terutama. Sadarlah tuan dan jangan marah dan dogmatis!” Di halaman 296, Tan Malaka mengritisi rukun iman mengenai nabi dan rasul, terutama mengenai mukjizat yang dimiliki para nabi dan rasul. Tulis Tan Malaka: “Kalau ada kegaiban yang lain-lain yang juga ada pada kelilingnya Muhammad SAW, maka sebagian besar dari kegaiban itu timbul, berhubungan dengan pertanyaan yang sulit-sulit datangnya dari pihak Yahudi dan Kristen pada masa hidupnya Muhammad SAW. Pada masyarakat cerdas berdasarkan mesin dan listrik ini, masa pasti tak akan bisa timbul dan mengembang kenabian seperti pada zaman gelap-gaib dahulu itu.” 

Apakah setelah MADILOG, konsistensi Tan Malaka mengritik agama nampak dalam karya-karyanya? Jawabannya adalah konfirmatif. Di tahun 1945, dalam tulisannya berjudul Muslihat, Tan Malaka kembali mengritik agama. Menggunakan dialog imajiner antara seorang buruh tani (disebut Tan Malaka dengan ‘Si Pacul’), seorang buruh pabrik (disebut ‘Si Godam’), seorang tuan tanah (disebut ‘Si Toke’), seorang feodal keturunan raja (disebut ‘Si Denmas’), dan seorang intelektual borjuis (disebut ‘Mr. Apal’), Tan Malaka mengritik:

SI PACUL: Merdeka!

BERSAMA: Merdeka, Cul! Perubahan besar, Cul, buat engkau dari ucapan selamat pagi, apa kabar sampai merdeka! Kami kira engkau akan menyerbu dengan Kyai Kebal ke Surabaya! Sudahkah engkau terima jimat dan berkahnya Kyai Kebal. Mukamu berseri seperti baja saja, penuh kepercayaan.

SI PACUL: Betul saya percaya tetapi tidak atas kekebalan diriku sendiri. Saya percaya atas kekebalan 70 juta rakyat Indonesia. Asal saja semua syarat perjuangan dipahamkan dan MUSLIHAT dijalankan 70.000.000 manusia takkan dapat dijajah kembali (hal. 3).

Di tahun 1946, dalam tulisannya berjudul Thesis, Tan Malaka kembali mengritik agama. Tan Malaka percaya bahwa kegagalan PKI dalam ‘Pemberontakan

Banten” tahun 1926 adalah disebabkan karena anggota PKI di Banten masih percaya ‘sebab-sebab gaib’ bahwa Allah menyukseskan pemberontakan itu dan memenangkan kaum komunis Banten lewat perantaraan jimat dan karena iman mereka yang tebal. Mereka percaya bahwa jimat dan iman yang tebal menyebabkan kemenangan kaum komunis. Mengharap kemenangan dengan ‘sebab-sebab gaib’ seperti ini termasuk dalam kategori “Logika Mistika”—logika yang harus dijauhi proletar komunis. Kata Tan Malaka: “Para pemberontak Banten pula menjadi anggota PKI tentulah pula dalam filsafat hidup dan perjuangannya tiada berdasarkan Materialisme Dialektis, melainkan keteguhan kepercayaan pada Allah (Jimat). Tiadalah mementingkan murba dan massa aksi teratur melainkan iman dan ketabahan, bahkan tak memperdulikan senjata “lahir” sama sekali atau taktik strategi berjuang sama sekali.” (hal. 51).

Berdasarkan penelusuran kronologis, sebelum dan sesudah MADILOG ditulis, maka dapat disimpulkan dengan penuh kepastian bahwa hatta di dalam MADILOG pun, Tan Malaka konsisten mengritik agama. Awas! Di dalamnya banyak racun komunisme yang dibungkus dengan gula-gula rasionalisasi!  

Penulis:
Ferry Hidayat
Senior Researcher di Kolektif Wakaf Nalar (KWN), Penulis Buku Tan Malaka Secret