Batang Agam: Etalase Kemajuan yang Berceceran Sampah Birahi

oleh | Feb 24, 2026 | Opini

Payakumbuh sedang sibuk memoles wajah. Batang Agam dijajakan ke mana-mana sebagai kebanggaan, tempat orang pamer gaya di bawah terik matahari pagi. Tapi begitu malam datang, wajah molek itu luntur seketika. Di balik gelap yang sengaja dipelihara, Batang Agam berubah menjadi “kamar hotel terbuka” bagi mereka yang sudah putus urat malunya.

Penemuan BH dan celana dalam di pinggiran jalan Batang Agam pada 23 Februari 2026 sebagaimana yang dibeberkan akun Instagram @pykupdate bukan lagi sekadar urusan sampah. Itu adalah simbol kekalahan. Kekalahan pemerintah dalam menjaga martabat ruang publik, dan kekalahan kontrol sosial yang selama ini kita agung-agungkan.

Faktanya area yang gelap, sepi, dan minim patroli adalah undangan terbuka bagi maksiat. Batang Agam di malam hari bukan lagi milik rakyat Payakumbuh yang ingin berekreasi, tapi milik sekelompok orang yang mencari celah di balik pekatnya malam.

Penyimpangan ini dimulai dari Pemerintah daerah yang sanggup membangun jalan aspal yang megah dengan anggaran miliaran, tapi seolah lumpuh hanya untuk sekadar memasang lampu penerangan yang layak. Apakah pemerintah sengaja membiarkan kawasan ini gelap? Karena di balik kegelapan itulah, tanggung jawab pengawasan seolah bisa ikut disembunyikan.

Jika pemerintah absen di titik-titik rawan ini, jangan salahkan jika “sampah birahi” yang kemudian hadir mengisi kekosongan itu.

Apa gunanya narasi pembangunan setinggi langit, jika sekadar berjalan di ikon kota sendiri saja masyarakat dipaksa menanggung risih? Temuan pakaian dalam itu adalah tamparan bagi siapa saja yang mengaku pemimpin di kota ini. Itu bukan sekadar kain yang tertinggal; itu adalah martabat warga Payakumbuh yang terinjak-injak di ruang publik mereka sendiri.

Keresahan warga hari ini bukan karena kami kolot atau anti-hiburan. Kami hanya tidak ingin adik-adik kami tumbuh besar dengan melihat bahwa ruang publik adalah tempat yang “lumrah” untuk berbuat asusila. Selama Satpol PP hanya patroli formalitas di jalan utama dan membiarkan blind spot Batang Agam tetap gelap gulita, selama itu pula kita sebenarnya sedang memfasilitasi kehancuran moral di kota kita sendiri.

Cahaya atau Maksiat?
Sederhana saja: mau sampai kapan kita menutup mata? Membersihkan sampah kain itu perkara mudah, tapi membersihkan stigma “tempat mesum” dari Batang Agam itu butuh waktu bertahun-tahun.

Pemerintah Kota Payakumbuh harus memilih: mau memberikan cahaya agar warga merasa aman, atau tetap membiarkannya gelap agar para pelaku maksiat tetap merasa nyaman? Jangan sampai kita didaulat sebagai kota maju, tapi mengurus keamanan di sejengkal tanah wisata saja kita gagal total.

Nyawa sebuah kota bukan pada aspalnya, tapi pada rasa aman dan kehormatan warga yang berpijak di atasnya. Dan hari ini, kehormatan itu sedang berceceran di pinggir Batang Agam.

Penulis:
Muhammad Genta Saputra
(Mahasiswa Program Studi Ilmu Hadis, UIN Sunan Ampel Surabaya, asal Mungka. Menaruh minat besar pada riset isu sosial, budaya, dan keagamaan.)