Mari flashback ke 1897, di Lihak Limo Puluah tepatnya di sebuah nagari bernama Pandam Gadang, lahir seorang anak dari pasangan H.M Rasad Chaniago dengan Rangkayo Sinah Simabua bernama Ibrahim, kelak dikenal sebagai Tan Malaka. Ia bukan sekadar produk kecerdasan individual, tapi adalah hasil dari collective investment masyarakat kampungnya.
Ketika gurunya di Kweekschool Fort de Kock, Horensma, melihat potensi luar biasa pada dirinya, warga kampung bergotong royong mengumpulkan biaya agar ia dapat melanjutkan studi ke Belanda. Di titik ini, pendidikan bukan lagi urusan personal, tapi telah masuk proyek sosial.
Lebih dari satu abad kemudian, pola yang serupa berulang dalam lanskap berbeda. Di Nagari Malalak Timur, Kabupaten Agam, seorang anak bernama Devit Febriansyah putra kuli angkut dan pekerja kulit kayu manis diterima di Institut Teknologi Bandung melalui jalur SNBP. Keterbatasan ekonomi nyaris menjadi penghalang, namun masyarakat hadir sebagai social safety net.
Donasi mengalir, dari puluhan ribu, ratusan ribu, hingga jutaan rupiah, membentuk jaringan solidaritas yang memungkinkan mobilitas sosial.
Fenomena ini bukan kebetulan historis, tapi adalah refleksi dari habitus budaya Minangkabau yang mengakar pada prinsip mutual aid. Sedang, dalam terminologi lokal, ia dikenal sebagai “batolong-tolongan” sebuah sistem etika kolektif yang menempatkan kepentingan individu dalam kerangka komunal. Keberhasilan seorang anak bukan hanya milik keluarga, tetapi juga simbol prestise nagari. Ini adalah bentuk communitarian ethos yang jarang bertahan di tengah arus individualisme modern.
Di samping itu, tradisi seperti batagak kudo-kudo pun juga menjadi metafora konkret dari prinsip tersebut. Dalam prosesi ini, warga bersama-sama menegakkan struktur utama Rumah Gadang bukan sekadar aktivitas konstruksi, melainkan praktik sosial yang merepresentasikan collective agency. Rumah yang berdiri bukan hanya bangunan fisik, tetapi simbol kohesi sosial yang menopang kehidupan bersama.
Jika kita boleh menengok lebih jauh, contoh dalam perspektif sosiologi pendidikan, kisah Tan Malaka dan Devit ngasih tahu kita bahwa akses terhadap pendidikan tidak selalu ditentukan oleh struktur negara semata, tetapi juga oleh kekuatan masyarakat sipil. Ketika negara belum sepenuhnya menjangkau wilayah periferal, masyarakat mengambil alih peran sebagai fasilitator mobilitas. Ini bisa dibaca sebagai bentuk bottom-up development, di mana perubahan lahir dari akar rumput.
Namun, di balik romantisme solidaritas itu, tersimpan ironi struktural, yang memperlihatkan adanya institutional gap kesenjangan antara idealitas kebijakan pendidikan dan realitas distribusi akses. Solidaritas memang mampu menjadi solusi jangka pendek, tetapi ia tidak bisa menggantikan peran negara dalam menciptakan sistem yang adil dan merata.
Meski demikian, kisah ini tetap menyisakan optimisme. Ia menegaskan bahwa dalam kondisi paling terbatas sekalipun, masyarakat masih memiliki kapasitas untuk memproduksi harapan. Seperti yang pernah digagas Tan Malaka, pendidikan bukan sekadar akumulasi pengetahuan, tetapi proses memanusiakan manusia humanizing process yang mengasah intelek, kehendak, dan rasa.
Dari Pandam Gadang hingga Malalak Timur, terbentang satu garis yang tak terputus: keyakinan bahwa masa depan dapat dibangun bersama. Dalam denyut gotong royong itu, Indonesia menemukan salah satu fondasi paling otentik dari keberlanjutan sosialnya.
Sumber:
• Pahlevi, Muhamad Zidan. “Tradisi Gotong Royong di Tanah Minang: Mengantar Mimpi Tan Malaka.” 27 Juni 2025.
• Metro TV. “Kisah Bapak Republik yang Dilupakan.” Wawancara Najwa Shihab dengan Zulfikar Kamaruddin. 12 Juli 2017.
• Voi.id, “Tan Malaka dan Gelar Bapak Republik: Inspirator Tokoh Bangsa Menuju Indonesia Merdeka.” 19 Agustus 2024.
• Yulianti, Cicin, ”Terharu! Warga Kampung di Sumbar Ini Kompak Patungan agar Devit Bisa Kuliah di ITB”, detikEdu, 10 Juni 2025.