Rujukan tulisan ini bertumpu pada sejumlah literatur klasik yang otoritatif, antara lain Riwayat Hidup Ulama Syafi’iyyah karya Syekh Yunus Yahya Magek (1976), Ayah Kita karya Abuya Baharuddin ar-Rasuli (1978), serta Sejarah dan Keagungan Mazhab Syafi’i karya Abuya Sirajuddin Abbas (1973). Ketiga karya ini bukan sekadar sumber historis, tetapi juga merepresentasikan intellectual genealogy ulama Minangkabau dalam merawat tradisi keilmuan Islam dari masa ke masa.
Pada masa kolonial Belanda, Minangkabau menempati posisi penting sebagai salah satu episentrum percetakan Arab di Hindia Belanda. Lanskap ini tumbuh beriringan dengan meningkatnya literacy culture dan gairah membaca masyarakat, yang disokong oleh melimpahnya karya tulis para ulama setempat. Fenomena ini memperlihatkan bahwa Minangkabau ketika itu bukan hanya ruang geografis, tapi sebuah milieu intelektual yang hidup, tempat tradisi keilmuan, pedagogi surau, dan pembentukan madrasah berjalin erat dalam satu ekosistem keagamaan yang kokoh.
Transformasi surau menjadi ratusan madrasah pada awal abad ke-20 menjadi penanda berkembangnya institusionalisasi pendidikan Islam yang khas, hasil formulasi lokal yang bertaut dengan tradisi turats sekaligus merespons modernitas kolonial.
Dalam konteks itu, lahirlah jaringan percetakan yang memainkan peran penting sebagai medium transmisi ilmu dan produksi wacana keislaman. Di antaranya tercatat nama-nama penting seperti Tsamaratul Ikhwan di Bukittinggi, KAHAMY, Limbago dan Percetakan Alam Minangkabau di Payakumbuh, Tandikat dan Sa’adiyah di Padang Panjang, al-Moenir, de Voltherding, Percetakan Orang Alam Minangkabau milik Datuk Sutan Maharaja, Pulobomer di Padang, hingga Mathba’ah al-Islamiyah di Fort de Kock. Deretan penerbit ini membentuk apa yang dalam kajian sejarah buku dapat disebut sebagai Islamic print network, sebuah jaringan produksi teks yang menjadikan kitab, risalah, dan karya ulama banyak beredar luas.
Di antara seluruh percetakan itu, Mathba’ah al-Islamiyah menempati posisi yang istimewa dan layak memperoleh perhatian khusus. Daya tariknya tidak semata karena ia sebuah rumah cetak, melainkan karena ia berfungsi sebagai simpul intellectual reproduction bagi tradisi ulama Minangkabau.
Adapun yang pertama, lembaga ini didirikan oleh figur yang memiliki otoritas moral dan reputasi besar di kalangan ulama. Kedua, orientasi penerbitannya secara konsisten berkhidmat pada publikasi karya ulama Minangkabau, termasuk kitab-kitab yang digunakan di madrasah dan surau, menjadikannya penjaga kesinambungan turats. Ketiga, Mathba’ah al-Islamiyah dikenang sebagai percetakan al-Qur’an pertama di Sumatra, sebuah capaian monumental dalam sejarah percetakan Islam kawasan ini. Keempat, percetakan ini berjasa menerbitkan naskah-naskah langka dan mendistribusikannya secara cuma-cuma sebagai bentuk khidmah bagi kemaslahatan umat.
Ada pula yang kelima, melalui buku-buku yang diterbitkannya, Mathba’ah al-Islamiyah berperan luas dalam mengukuhkan faham Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah dan otoritas Mazhab Syafi‘i di Minangkabau, sehingga ia juga dapat dibaca sebagai instrumen religious orthodoxy.
Kemajuan Mathba’ah al-Islamiyah tidak dapat dilepaskan dari sosok pendirinya, al-Marhum HMS. Sulaiman, seorang urang siak dalam idiom Minangkabau menunjuk kepada kalangan santri yang masyhur dengan kezuhudan, kedermawanan, dan watak wara‘-nya. Dalam figur HMS. Sulaiman, dunia niaga percetakan tidak dipisahkan dari misi dakwah dan pengabdian ilmu. Ia memperlihatkan bagaimana penerbitan dapat menjadi bagian dari cultural patronage, menopang reproduksi pengetahuan sekaligus menjaga otoritas keagamaan.
Tidak mengherankan jika ketokohannya begitu menonjol di kalangan ulama, terutama dalam lingkungan Persatuan Tarbiyah Islamiyah, sebagai wadah berhimpunnya Ulama Tuo Minangkabau. Dalam lanskap itu juga Mathba’ah al-Islamiyah bukan semata mesin cetak, tetapi sebuah ruang peradaban tempat teks, tradisi, dan otoritas ulama diproduksi, diwariskan, dan dipertahankan.
