Tulisan terbaru dari Fajirul Aflah yang membedah peringatan Haul Datuk Ibrahim Tan Malaka dengan pendekatan Sorelianisme, hegemoni, dan simulakra menawarkan satu tesis utama: bahwa seremoni adalah bentuk kooptasi, bahwa penghormatan adalah penjinakan, dan bahwa massa telah direduksi menjadi properti visual.
Saya menghargai usaha analitis tersebut. Namun ada satu asumsi dasar yang perlu diuji:
apakah setiap simbol pasti mematikan substansi?
Tan Malaka tidak pernah menolak simbol. Ia menolak irasionalitas. Dalam Madilog, yang ia lawan adalah cara berpikir mistis yang menutup ruang kritik, bukan praktik memori kolektif yang masih membuka perdebatan.
Jika haul ini benar-benar hegemonik dan menundukkan kesadaran, pertanyaannya sederhana:
mengapa kritik terhadapnya bisa terbit, beredar, dan diperdebatkan secara bebas?
Hegemoni bekerja dalam sunyi.
Yang kita lihat hari ini justru ruang polemik yang hidup.
Tentang Fetisisme dan Mistika
Menuduh tabur bunga sebagai fetisisme komoditas adalah generalisasi yang tergesa. Fetisisme terjadi ketika simbol menggantikan realitas. Namun simbol bisa juga menjadi pintu masuk menuju realitas, tergantung apa yang dilakukan setelahnya.
Jika setelah haul tidak ada pembacaan ulang buku, tidak ada diskusi, tidak ada gerakan, maka kritik itu relevan.
Tetapi jika haul menjadi momentum untuk membuka ruang literasi dan dialektika, maka ia bukan fetisisme, melainkan jembatan.
Logika mistika bukanlah kesalahan ejaan.
Logika mistika adalah penolakan terhadap rasionalitas.
Kesalahan ortografis pada spanduk — jika ada — adalah kelalaian teknis, bukan proyek ideologis.
Tentang “Teater Hegemoni”
Tesis bahwa massa dijadikan audiens pasif perlu diuji secara empirik, bukan retorik. Dalam setiap kegiatan publik selalu ada struktur acara. Itu bukan otomatis penjinakan.
Tan Malaka dalam Aksi Massa tidak mengajarkan alergi terhadap organisasi atau tata tertib. Ia justru menekankan pentingnya disiplin dan struktur.
Yang ia tolak adalah mobilisasi tanpa kesadaran.
Dan kesadaran tidak bisa diukur hanya dari foto atau susunan kursi.
Apakah Daya Subversifnya Mati?
Daya subversif mati ketika nama menjadi slogan kosong.
Tetapi hari ini yang terjadi justru kebalikannya: Tan Malaka kembali menjadi bahan perdebatan serius.
Ia tidak aman.
Ia tidak jinak.
Ia tidak dibekukan.
Ia sedang diuji.
Dan mungkin di sinilah ironi yang luput dibaca:
bahwa haul yang dituduh sebagai penjinakan justru memantik gelombang kritik yang memperlihatkan bahwa pikirannya belum netral.
Jika Tan Malaka hanya menjadi ikon formal tanpa daya ganggu, tidak akan ada esai panjang yang membedahnya dengan teori hegemoni.
Dari Seremoni ke Tanggung Jawab
Saya sepakat pada satu hal penting:
Tan Malaka tidak boleh berhenti di karangan bunga.
Karena itu tantangan sesungguhnya bukan membatalkan simbol, tetapi memperpanjang substansi setelah simbol selesai.
Melalui Yayasan Ibratama Ibrahim Tan Malaka, kami memperjuangkan pemulihan penuh hak-hak kepahlawanan beliau dalam sejarah nasional. Kami berhasil mendorong rumah Tan Malaka ditetapkan sebagai cagar budaya oleh kementerian terkait, agar jejak sejarahnya tidak hilang ditelan waktu. Kami juga telah mendapatkan lahan untuk mendirikan Universitas Islam Tan Malaka — sebuah ikhtiar jangka panjang agar gagasannya hidup dalam ruang akademik, bukan hanya dalam seremoni.
Membangun institusi jauh lebih berat daripada menulis kritik.
Tetapi kami memilih kerja yang berat itu.
Sebagaimana diingatkan oleh Sjafruddin Prawiranegara, “kita jangan kehilangan objektivitas sekalipun terhadap orang yang tidak kita sukai.” Prinsip itu yang kami pegang. Kritik yang objektif akan kami jadikan cermin. Kritik yang kehilangan objektivitas, kami sikapi dengan tenang.
Arahan Ketua Yayasan IBRATAMA juga jelas:
biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.
Tan Malaka pernah menegaskan bahwa air akan bertemu air, dan minyak akan bertemu minyak sesuai sifatnya. Perbedaan cara bersikap adalah penanda perbedaan watak berpikir. Jika mesjid pun dibangun lalu dianggap gereja oleh sebagian orang, maka persoalannya bukan pada bangunannya, melainkan pada cara pandang.
Kami tidak akan terseret ke dalam polarisasi emosional.
Tan Malaka tidak akan mati karena bunga.
Ia akan mati jika generasi hari ini berhenti berpikir dan berhenti bekerja.
Dan selama pikiran masih bergerak — bahkan untuk mengkritik kami — api itu belum padam.

Penulis:
Desmar Ayudi
(Ketua Panitia Haul Tan Malaka)