Lembaran Usang yang Bernapas: Fragmen Sejarah dan Manuskrip Peninggalan Tuanku Samiak Biaro

oleh | Jun 9, 2026 | Kaji

Lembayung masa lalu membawa langkah saya berziarah ke sebuah tempat di Ampek Angkek, sebuah ceruk berwibawa di jantung Luhak Agam. Di tanah yang hening itu, jemariku menyentuh lembaran-lembaran usang yang seolah bernapas; manuskrip-manuskrip agung milik sang pilar cahaya, Tuanku Syekh Samiak Ilmiyah di Biaro.

Beliau adalah bintang gemintang yang menyinari abad kesembilan belas, seorang rabi penyair ilmu yang mendirikan mihrab peradaban berupa surau sakral. Ke sanalah para urang-urang siak para pencari tuhan dan pemburu kebenaran berbondong-bondong datang dari segenap penjuru rahim Minangkabau. Di bawah atap berkah itulah, sang pemikir ulung abad kedua puluh, Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung (1871-1970), pernah mereguk cawan-cawan makrifat hingga jiwanya purna.

Foto: Kondisi Naskah koleksi Tuanku Samiak (Dok. Apria Putra)

Meskipun badai modernitas perlahan mengikis tradisi halakahnya, surau kayu itu tetap tegak menantang zaman hingga pengujung abad kedua puluh. Namun, takdir mencatat duka yang pekat: benteng sejarah tempat bermulanya fajar pendidikan Islam itu harus tunduk pada amukan api yang misterius. Dalam kepungan jago merah yang melahap memori, tangan-tangan yang gemetar mencoba merenggut sisa-sisa kejayaan dari rahim kepulan asap. Kitab-kitab suci tulisan tangan manuskrip yang menyimpan rahasia langit dan bumi dilemparkan tergesa-gesa melalui celah-celah jendela yang mulai runtuh, berserakan laksana permata di atas tanah halaman yang memanas.

Hanya segelintir saksi bisu yang berhasil diselamatkan dari lahapan abu; serpihan sisa kejayaan itu kini bersemayam dengan khidmat di Balai Gurah, menjadi oase kecil yang sempat kukecap keindahannya dalam rihlah spiritualku kali ini.

Foto: salah satu teks Takwil Gempa dari koleksi naskah Tuanku Samiak

Suatu waktu, di penghujung tahun (2012), Yusri Akhimuddin, dosen sekaligus peneliti manuskrip dari Batusangkar, menyelesaikan magister Filologi di UIN Syarif Hidayatullah, dengan yudisium cumlaude. Yusri mengangkat ‘naskah-naskah takwil (ta’bir) gempa’ dalam tesisnya. Ia telah menginventaris 16 teks takwil gempa dari berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari Aceh sampai Cirebon, dan yang mendominasi yaitu wilayah Minangkabau. Naskah-naskah takwil gempa Minangkabau berasal dari berbagai surau, seperti Surau Ulakan, Surau Lubuak Ipuah, Surau Malalo dan lain-lainnya, di mana surau-surau tersebut berada di daerah rantau dan pesisir, dan terikat kuat dengan tradisi tarekat Syatariyah.

Di temukannya 2 teks Takwil Gempa dalam koleksi naskah peninggalan Tuanku Samiak menambah jumlah teks takwil gempa di Minangkabau (ketika Tesis Yusri rampung belum ditemukan). Namun uniknya, 2 teks takwil gempa tersebut di temukan di darek, di mana komunitas tarekat Naqsyabandiyah lebih mendominasi.

Adapun, teks takwil gempa versi Biaro ini terdapat pada kulit kitab, pertama pada kulit kitab (naskah) tafsir, kedua kitab (naskah) Minhaj al-Talibin.

Di samping itu, dalam satu bagian, yaitu pertengahan naskah Minhaj al-Talibin (Fiqih Syafi’iyyah), terselip dua halaman mengenai petunjuk pemberian nama-nama yang baik terhadap anak. Pemberian nama-nama itu dikaitkan dengan bulan lahirnya. Misalnya bulan Ramadhan, maka nama yang baik diberikan ialah si polan, si polan, si polan… dst. Nama-nama yang tercantum dalam teks itu terdiri dari nama-nama Nabi, istri-istri Nabi dan lainnya. Informasi ini cukup menarik.