HMS. Sulaiman Bukittinggi
Dalam buah bibir kalangan ‘urang siak’, terdapat dua Sulaiman yang populer sebagai tokoh keagamaan, oleh karena itu penulis harus meluruskan terlebih dahulu siapa HMS. Sulaiman yang penulis maksud. Sulaiman pertama, yaitu Syekh Sulaiman ar-Rasuli (1871-1970), ulama besar Minangkabau yang terkenal sebagai salah seorang pendiri Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) sekaligus pendiri dan pemimpin Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung, yang juga menulis dan menerbitkan karyanya di Drukkerij al-Islamiyah Fort de Kock atau yang dikenal juga dengan Mathba’ah Islamiyah Bukittinggi. Sulaiman kedua, HMS. Sulaiman, seorang ‘alim pendiri Mathba’ah Islamiyah Bukittinggi. Kedua Sulaiman ini tidak hanya sekadar dikait-kaitkan karena kesamaan nama, tapi memang kedua tokoh yang terpandang ini mempunyai hubungan yang erat.
HMS. Sulaiman lahir pada paruh terakhir abad 19. Ia besar dan tumbuh dalam keluarga yang agamis dan cinta ilmu. Ketika usianya menanjak remaja, ia diserahkan ayahnya untuk belajar agama ke beberapa surau, sampai ia dikenal sebagai seorang malin (alim kecil). Ia kemudian bukan hanya tumbuh sebagai seorang malin, namun juga mempunyai ciri kecintaan dan kedekatan dengan ulama-ulama Minang di zaman itu. Selain itu ia juga dikenal dermawan. Ketika penerbit (waktu itu dikenal dengan Drukkerij atau Firma) Islamiyah Bukittinggi dibuka, ia secara berkala menerbitkan beberapa karya ulama dengan dananya sendiri. Hal ini dapat kita buktikan dari beberapa kitab cetakan Islamiyah, yang pada sampulnya tertulis: “atas nafkah HMS. Sulaiman Fort de Kock.” Di samping kitab-kitab, al-Islamiyah juga menerbitkan al-Qur’an, di mana sebelumnya al-Qur’an disalin dengan tangan atau dicetak batu. Konon al-Qur’an hasil cetakan al-Islamiyah ialah mushaf cetakan pertama di Indonesia.
Selain itu HMS Sulaiman juga sangat senang kepada ulama, sehingga ia secara cuma-cuma mewakafkan banyak kitab kepada ulama di maksud. Salah seorang ulama yang banyak mendapat wakaf kitab dari HMS. Sulaiman ialah Syekh Muda Wali al-Khalidi, Aceh yang juga memiliki darah Minang tepatnya di Tanah Datar, yang saat itu berada di Minangkabau.
Pada tahun 1928, diadakan pertemuan ulama-ulama Minangkabau di Bukittinggi dan membuahkan keputusan mendirikan Madrasah Tarbiyah Islamiyah dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah sebagai benteng ulama-ulama Ahlussunnah wal Jama’ah di Minangkabau. Ketika itu hadir ulama-ulama dari berbagi penjuru Minangkabau, antara lain Syekh Sulaiman ar-Rasuli, Syekh Muhammad Arifin Batuhampar, Syekh Abdul Wahid Tobek Gadang dan lain-lainnya, juga hadir HMS. Sulaiman. Dengan demikian, HMS. Sulaiman juga termasuk salah satu dari sederetan tokoh yang membidani berdirinya Persatuan Tarbiyah Islamiyah.
Di antara ulama-ulama yang mempunyai kedekatannya dengannya ialah tiga serangkai ulama Perti, yaitu Syekh Sulaiman ar-Rasuli, Syekh Muhammad Jamil Jaho dan Syekh Abbas Qadhi Ladang Laweh. Ketiga ulama inilah yang menyarankan kepada HMS. Sulaiman untuk mendirikan toko kitab sekaligus drukkerij (penerbit dan percetakan), yang kemudian ia namai Drukkerij Fort de Kock al-Islamiyah / Mathba’ah al-Islamiyah Bukittinggi.
Penerbit dan Percetakan Arab terkemuka di Sumatra Tengah
Drukkerij al-Islamiyah sonter menjadi salah satu dari sederetan toko dan penerbit kitab di SumatraTengah ketika itu. Untuk melengkapi keperluan kitab-kitab agama yang dipelajari di Madrasah (pesantren) Tarbiyah Islamiyah yang jumlahnya ketika itu lebih dari 300 buah, HMS. Sulaiman mendatangkan kitab-kitab terbitan Mesir, kemudian menjadikan tokonya untuk mendistribusikan kepada sekolah-sekolah agama yang membutuhkan. Selain itu, usahanya yang paling besar ialah mencetak kitab-kitab karya ulama Minangkabau sendiri. Untuk itu HMS. Sulaiman melengkapi Drukkerij al-Islamiyah dengan sebuah mesin cetak aksara Arab. Dengan itulah kitab-kitab ulama dicetak dan disebarkan. Kitab hasil cetakan al-Islamiyah terbilang rapi dan hampir menyamai kitab cetakan Mesir ketika itu.
