Al-‘Alim Al-Allamah Al-Mutafannin Al-Shufi Syekh Mahmud Abdullah atau yang lebih masyhur dengan sebutan “Baliau Tarantang”, merupakan salah seorang ulama ahli dalam banyak hal di Luhak Limo Puluah, beliau merupakan ulama yang memiliki dedikasi besar dan tak ternilai dalam pendidikan Islam. Sebagai seorang ulama tokoh pendidikan islam, beliau telah mendirikan beberapa madrasah yang menjadi basis intelektual Islam di beberapa daerah, selain itu beliau juga berjasa dalam mengembangkan ilmu tasawuf, khususnya Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah dan Tarekat Sammaniyah di wilayah darek.
Di samping itu, Syekh Mahmud juga mempunyai andil dalam mewariskan Silek Kumango, sebuah silat tradisional Minangkabau yang kental dengan unsur Islam, Syekh Mahmud memperolehnya dari Maulana Syekh Abdurrahman Al-Khalidi Kumango seorang ulama yang dikenal dengan aspek dakwah kultural nya melalui silek yang berlokus di Surau, pada masa itu.
Harau sendiri merupakan tempat Syekh Mahmud bermukim dan mendirikan surau nya. Surau tersebut di dukung dengan keindahan alam berupa tebing-tebing tinggi dan yang mana Harau sendiri telah menjadi sorotan dunia. Internasional sedari lama bahkan dalam segi publikasi Media Wisata: Majalah perjalanan dan situs-situs wisata seperti TripAdvisor, Lonely Planet, dan National Geographic sering kali memberikan rekomendasi atau menempatkan Lembah Harau dalam daftar tempat wisata yang wajib dikunjungi di Indonesia, dan disinilah Syekh Mahmud lahir, tepatnya di Nagari Tarantang, pada tahun 1901, serta menghabiskan masa kecil yang diisi dengan belajar dasar-dasar agama di beberapa surau tradisional kala itu.
Ketika remaja dan Syekh Mahmud setelah mempelajari al-Qur’an dan pokok-pokok agama, beliau pun mulai memperluas jejaring keilmuannya dengan cara meninggalkan Tarantang, kampung halamannya untuk kembali melanjutkan pengembaraan intelektualnya, tibalah Syekh Ahmad di daerah Mungka tepatnya di Surau Baru pada tahun 1917, tempat ulama besar pernah bermukim yakni Maulana Syekh Sa’ad Al-Khalidi Mungka, seorang tokoh yang pernah mendebat Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Di Mungka beliau belajar berbagai macam hal, dan besar kemungkinan beliau belajar kepada murid-murid Syekh Sa’ad, hal yang membuat beliau tidak sempat belajar Syekh Sa’ad ialah, karena majelis Syekh Sa’ad kala itu di isi oleh ulama yang terbilang tua.
Selain di Surau Baru Mungka, Syekh Mahmud juga belajar kepada Syekh Yahya Al-Khalidi Magek (1857-1943), di Kamang, Kab.Agam, di sana beliau menghabiskan waktu yang cukup lama belajar agama, bahkan di sana pula beliau mendapat ijazah Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah setelah talqin dan mengamalkan tarekat tersebut. Gurunya di Magek, Syekh Yahya Al-Khalidi tak lain ialah murid dari Syekh Sa’ad Mungka, terutama dalam Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah.
Syekh Yahya juga merupakan guru dari Syekh Sulaiman Ar-Rasuli Canduang, Syekh Abbas Qadhi, dan ulama-ulama Persatuan Tarbiyah Islamiyah lainnya. Di Magek, Syekh Mahmud pernah mengajar, menjadi ‘guru tuo’. Menurut sumber lain, Syekh Mahmud juga pernah belajar kepada Syekh Mudo Abdul Qadim Belubus (w. 1957) yang dikenal ulama ahli dalam 2 Tarekat, yakni Sammaniyah dan Naqsyababandiyah dan memiliki pengaruh yang luas serta disegani di Sumatra Tengah pada masanya. Di samping itu, pada tahun 1926, Syekh Mahmud berangkat ke Makkah. Besar kemungkinan di sana beliau menyempatkan diri untuk belajar agama dengan mengikuti halaqah-halaqah ilmu yang saat itu bertebaran di Masjidil Haram.