Perlu juga diketahui, bahwa koleksi naskah Tuanku Samiak yang saya amati, sebagaimana naskah-naskah keagamaan di surau-surau lain di Minangkabau, menunjukkan eksistensi Mazhab Syafi’I yang kuat. Hal ini tercermin dari pemakaian kitab-kitab karangan ulama-ulama kenamaan Syafi’iyyah, seperti Imam Nawawi, Imam Suyuthi dan Imam Mahalli. Imam Nawawi menyusun kitab fiqih yang sangat popular di dalam dunia Islam, yaitu Minhaj al-Talibin, yang dari dulu di pakai luas, hingga sekarang tetap menjadi literatur wajib ilmu Fiqih pada madrasah-madrasah dan universitas di berbagai belahan dunia, khususnya di Minangkabau.

Adapun Imam Suyuthi dikenal luas, salah satunya dengan tafsir yang ditulisnya bersama Imam Mahalli. Tafsir itu sangat fenomenal, yaitu Tafsir Jalalain, artinya tafsir dari dua Jalaluddin. Kedua ulama ini sangat masyhur dalam dunia Islam.

Imam Mahalli menulis komentar (syarah) yang menjelaskan kitab Minhaj al-Talibin Imam Nawawi. Komentar ini juga sangat populer. Yaitu berjudul Tuhfat al-Raghibin Syarah Minhaj al-Talibin, atau di surau-surau lebih dikenal dengan nama ‘kitab Mahalli’, pelajaran tingkat takhassus.

Karya-karya ulama-ulama tersebutlah yang menjadi koleksi Tuanku Samiak yang saya saksikan. Dalam koleksi itu ada Minhaj, ada Jalalain, pastinya menurut garis Mazhab Syafi’i.

Foto: Naskah al-Qur’an koleksi Tuanku Samiak Biaro (Dok. Apria Putra)

Jika naskah-naskah koleksi Tuanku Samiak lain dalam format besar dan tebal-tebal, kali ini ditemui naskah ukuran saku, berupa al-Qur’an tulisan tangan. Konon saya dengar cerita-cerita dari beberapa orang surau, al-Qur’an tulisan tangan dulu itu mempunyai rahasia dalam penulisannya. Ketika saya tanyakan, mereka menjawab, pada ayat ‘wal yatalattaf’ (pertengahan al-Qur’an, pada surat al-Kahfi) terdapat ukir-ukiran yang bila dilihat dengan kaca pembesar akan ditemui tulisan-tulisan kecil berupa ‘Ismul A’zham’. Itulah sebabnya banyak penjaja-penjaja naskah di beberapa daerah mati-matian memburu-buru manuskrip al-Qur’an, karma nilai jualnya mahal. Begitu ungkapan orang-orang tersebut.

Namun, ketika saya balik-balik pada surat al-Kahfi, kalimat ‘wal yatallaf’ ditulis biasa saja, tidak ada tanda, baik dipinggir atau lainnya. Meski tidak menemui apa yang diceritakan itu, saya besar dugaan terdapat keunikan lain dalam naskah ini, apakah dari segi ‘rasam’ atau ‘qira’at’ yang dipakai dalam penulisannya.

Penulis:
Apria Putra
Merupakan seorang filolog sekaligus dosen di UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi yang memiliki kompetensi dalam kajian naskah dan tradisi intelektual Islam Minangkabau. Pendidikan strata satu (S1) ditempuh di IAIN Imam Bonjol Padang pada jurusan Sastra Arab. Untuk studi strata dua (S2) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan konsentrasi Filologi Islam atau Pengkajian Islam, yang memperkuat kapasitas metodologisnya dalam analisis teks klasik. Saat ini, ia tengah menempuh pendidikan doktoral (S3) di institusi tempatnya mengabdi, dengan jurusan Pendidikan Agama Islam. Apria, juga dikenal dengan koleksi manuskripnya yang signifikan, dengan kepemilikan sekitar 80 manuskrip kuno yang menjadi sumber primer dalam studi filologi. Selain itu, ia juga menghimpun lebih dari 350 kitab ulama Minangkabau yang terbit pada periode kolonial.