Di Bawah Perteduhan: Maulang Kaji Tentang Hakikat Nilai Kasih Sayang

oleh | Feb 26, 2026 | Kaji

Dari seluruh nilai yang terkandung dalam akhlak Islam, nilai yang memiliki kedudukan dan urgensi tertinggi, yang berada di urutan terdepan, tak lain adalah nilai kasih sayang.

Kasih sayang tidaklah sekadar perasaan yang muncul dan bersifat temporal maupun terikat dengan sikap tertentu. Namun, kasih sayang seharusnya menjadi akhlak yang permanen dan mengakar kuat di dalam jiwa kemanusiaan, menyeluruh dalam seluruh norma-norma perbuatan yang mulia, baik itu bersama manusia maupun makhluk hidup lainnya.

Dari sini, kasih sayang menjadi tujuan tertinggi dan target teragung bagi risalah Islam, sebagaimana disampaikan dalam Al-Qur’an melalui firman Allah Swt. kepada Nabi Muhammad saw :

وَمَا أَرْسَلنَاكَ إِلّا رَحمةً للعَالَمِين

“Dan tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.”

(Q.S. Al-Anbiyā’: 107)

Penguatan terhadap nilai mulia ini terus-menerus ditanamkan dalam jiwa. Bahkan, kasih sayang tidak hanya terulang dalam Al-Qur’an ratusan kali, tetapi juga setiap perbuatan yang dilakukan oleh umat muslim pada umumnya diawali dengan bismillāhirrahmānirrahīm (dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Dalam pengulangan yang berkali-kali ini, nilai kasih sayang senantiasa hadir secara terus-menerus dalam kesadaran manusia hingga interaksi yang terjalin antara mereka berdasarkan atas kasih sayang dari Allah.

Dialah Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kasih sayang-Nya meliputi segala sesuatu. Allah menghendaki hamba-hamba-Nya memiliki sifat kasih sayang ini. Dan selama sifat kasih sayang ini merupakan sifat paling menonjol di antara sifat-sifat-Nya, maka manusia hendaknya juga saling mengasihi dan menyayangi sesama mereka.

Akan tetapi, sangat disayangkan, kita telah kehilangan norma mulia ini dalam pergaulan sehari-hari. Kekerasan telah menggantikan nilai kasih sayang dalam banyak interaksi umat manusia dan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Contoh kasus akan hal tersebut sangat banyak, seperti anak yang bersikap keras kepada orang tuanya, murid yang bersikap keras kepada gurunya, para pejabat yang berlaku kasar kepada rakyatnya. Belum lagi perbuatan zalim terhadap orang-orang yang tidak bersalah yang merenggut hak mereka, menumpahkan darah mereka tanpa dosa maupun kesalahan, atau bernafsu membunuh karena hal sepele. Aparat yang seharusnya mengayomi, bukan malah menghabisi, akibat hal tersebut kurangnya kepercayaan rakyat kepada pemimpinnya sendiri, bahkan tidak hanya kurang lagi, tapi kepercayaan itu sudah menjadi fiktif belaka.

Rubrik kriminal dalam berita harian telah menunjukkan kepada kita akan banyaknya kasus pembunuhan yang tidak beralasan atau yang muncul karena perkara sepele. Allah telah mengumpamakan orang yang keras hatinya dan yang telah tercabut kasih sayang darinya sebagai:

كالحجارة أو أشد قسوة

“Seperti batu, bahkan lebih keras lagi.”
(Q.S. Al-Baqarah: 74)

Perangai yang jauh dari kasih sayang ini merupakan perangai yang tidak pantas bagi seorang manusia yang telah dimuliakan Allah Swt. dengan menjadikannya sebagai khalifah di muka bumi untuk membangunnya dengan kebaikan dan menyebarkan nilai-nilai kemuliaan, yang terutamanya adalah nilai kasih sayang. Apabila nilai tersebut telah mengakar dalam jiwa, menghujam dalam akal, maka ia akan bertransformasi secara otomatis. Dan sifat kasih sayang pada waktu yang bersamaan terikat dengan sifat toleransi dan cinta terhadap seluruh makhluk yang ada di muka bumi ini.

Dari sini dapat kita pahami mengapa Islam memusatkan nilai ini secara khusus. Karena kasih sayang merupakan pemersatu norma-norma kebenaran dan kebaikan dalam eksistensi ini. Oleh karenanya, Rasulullah saw. telah menegaskan berulang kali dalam sabdanya:

إِرْحَمُوا مَن فِي الأَرْضِ يَرحَمْكُم مَن فِي السَّمَاءِ

“Sayangilah yang di bumi, maka yang di langit akan menyayangi kalian.” (H.R. Tirmidzi)

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمْهُمُ الرَّحْمَٰنُ

“Orang-orang yang mengasihi, mereka akan dikasihi oleh Allah Yang Maha Pengasih.” (H.R. Tirmidzi)

Maka kehidupan ini, baik kehidupan manusia ataupun makhluk hidup lainnya, harus dijaga dan dilindungi. Islam telah menganggap bahwa melukai satu orang itu sama dengan melukai seluruh umat manusia, sebagaimana hal tersebut tampak jelas dalam Al-Qur’an. Maka kasih sayang itu merupakan akhlak yang menjadi pagar yang melindungi kehidupan dengan berbagai bentuknya dari bermacam bahaya, hingga semua dapat menikmati hidup mereka dan bahagia di dunia yang mereka miliki dalam atmosfer kasih sayang.

Islam itu lembut, seperti embun subuh.
Tak membangunkan dengan bentakan, tapi menyentuh hati perlahan hingga ia bangkit sendiri, perlahan dalam terang. Ia bukan petir yang menggertak, tapi cahaya yang memandu bagi jiwa-jiwa yang gelap dan lelah mencari arah pulang.

Islam tak memukul dengan hukum, tapi mengusap dengan hikmah; menuntun tangan, bukan menunjuk-nunjuk; mengajak, bukan menghakimi.

Penulis:
Latif Kurniawan
(Mahasiswa Syariah Islamiyah, Al-Asmarya Islamic University Libya, Asal Nagari Sungai Antuan, Kec. Mungka)