Rahmah El Yunusiyyah: Manifestasi Perlawanan dan Daulat Pendidikan Perempuan

oleh | Mei 2, 2026 | Kaji

Momen Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) sering kali terjebak pada romantisme seragam dan birokrasi. Padahal, jika kita menengok ke Padang Panjang pada awal abad ke-20, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan sebuah instrumen resistensi kultural dan politik.

Di sana berdiri tegak Rahmah El Yunusiyyah, sosok perempuan yang membuktikan bahwa bangku sekolah bisa menjadi parit pertahanan yang lebih tangguh daripada senjata.

Pendidikan sebagai “Self-Reliance”

Rahmah bukanlah sekadar pendidik; ia adalah arsitek kedaulatan. Di usianya yang baru 23 tahun pada 1923, ia mendirikan Diniyyah Puteri, sekolah perempuan pertama yang berasas Islam di Hindia Belanda. Istilah berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) bukan sekadar slogan baginya. Saat sekolahnya ambruk oleh gempa dahsyat yang mengubah peradaban Minangkabau, Rahmah menolak bantuan dari pemerintah kolonial Belanda maupun tokoh organisasi pria.

Inilah yang dalam studi pedagogi kritis disebut sebagai autonomi institusional. Rahmah sadar bahwa bantuan finansial dari penjajah adalah jerat yang akan menumpulkan kurikulumnya. ”Biarlah kami putri-putri Minangkabau ini yang merayu pencalang ini sampai ke pulau,” ujarnya. Sebuah penegasan bahwa harga diri bangsa dimulai dari kemandirian finansial dan intelektual perempuan.

Melawan Ordonansi dengan Independensi

Pemerintah Belanda saat itu berusaha meredam sekolah-sekolah rakyat melalui Ordonansi Sekolah Liar (Wilde Scholen Ordonnantie). Peraturan ini adalah upaya mereka untuk mengontrol setiap jengkal pemikiran masyarakat. Namun, Rahmah berdiri di garis depan pembangkangan sipil (civil disobedience). Ia menolak mematuhi aturan tersebut demi menjaga orisinalitas pendidikan bagi para gadis remaja, ibu muda, hingga janda yang ia rangkul.

Bagi anak pemuka Naqsyabandiyah terkemuka itu, pendidikan adalah paket lengkap: dari tafsir agama, pengetahuan umum, kepanduan, hingga ilmu kebidanan dan gymnastic. Ia adalah sosok yang cerdik belajar dari Belanda untuk kemudian melawan Belanda dengan ilmu mereka sendiri.

Resonansi Transnasional dan Jejak Perlawanan

Dampak dari kegigihan Rahmah tidak berhenti di lereng Gunung Singgalang saja. Ia melakukan gerilya finansial hingga ke Malaysia, mengajar di istana-istana demi membiayai sekolahnya di tanah air. Tak heran jika hingga hari ini, publik Malaysia kerap menunjukkan apresiasi yang lebih dalam terhadapnya. Tokoh-tokoh parlemen dan menteri di negeri jiran merupakan produk dari rahim intelektual yang ia bangun.

Di masa revolusi fisik, Rahmah membuktikan bahwa pendidik adalah juga pejuang lapangan. Ia terlibat mendirikan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dan membangun dapur umum saat PDRI bergejolak. Pendidikan di tangan murid Engku Muhammad Syafei, pendiri INS Kayu Tanam itu adalah alat kontra-hegemoni; ia tidak hanya mencetak perempuan yang pintar mengaji, tapi perempuan yang mampu mengorganisir serangan dan bertahan hidup di tengah kepungan musuh.

Refleksi Hardiknas
Hardiknas hari ini seharusnya mewarisi semangat resistensi intelektual Rahmah El Yunusiyyah. Bahwa sekolah bukan tempat untuk sekadar mematuhi “ordonansi” zaman yang sering kali bersifat materialistik, tapi sekolah adalah tempat menumbuhkan jiwa yang merdeka. Rahmah mengajarkan kita bahwa pendidikan yang sejati adalah pendidikan yang mampu berdiri tegak di atas reruntuhan gempa, menolak suap dari penguasa, dan tetap setia pada identitas serta kedaulatan bangsa, dan yang terpenting bersama mereka yang lemah dan mereka yang tertindas

Sumber:

  • Jasmi, K. (2020, 19 Juli). Rahmah El Yunusiyyah, Pejuang Perempuan Tiga Zaman | kata KJ [Video]. YouTube.
  • Ningsih, W. L. (2023, 4 Juli). Rahmah El Yunusiyah, tokoh emansipasi wanita dari Padang Panjang. Kompas.com.
  • Wirayudha, R. (2025, 11 November). Mengenal Pahlawan Nasional Rahmah El Yunusiyah. Historia.id.