Al-Islamiyah menjadi satu dari sekian penerbit yang terkenal dan yang mampu melewati tiga zaman hingga periode kemerdekaan RI. Dari zaman Belanda, Jepang dan zaman mendeka, al-Islamiyah telah berjasa dalam menyebarkan kitab-kitab ulama serta turats ulama Minangkabau seiring dengan tingginya minat baca dikalangan urang siak (santri) saat ini.
HMS. Sulaiman wafat di Padang pada 1972 setelah lama menderita sakit. Setelah wafatnya, kabar mengenai Drukkerij al-Islamiyah yang terkenal itu tidak kita dengar lagi. Mungkin percetakan ini diteruskan oleh anak-anaknya dan kemudian bergelut dengan percetakan modern, hingga hilang ditelan zaman. Atau masih ada namun tak setenar dulu, seperti halnya Maktabah Isa al-Babi al-Halabi di Kairo itu.
Salah satu kitab Melayu yang tampak baru karena dicetak ulang ialah “Nazham Nabi Bercukur” karangan Labai Sidi Rajo Sungai Pua. Saya mendapatinya pada deretan kitab-kitab berdebu di sebuah toko Aua Kuniang, Bukittinggi. Pada sampul kitab itu tertulis: dicetak oleh Mathba’ah al-Islamiyah Bukittinggi. Sempat saya tanyakan kepada pegawai toko dimanakan percetakan Islamiyah ini berada, ia menggeleng mengisyaratkan ketidaktahuannya. Saya rasa tinggal kenangan sudah.
Beberapa contoh: al-Qur’an dan Turats Ulama cetakan al-Islamiyah Fort de Kock



Semua Hanya Kenangan
Sayang, kita tidak mempunyai rekaman yang lengkap tentang penerbit ini. beberapa informasi singkat pernah diberikan oleh orientalis Belanda. Namun itu hanya sepintas, tidak sampai memberikan gambaran utuh tentang berbagai hal, seperti buku-buku yang pernah diterbitkan, riwayat akhir penerbit hingga lokasi dan lainnya.
Seperti halnya penerbit-penerbit Arab lainnya di Minangkabau, Mathba’ah Islamiyah hanya kita kenal dari catatan-catatan sepenggal dan hanya menjadi kenangan masa lalu; salah satu tonggak sejarah; di mana kaum agamawan haus ilmu dan mempunyai minat baca yang tinggi. Kontras dengan zaman sekarang tentunya.
Secercah Harapan
Dalam sebuah percakapan dengan seorang alumni Madrasah Tarbiyah Islamiyah, melompat keinginan untuk menerbitkan kembali turats ulama Minangkabau. Hal ini muncul karena telah teriventarisnya beberapa karya ulama Minangkabau yang dulunya menjadi master piece di zamannya. Keinginan itu disambut baik oleh teman-teman. Langkah awal ialah mendirikan penerbit sesuai prosedur yang berlaku, membentuk badah tahqiq dan pengelola penerbit tersebut. Kesadaran ini muncul karena motivasi keadaan kaum santri di Jawa yang begitu giat menjaga, merawat dan menerbitkan turats ulama.
Sempat terucap, “Sudah saatnya kita berinisiatif mengkhitmati ulama kita. Tak perlu lagi kita berharap banyak dengan persatuan-persatuan kaum agama di Sumatra Barat sendiri untuk menjaga kekayaan intelektual ulama silam. Bila tidak kita, siapa lagi!”.
Semoga terwujud dengan segera.

Penulis:
Apria Putra
Merupakan seorang filolog sekaligus dosen di UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi yang memiliki kompetensi dalam kajian naskah dan tradisi intelektual Islam Minangkabau. Pendidikan strata satu (S1) ditempuh di IAIN Imam Bonjol Padang pada jurusan Sastra Arab. Untuk studi strata dua (S2) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan konsentrasi Filologi Islam atau Pengkajian Islam, yang memperkuat kapasitas metodologisnya dalam analisis teks klasik. Saat ini, ia tengah menempuh pendidikan doktoral (S3) di institusi tempatnya mengabdi, dengan jurusan Pendidikan Agama Islam. Apria, juga dikenal dengan koleksi manuskripnya yang signifikan, dengan kepemilikan sekitar 80 manuskrip kuno yang menjadi sumber primer dalam studi filologi. Selain itu, ia juga menghimpun lebih dari 350 kitab ulama Minangkabau yang terbit pada periode kolonial.