Nasi Padang dan Distorsi Penamaan Etnis Minangkabau

oleh | Apr 13, 2026 | Opini

Para Perantau Minang barangkali memiliki keresahan yang sama saat berada di perantauan, terlebih jika berasal dari Bukittinggi, Payakumbuh, atau Batusangkar, dsb. Ketimbang harus pusing menjelaskan kota asal, kita semua lebih memilih untuk mengatakan asal sebagai “Orang Padang” karena tidak semua orang di pulau seberang kenal dengan istilah “Orang Minang” sebagai rujukan etnis.

Ditambah, mereka lebih familiar dengan stereotip bahwa Orang-orang Padang merupakan orang yang pelit dan tradisi “Orang Padang” laki-lakinya dibeli saat pernikahan. Padahal, tradisi tersebut hanya terjadi di wilayah Pariaman saja. Belum lagi kehadiran nasi padang yang berada di tiap-tiap sudut negeri semakin mempersempit pengertian masyarakat terhadap perbedaan “Orang Padang” dan “Orang Minang”.

Di balik kenikmatan nasi padang, sebenarnya ada beberapa faktor penyebab nasi padang bisa menyebar hingga ke sudut-sudut pinggiran berbagai tempat di Nusantara, bahkan sampai ke luar negeri. Nasi padang juga kental dengan nilai filosofis. Kalian pasti sadar, kenapa nasi padang itu lebih banyak porsinya saat dibungkus ketimbang makan di tempat? Beberapa sumber menyebutkan, hal tersebut merupakan bentuk apresiasi pemilik warung karena mereka tidak perlu repot untuk mencuci piringnya. Pemilik warung juga paham, jika nasi padang dibungkus, kemungkinan akan disantap beramai-ramai karena di daerah Minangkabau ada sebuah budaya yang bernama makan bajamba atau bisa diartikan “makan bersama”.

Popularitas Rendang

Rendang sendiri yang menjadi primadona menu nasi padang pernah dinobatkan sebagai makanan terlezat di dunia. Bahkan Gordon Ramsey pernah berkunjung langsung ke Bukittinggi, lebih tepatnya ke Ngarai Sianok untuk mencoba langsung membuat rendang di tempat asalnya.

Rendang memiliki role istimewa di hati Masyarakat Minang. Hal ini dikarenakan rendang merupakan olahan yang lumayan rumit saat dibuat dan pembuatan biasanya dilakukan beramai-ramai, sehingga rendang ini bisa bertahan berbulan-bulan jika dimasak dengan cara yang tepat. Di wilayah Minangkabau, rendang sering menjadi pilar utama alias main course hidangan untuk para tamu pada saat jamuan pesta. Selain itu, karena rendang adalah makanan yang awet, benda ini juga menjadi andalan para perantau sebagai bekal di perjalanan. Saya

teringat ketika masih kecil pada sebuah pesta pernikahan, saya menguping pembicaraan orang-orang tua. Mereka berspekulasi bahwa rendang dahulunya juga dipakai sebagai bekal untuk naik haji. Sebelum ada kapal terbang, orang-orang menggunakan kapal laut yang menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk pergi ke tanah suci dan membawa rendang sangat banyak sebagai bekal perjalanan.

Peristiwa PRRI

Merantau memang kebiasaan Masyarakat Minangkabau, namun salah satu penyebab rendang dan nasi padang bisa tersebar secara masif dapat dilacak dari berbagai faktor, salah satunya karena peristiwa PRRI yang terjadi pada tahun 1958. Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia atau lebih akrab dikenal sebagai PRRI merupakan gerakan perlawanan pemerintah daerah terhadap pemerintah pusat. Gerakan ini akhirnya melahirkan pemerintahan tandingan pada 15 Februari 1958 dengan pusat perlawanan di Kota Padang. Terbentuknya gerakan ini merupakan imbas dari kecemburuan masyarakat daerah terhadap pembangunan yang hanya berfokus di Pulau Jawa saja. Beberapa tokoh sipil dan tokoh militer sepakat untuk memberi peringatan kepada pemerintah pusat untuk merancang otonomi daerah yang pada akhirnya dipakai pada saat sekarang ini.

Singkat cerita, PRRI tumbang secara mudah karena tidak adanya kesiapan untuk berperang, pemerintah pusat menumpas gerakan ini melalui operasi militer yang memakan korban paling banyak di pihak PRRI. Selain itu, banyak rakyat sipil yang tak terlibat PRRI juga dibunuh dan menjadi korban kekerasan seperti penyiksaan, perampokan, bahkan disebutkan juga terjadi kekerasan berbasis gender pada masa tersebut. Jam Gadang yang merupakan ikon kebanggaan warga Bukittinggi, merupakan saksi bisu kekejaman yang terjadi dengan korban 187 orang di bawah pelatarannya.

Hal ini merupakan pukulan telak bagi Masyarakat Minangkabau. Mereka takut untuk berada di kampung halaman sendiri, jadi mereka memilih tujuan untuk meninggalkan kampung halaman dan menjelajah ke berbagai wilayah di nusantara. Eksodus ini dimulai setelah perang yang berakhir sekitar tahun 1961.

Miskonsepsi Penamaan Etnis

Keluar dari tanah kelahiran sebagai “etnis pesakitan”, tidak sedikit perantau yang mendirikan rumah makan sesampainya di perantauan. Dari sinilah awal mula

miskonsepsi terhadap kata “Padang”. Perantau yang tersebar lebih memilih kata “Padang” sebagai rujukan etnis, bukan “Minang”. Mereka gamang dan takut dicap sebagai pemberontak di perantauan jika menyandang nama “Minang” dan lebih memilih kata “Padang” sebagai rujukan etnis dan asal sebagai penamaan kontemporer, dan ternyata melekat sampai saat ini. Perubahan nama yang menanggalkan unsur Minang juga terjadi pada periode ini. Tak heran jika banyak ditemukan nama yang bernuansa barat ditemukan pada keturunan Minang setelah tragedi ini.

Sebenarnya, Kota Padang bisa berkembang karena bentukan kolonial yang membawa pekerja dari Nias pada abad ke16an dan juga para perantauan Tionghoa. Kota ini pada awalnya tidak memiliki jalinan sejarah begitu erat dengan penduduk Minangkabau yang mendiami wilayah darek atau luhak nan tigo (Agam, 50 Kota, dan Tanah Datar)kecuali sebagai tujuan perantauan. Kota ini bisa berkembang karena kebutuhan para meener yang menginginkan pelabuhan terdekat untuk mengangkut batu bara dari Kota Sawahlunto.

Di Sumatera Barat, kami sendiri tidak mengenal istilah “nasi padang”, masyarakat pada umumnya lebih awam menggunakan istilah nasi bungkuih, nasi ampera, atau los lambuang. Secara tidak langsung, popularitas Rumah Makan Padang juga berpengaruh terhadap stereotip penamaan Etnis Minangkabau.

Jadi, kepada cucu Dt. Parapatiah nan Sabatang dan cucu Dt. Katumangguangan, kalian lebih nyaman dipanggil sebagai “Orang Padang” atau “Orang Minang”?

Penulis:
Rega Maulana
(Alumnus Sastra Indonesia, Universitas Andalas yang lahir di Bukittinggi pada sabtu terakhir bulan Juni tahun 2000. Saat ini sedang berusaha membebaskan diri dari belenggu korporasi dengan cara menulis di media online dan kerja-kerja kebudayaan lainnya saat weekend atau di luar jam kerja nine to five.)