Manusia dan Dialektikanya

oleh | Jun 26, 2026 | Opini

Saya terkesiap dengan preferensi aksi pemikiran seorang penulis islamis yang dikenali sebagai kritikus Tan Malaka. Sementara soal kritik hermeneutika atas pemikiran Tan masih belum memuaskan saya, belakangan ini, sepulang dari ranah Minang, ia mengartikulasikan ketidaksepakatan pada aksi-aksi mahasiswa. Ia memilih mendukung Prabowo ketimbang mengapresiasi upaya kritik mahasiswa pada kekuasaan.

Hermeneutika politik jelas tidak dipergunakannya. Alhasil, ia gagal membedah lanskap isi pikiran mahasiswa. Ia hanya—dugaan saya—alergi, bahkan fobia pada kegandrungan sebagian mahasiswa kepada Tan Malaka, lantas memandangnya sebagai indikasi subversi dan artikulasi politik Kiri, bahkan komunis.

Saya tak pernah mendakwa diri sebagai ahli Tan, bukan pula kritikusnya. Kalaulah saya bicara tentang Tan, saya mesti memilah hikmah yang ada sembari menyimak kritik para ahli yang relevan, dan saya kritisi juga akurasinya. Kritik Syed Hussein al-Attas pada “kepolosan” Buya Hamka yang memuji Tan, contohnya. Di lain pihak, tak perlu semuanya di-Tan-kan; proporsional saja. Menjadi ahli soal Tan Malaka juga bukan jaminan ikut aksi pemikiran dia. Sering saya sebut, seorang juru bicara pemerintah adalah peneliti akademik soal Tan Malaka yang di zamannya terbilang langka.

Tujuh tahun lalu, di pertengahan Januari: “Kami terharu, masih ada yang mau mengkaji Tan Malaka, bahkan dari kalangan luar ‘keluarga’.” Sepotong kalimat itu diterima oleh tim media MISKAT usai publikasi acara MISKAT pada 4 Desember 2019 yang mengungkai legasi Tan Malaka.

Dibagikan di jejaring GARBI, ringkas cerita, sampailah informasi acara kami itu di telinga keluarga besar penulis MADILOG dan Indonesia Merdeka 100%. Seturut itu, pihak keluarga mengulukkan salam dan foto mereka di depan rumah sang pahlawan nasional pembentuk Partai Republik Indonesia.

Sejujurnya, ada yang menarik pada Ibrahim bin Rasad gelar Datuk Tan Malaka sebagai penempuh setia komunis. Kendati komunis, kelak cara berpikirnya melampaui para kawan separtainya. Pembacaan, logika berpikir (dengan cirinya: dialektika), dan keberaniannya untuk memegang pendapat, membuatnya dimusuhi. Bukan sekadar dilabeli sebagai kaum “revisionis”, Tan Malaka juga didudukkan sebagai orang berbahaya. Jadilah dia musuh bagi kaum komunis dan gerakan sosialis (terutama kubu Sjahrir dan Hatta). Jangan tanya bagaimana dia dibenci kubu Kanan dan imperialis. Amerika Serikat, Inggris, Prancis, hingga Belanda memburunya karena kekalutan atas kritik keras dan uraian provokatif Tan Malaka di pelbagai karya tulis dan orasi.

Maka, jadilah Tan Malaka seperti dongeng romantik. Diburu dalam pelarian 20 tahun lebih di berbagai negara, ia harus menyamar dan praktis tak boleh berbahasa Melayu agar tidak ketahuan oleh para telik sandi Kanan dan Kiri. Bahkan, sekadar tulisan yang dihimpun atau buku yang dikumpulkan, saban terdeteksi pasti disita. Ia pun harus berlari dengan baju yang melekat di badan, membiarkan semua properti intelektual itu disita atau dibakar. Mengumpulkan buku terlampau mahal baginya, tak sebaik takdir Bung Hatta. Karena itulah, karya-karya tulisnya “sepi” dari kutipan. Sebab, ia banyak mengandalkan ingatan atas pemahaman teks bacaan, serta “jembatan keledai” ciptaannya.

Seperti halnya dalam mendekap buku, soal asmara insani juga terlampau mahal bagi Tan Malaka. Cintanya acap kandas. Lima kali mencinta, tidak ada yang berbuah manis. Ia harus berlari dan bersembunyi dalam sepi, sebagaimana kala menyamar di Kalibata hingga terlahirlah MADILOG.

Bagi para murbais—kelompok massa pengikutnya—cara berpikir dialektika diletakkan di atas logis formal yang banyak dipegang Sukarno dan Hatta. Tentu ini klaim pengikut Tan Malaka, yang kemudian dikaitkan dengan kesuksesan cara membacanya atas jalannya revolusi negerinya.

Tapi memang tak salah bila berpikir dialektik itu mereka banggakan. Serupa keluarganya yang merasa “kesepian” dan berharap anak negeri ini mengulas narasi Ibrahim Tan Malaka. Namun, kami di sini menemukan hikmah: tentang cara berpikir, tentang bagaimana kesilapan yang ada, termasuk kala Tan Malaka menjadi begitu “kaku” bila berpegang pada kitab suci dan “nabi” komunisnya.

Ya, arif dan kritis itulah yang saya tempuh. Tanpa benci dan sinis. Tak sampai dengan bahasa tubuh ironis seperti yang saya sayangkan dilakukan seorang ustaz muda kenalan saya di Depok pada anak-anak muda Minang yang gandrung kepada Tan. Mereka, anak-anak muda termasuk para aktivis mahasiswa yang bersuara kepada pemerintah hari ini, “memakai” Tan Malaka sebenarnya lebih sebagai respons zaman yang dilihatnya tak adil. Terlepas mereka membaca utuh atau tidak, gandrung latah atau bukan, pilihan memakai analisis Tan Malaka tak perlu dirisaukan. Justru kekuasaan yang koruplah yang patut dirisaukan.

Penulis:
Yusuf Maulana
pecinta buku-buku lawas dan sehari-hari mengelola Samben Library Yogyakarta. Selain sebagai kolumnis lepas di Republika online, ia menuangkan refleksi dan amatannya dalam bentuk buku. “BUYA HAMKA: Ulama Umat Teladan Rakyat”, “Mufakat Firasat”, Manifesto Masjid Nabi”, NUUN, Kalam Pencandu Buku–judul-judul ini sebagian dari karyanya yang diterbitkan berbentuk buku cetak.