Setelah lama menuntut ilmu agama, sosok yang dikenal ahli dalam Silek Kumango itupun kemudian pulang ke Tarantang dan memulai halaqah pengajian nya, serta membina surau yang kemudian menjadi cikal bakal Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Tarantang. Murid-muridnya berdatangan dari berbagai daerah, seperti Riau, Jambi, dan Bengkulu.
Syekh Mahmud pun banyak mengajar berbagai disiplin ilmu, hingga pada akhirnya beliau juga turut memperkenalkan tasawuf, lewat Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah dan juga Tarekat Sammaniyah. Dan hal itu terbukti membuat surau yang beliau pimpin masyhur ke berbagai pelosok Luhak Limo Puluah khususnya, apalagi setelah MTI berdiri, maka pamor dari MTI Tarantang sebagai lokus pendidikan Islam di Luhak Limo Puluah pun terangkat, dibuktikan dengan banyaknya anak Siak yang menuntut ilmu ke sekolah yang beliau dirikan itu.
Berbicara soal Tarekat yang ada pada Syekh Mahmud, bahwa beliau telah mendapat ijazah Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah dari Syekh Yahya Al-Khalidi. Ijazah itu tentu menjadi legalitas untuk beliau dalam mengajarkan Tarekat Naqsyabandiyah, sehingga beliau menjadi salah satu ulama berpengaruh dalam bidang ini, khususnya di wilayah darek.
Murid- murid beliau pun cukup banyak, dan berasal dari berbagai daerah, menjadi ujung tombak penyebaran Tarekat Naqsyabandiyah. Selain Tarekat Naqsyabandiyah, Syekh Mahmud juga mendapat ijazah Tarekat Sammaniyah. Belum diketahui dari siapa beliau menerima ijazah tersebut. Namun kunjungannya belajar ke Surau Tobiang, tempat Syekh Mudo Abdul qadim patut diduga, sebab Surau yang di ampu oleh Syekh Mudo tersebut. Di samping itu Surau Subarang tempat Syekh Abdurrahman Kumango pun bisa menjadi dugaan selanjutnya, tempat Syekh Mahmud berguru Tarekat Sammaniyah, yang mana Syekh Abdurahman Kumango sendiri merupakan guru dari Syekh Mudo Abdul Qadim, yang mana ulama besar bernama kecil “Alam Basifat” itu juga disebutkan belajar ke Madinah Munawwarah, tepatnya kepada Sayyid Muhammad Amin Ridhwan Madinah, Syekh Sammaniyah dan Syekh Dalail Khairat yang terkenal abad 19 di tanah Suci itu.
Adapun murid-murid beliau tercatat dengan nama sebagai berikut :
- Syekh H.Abdul Wahab Kuntum;
- Syekh H.Rajinan;
- Syekh Engku Dt. Maliputi Alam;
- Buya Dt. Kacang;
- Syekh Engku Mudo Barmawi;
- Syekh Engku Nurdin Solok;
- Syekh Sa’in bin Yusuf Dt. Kondo nan Bajolai, Batulabi Mungo;
- Khalifah Hasan Marah;
Dan masih banyak nama-nama besar lainnya.
Karena dedikasinya dalam pengembangan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah, pada tahun 1954, beliau pun diundang oleh Dewan Tarekat Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) untuk menghadiri konferensi kala itu, yang mana hadir lebih kurang 280 ulama besar Tarekat dari berbagai penjuru Sumatra Barat, bahkan dari luar. Hal ini sekaligus membuktikan kepada kita bahwa kontribusi beliau sangat luar biasa dahulunya.