Sejarah

Kebebasan yang Semu: M. Natsir dan Politik Orde Baru

Kebebasan yang Semu: M. Natsir dan Politik Orde Baru

Pascajatuhnya rezim Orde Lama pada kurun waktu 1966–1967, kepemimpinan nasional beralih kepada Letnan Jenderal Soeharto, yang kemudian dikukuhkan sebagai Presiden Republik Indonesia melalui TAP MPRS No. XXXIII/MPRS/1967. Kendati baru resmi dilantik pada 1967, Soeharto sesungguhnya telah memegang kendali penuh atas stabilitas keamanan dan roda pemerintahan sejak Maret 1966 berbekal Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) dari Presiden Soekarno. Salah satu langkah strategis yang dirintis Soeharto pada Agustus 1966 adalah mengupayakan normalisasi hubungan diplomatik dengan Malaysia, yang sebelumnya retak akibat konfrontasi “Ganyang Malaysia”.

Croonenburg, Pos yang Hilang di Muara Salido

Croonenburg, Pos yang Hilang di Muara Salido

Angin berkesiur dari sebalik rindang dan rapatnya dedaunan. Di muara, di tempat sungai memuarakan perjalanannya kepada laut, ombak berdebur di muara Salido, memiuh sesekali menghempas pada batu gadang. Suaranya datang dan surut, kadang tenggelam di antara desir daun, benturan perkakas, dan seruan orang-orang yang sedang memindahkan batang-batang kayu gadang dari dalam hutan.

Vasily Malygin: Petualang Rusia, Selundupan Senjata, dan Perlawanan Rakyat Lombok 1893

Vasily Malygin: Petualang Rusia, Selundupan Senjata, dan Perlawanan Rakyat Lombok 1893

Dunia sekarang sedang menyorot Vladimir Putin, Presiden Rusia kelahiran St. Petersburg 7 Oktober 1952 yang konon terpancur ke dunia dari rahim seorang wanita yang dalam keadaan sekarat hampir dikubur secara massal oleh pasukan Hitler di tahun 1940-an. Bagi kebanyakan orang Indonesia, mungkin konflik Rusia-Ukraina yang sedang terjadi terasa jauh, dapat dikesan dari tidak adanya demo solidaritas untuk rakyat Ukraina sebagaimana sedang terjadi di banyak kota Eropa dan Amerika (termasuk Amerika Latin).

Riwayat Perjalanan Intelektual Rangkayo Chailan Sjamsoe Membela Hak Perempuan

Riwayat Perjalanan Intelektual Rangkayo Chailan Sjamsoe Membela Hak Perempuan

Nama wanita gempal yang duduk di tengah dalam foto ini adalah Rangkayo Chailan Sjamsoe Datoek Tomanggoeng (selanjutnya: [Rangkayo] Chailan Sjamsoe). Gelar ‘Rangkayo’ di awal namanya jelas mengindikasikan bahwa dia berasal dari kalangan berada dan terpelajar dari Minangkabau. Memang dalam masyarakat matrilineal terbesar di dunia itu, gelar ‘rangkayo’ hanya diperuntukkan bagi wanita. Sedangkan gelar ‘Datoek Toemanggoeng’ di akhir namanya adalah nama adat suaminya, Landjoemin Datoek Toemanggoeng, seorang intelektual Minangkabau dan penggiat pers pribumi di Batavia di awal abad 20.