Mengabadikan atau Mewarisi? Tan Malaka dan Tradisi Nalar Republik

oleh | Feb 27, 2026 | Opini

Bangsa ini memiliki kebiasaan yang tampak mulia, tetapi menyimpan paradoks: ia gemar mengabadikan tokoh-tokoh yang dulu mengguncangnya. Nama mereka dipahat, diperingati, dan dijadikan simbol kebanggaan nasional. Namun dalam proses itu, sering kali yang hilang justru daya ganggunya.

Perdebatan tentang Tan Malaka belakangan ini memperlihatkan gejala tersebut. Ada yang merayakan peringatan atas namanya sebagai bentuk penghormatan sejarah. Ada pula yang mengkritik, khawatir bahwa seremoni justru menjinakkan daya subversif pemikirannya. Polemik ini penting, tetapi sesungguhnya ia bukan soal tabur bunga atau tata acara. Ia menyentuh pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana republik memperlakukan nalar?

Tan Malaka bukan sekadar figur sejarah atau pahlawan nasional. Ia adalah metode berpikir. Dalam Madilog Materialisme, Dialektika, Logika ia menegaskan bahwa bangsa yang ingin merdeka tidak cukup dengan semangat. Ia memerlukan disiplin akal. Ia mengkritik cara berpikir mistis yang menerima sesuatu tanpa uji rasional. Ia menuntut keberanian untuk memeriksa realitas dengan logika, bukan sekadar perasaan atau kebiasaan.

Warisan inilah yang jarang dibicarakan secara serius.

Pengabadian dan Bahaya Kenyamanan

Sejarah modern menunjukkan bahwa tokoh radikal jarang dimusnahkan sepenuhnya. Lebih sering, mereka diintegrasikan. Nama mereka diakui, jasanya dihormati, dan kritiknya dipilih sesuai kebutuhan zaman. Proses ini terlihat elegan. Ia tidak melarang, tidak membungkam, dan tidak menekan secara kasar. Namun ia bisa menghasilkan sesuatu yang lebih halus: kenyamanan.

Ketika seorang pemikir yang dulu mengganggu kini terasa aman, ketika kritiknya tidak lagi membuat elite gelisah, ketika namanya lebih sering menjadi simbol daripada metode, di situlah kita perlu berhenti sejenak.

Tan Malaka adalah pengkritik kompromi. Ia tidak ragu berbeda jalan dengan arus besar politik zamannya. Ia menghendaki republik yang berdiri di atas prinsip, bukan kalkulasi sesaat. Ia menuntut disiplin organisasi dan kejelasan strategi. Ia keras terhadap musuh kolonial, tetapi juga keras terhadap kelemahan internal bangsa sendiri.

Apakah warisan itu masih kita jaga? Atau kita lebih nyaman menjadikannya bagian dari narasi resmi yang harmonis?

Mengabadikan tidak sama dengan mewarisi. Mengabadikan membuat nama tetap hidup dalam simbol. Mewarisi menuntut keberanian menanggung konsekuensi pemikirannya.

Republik dan Krisis Nalar

Republik hari ini tidak lagi menghadapi kolonialisme fisik. Namun ia menghadapi krisis lain yang tidak kalah serius: krisis nalar publik.

Ruang publik semakin bising, tetapi tidak selalu semakin jernih. Perdebatan politik sering terjebak pada polarisasi emosional. Argumentasi digantikan oleh slogan. Informasi berlimpah, tetapi kemampuan menyaring dan menimbangnya tidak selalu tumbuh seiring.

Dalam konteks ini, Madilog menjadi relevan bukan sebagai dokumen sejarah, melainkan sebagai metode. Tan Malaka mengajarkan bahwa berpikir harus sistematis, dialektis, dan berbasis realitas material. Ia mendorong bangsa untuk tidak tunduk pada mitos, takhayul, atau kultus figur.

Jika hari ini kita menyebut namanya tetapi tidak melatih generasi untuk berpikir kritis, maka yang hidup hanya citra, bukan nalar.

Republik yang sehat bukanlah republik yang bebas dari kritik. Ia adalah republik yang mampu bertahan karena kritiknya bekerja sebagai koreksi. Tanpa tradisi berpikir rasional, nasionalisme mudah berubah menjadi romantisme. Tanpa disiplin logika, keberanian mudah berubah menjadi kemarahan.

Seremoni sebagai Awal, Bukan Penutup

Seremoni pada dirinya tidak salah. Ia bagian dari memori kolektif. Ia bisa menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal sejarah. Tetapi ia menjadi problematis jika dianggap sebagai penyelesaian.

Peringatan atas nama Tan Malaka hanya bermakna jika ia membuka ruang diskusi yang sungguh-sungguh. Jika ia mendorong pembacaan ulang terhadap gagasannya. Jika ia berani menghadirkan perdebatan tentang relevansi kritiknya terhadap praktik politik hari ini.

Apakah republik kita telah bebas dari kompromi yang dulu ia kritik? Apakah elite kita telah sepenuhnya berpihak pada kepentingan rakyat? Apakah sistem pendidikan kita benar-benar melatih logika dan daya analisis?

Jika pertanyaan-pertanyaan itu tidak diajukan, maka penghormatan berubah menjadi rutinitas. Api tetap menyala, tetapi hanya sebagai penerang simbolik, bukan sebagai kekuatan yang membakar kemapanan.

Menjaga Tradisi Nalar

Mewarisi Tan Malaka berarti menjaga tradisi nalar republik. Artinya memberi ruang bagi pikiran yang mungkin tidak selalu menyenangkan. Artinya menerima bahwa gagasan bisa menguji bahkan institusi yang mengusung namanya sendiri.

Jika suatu hari sebuah universitas atas namanya berdiri, ukuran keberhasilannya bukan hanya pada gedung atau kurikulumnya, tetapi pada keberaniannya membiarkan mahasiswa menggunakan metode berpikir kritis untuk menguji negara, masyarakat, bahkan sejarah itu sendiri.

Tan Malaka tidak berbahaya ketika ia menjadi ikon. Ia berbahaya ketika ia menjadi metode.

Di situlah letak ujian kita. Apakah kita ingin republik yang nyaman dengan simbol, atau republik yang matang dalam nalar? Apakah kita cukup puas menghangatkan diri di sekitar api kecil, atau berani menjaga kobarannya agar tetap menyala?

Bangsa ini tidak kekurangan peringatan. Yang sering kurang adalah keberanian untuk berpikir sampai tuntas.

Tan Malaka tidak akan mati karena bunga. Ia akan mati ketika namanya membuat kita berhenti bertanya.

Dan republik tidak runtuh karena perdebatan. Ia runtuh ketika warganya kehilangan tradisi nalar.

Di antara pengabadian dan pewarisan, kita sedang memilih arah sejarah. Api itu sudah ada. Pertanyaannya tinggal satu: apakah kita menjaganya agar tetap membakar, atau sekadar memastikan ia terlihat menyala?

Penulis:
H. Hengky Novaron Arsil, SE., MM., Datuk Tan Malaka VII
(Baeh Satu Lantak Salapan, KP. Kusumojatiningrat, Raja Adat Kelarasan Bungo Satangkai, Suliki 50 Kota Payakumbuh)